
MAROKOK
OLEH Rino Warisman Putra
Universitas Negeri Padang (UNP) berada di Provinsi Sumatra Barat, secara kultural berada di wilayah budaya Minangkabau, yang dicitrakan kental Islamnya dan turunannya yang senantiasa berada di lingkar keislaman kuat, sudah barang tentu menjalar hingga akar rumput pada kelompok-kelompok kecil nan konsen akan Islam.
Jika kita ulik bagaimana budaya keislaman antar fakultas di UNP, pastilah kita akan mendapatkan kesimpulan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) itu adalah peringkat pertama soal tingkat kesalihan. Jika kita boleh menyebut, masuk ke FMIPA, rasa-rasanya berada di Tanah Arab atau hanya perasaan kita saja.
Tulisan ini beranjak dari surat pembaca yang ditujukan kepada redaksi Ganto beberapa tahun lalu, yang memuat bagaimana kegelisahan seorang mahasiswa non-muslim meminta agar UNP membangun gereja dan ia berharap direalisasikan. Betapa pun begitu, ia memastikan permintaannya ini akan terhalang tembok besar bernama mayoritas.
Rubrik halaman pembaca di koran kampus Ganto ini, memang dikhususkan untuk memberikan ruang kepada siapa saja mahasiswa UNP yang berkeluh kesah tentang apapun di UNP, yang kadang jua dengan nama pengirimnya anonim. Namun berjalan waktu, rubrik surat pembaca sudah bertebaran di mana-mana, di kolom-kolom komentar media sosial dan di tembok-tembok bangunan UNP, yang tak jarang membuat birokrat kepayahan mengecat ulang.
Terlalu naif rasanya kita hanya menyoal pembangunan gereja di UNP saja. Dengan skala yang lebih luas, Indonesia, rasanya sudah acap kali kasus-kasus penghentian paksa, penggerebekan, penutupan, penyegelan dan segala macamnya menimpa gereja-geraja di Indonesia.
Data yang dikeluarkan oleh Universitas Canberra di Australia bahkan mencatat 1.000 gereja dibakar setelah Soeharto lengser pada tahun 1998. Pergolakan politik dan konflik SARA yang saat itu menemui titik puncaknya menjadi salah satu pemicu. Barangkali kita sepakat, minoritas akan senantiasa menjadi korban dari konflik dan pergolakan SARA.
Menyigi bagaimana kampus lain di Indonesia, Universitas Indonesia (UI) yang menjadi representatif kampus Indonesia sekalipun hingga kini belum jua membangun gereja di dalam kampusnya. Sungguh sebuah perbandingan yang rasa-rasanya sangat menohok membandingkan dua kampus itu: UNP-UI. UI seyogianya sudah mencanangkan membangun lima rumah ibadah di dalam lingkungan kampus sejak 2022 lalu namun sampai sekarang belum ada kabar terbaru mengenai pembangunan itu. Dan pastinya kita berpikir selalu begini: "UI saja yang besar tidak ada gereja apalagi kampus lain."
Saya rasa kutipan ini sudah dapat menggambarkan bagaimana realistisnya orang Indonesia atau hanya sekadar berlindung di balik kata realistis itu saja. Entahlah. Namun demikian, jika dikata nihil, tidak juga, Universitas Pancasila tercatat sebagai universitas pertama yang membuka lima rumah ibadah sekaligus di dalam lingkup kampusnya.
Kampus-kampus di Indonesia, biasanya hanya akan membangun rumah ibadah di dalam kampus jika kampus itu adalah kampus yang memang khusus belajar tentang teologi dalam hal ini Ilmu Teologi selain Islam.
Provinsi Sumatra Barat hari ini adalah Sumatra Barat yang tak jauh bedanya dengan 50 tahun lalu, yang masyarakat masih menganggap cewek merokok adalah wanita yang binal, pria bertato adalah preman, atau orang berjenggot adalah pria alim. Dan yang paling menohok adalah ketidaksanggupan pemerintah menerima kenyataan jika Kepulauan Mentawai adalah bagian dari Provinsi Sumatra Barat setidaknya itu tergambar dalam UU No 17 tahun 2022.
Provinsi Sumatra Barat yang gubernurnya dielu-elukan sebagai seorang Buya (panggilan untuk seseorang paham agama) dan mengaku egaliter justru memiliki kekentalan feodal yang lebih kuat dari keraton-keraton di Jawa? Bagaimana orangnya yang menilai orang dari apa rokoknya, bagaimana perantau-perantaunya yang senantiasa menyempatkan membeli emas imitasi jika pulang ke kampungnya. Sumatra Barat hari ini yang dikatakan sebagai sebuah provinsi yang beradat dan berlembaga itu saban waktu selalu terjebak dalam romantisme masa lalu dan itu saja yang dibanggakan sampai angin lembut dari Yaman datang.
Membangun gereja di UNP atau kampus lainnya, sama saja Anda memakan buah kecubung dan menikmati secangkir kopi di Mekkah tahun 1511 Masehi.