PNT 2025 Ditutup dengan Seruan Perlawanan: “Seni Kita Bukan Hiasan, Seni Kita Adalah Senjata”

RIBUAN PENGUNJUNG BERDOA UNTUK ALMARHUM AFFAN KURNIAWAN

Minggu, 31/08/2025 21:38 WIB
Pekan Nan Tumpah 2025 resmi ditutup Sabtu (30/8/2025) di Fabriek Padang dengan suasana khidmat dalam iringan doa untuk almarhum Affan Kurniawan (21 tahun), seorang pengemudi ojek daring yang meninggal dunia setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) milik Brimob Polda Metro Jaya.

Pekan Nan Tumpah 2025 resmi ditutup Sabtu (30/8/2025) di Fabriek Padang dengan suasana khidmat dalam iringan doa untuk almarhum Affan Kurniawan (21 tahun), seorang pengemudi ojek daring yang meninggal dunia setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) milik Brimob Polda Metro Jaya.

Padang, sumbarsatu.com — Rangkaian Pekan Nan Tumpah (PNT) 2025 resmi ditutup tadi malam, Sabtu (30/8/2025) di Fabriek Padang dengan suasana khidmat dalam iringan doa untuk almarhum Affan Kurniawan (21 tahun), seorang pengemudi ojek daring yang meninggal dunia setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) milik Brimob Polda Metro Jaya.

Peristiwa itu terjadi saat aparat menghalau massa demonstrasi di kawasan Rumah Susun Bendungan Hilir II, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025). Affan sempat dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), namun nyawanya tidak tertolong.

Alih-alih ditutup dengan pesta atau sambutan pejabat, festival dua tahunan ini ditutup oleh Direktur Festival, Mahatma Muhamad, dengan reflektif kemanuasiaan dengan menyinggung kondisi sosial-politik terkini di Indonesia.

“Festival ini ditutup dengan keberpihakan. Dengan kemarahan. Dengan tekad. Karena seni sejati tidak pernah netral: ia berpihak pada korban, pada yang dibungkam, pada tubuh yang diremukkan,” ujar Mahatma Muhamad dalam pidato penutupan.

Malam penutupan yang diwarnai dengan ajakan mengheningkan cipta untuk mengenang korban, sekaligus menyalakan tekad perlawanan melalui seni. Mahatma menekankan bahwa Pekan Nan Tumpah bukan sekadar ruang pertunjukan, tetapi wadah bagi warga untuk menyuarakan kritik dan memperjuangkan keadilan.

“Pulanglah dengan ingatan. Pulanglah dengan keberanian yang tidak akan padam. Karena selama rakyat masih ditindas, seni tidak akan pernah selesai, dan kita tidak akan pernah diam,” serunya di hadapan lima ribuan pengunjung malam itu.

Dengan suara serak dan berat, Mahatma Muhammad mengatakan, malam ini juga kita umumkan bahwa perlawanan dibuka. Ingatlah wajah Affan. Ingat darah di jalanan. Ingat suara rakyat yang dipukul mundur. Ingat, dan jangan tunduk. “Karena seni kita bukan hiasan. Seni kita adalah senjata. Sebagaimana yang teman-teman lihat dari hari pertama sampai hari terakhir, begitu banyak karya seni di galeri dan di panggung pertunjukan yang melakukan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan di negeri ini.”

“Teman-teman, pulanglah dengan keberanian. Pulanglah dengan ingatan. Pulanglah dengan api. Karena bangsa ini masih menunggu kita untuk melawan,” tutupnya.

Sebelumnya, Kata Kusuma, Sekretaris PNT 2025, menuturkan, hinggal malam penutupan ini, total penoton yang teregistrasi mencapa 20.000 pengunjung sejak dibuka pada 24 Agustus.

“Malam penutupan ini, jumlah paling banyak, mencapai 6.500 orang. Kita menyaksikan antrean panjang pengunjung di ruang-ruang lokasi acara yang kita bagi jadi 3 zona. Ini diluar ekspektasi kita. Tapi kita telah antisipasi dengan penambahan kota dan memperpanjang durasi giat,” terang Karta Kusuma.

Tahun ini, Pekan Nan Tumpah mengusung tema “Seni Murni Seni Terapan Seni Terserah: Jika Kamu Paham Semua Ini, Mungkin Kamu Salah Paham” dengan melibatkan 38 pameris individu maupun kelompok, 15  pelaku seni pertunjukan, 7  sekolah, 8  sanggar seni tradisi, 7 mitra, serta 13 narasumber diskusi seni. Selama sepekan penyelenggaraan, 24–30 Agustus 2025, tercatat sekitar 20.000 pengunjung, angka tertinggi sepanjang sejarah festival yang dilaksanakan sejak 2011.

Selain program utama, Pekan Nan Tumpah 2025 juga diperkaya dengan rangkaian pra-festival seperti diskusi kelompok terpumpun (DKT) sebanyak 7  seri yang dimulai dari rentang Maret–Juni 2025, Nan Tumpah Masuk Sekolah (NTMS) dengan kunjungan ke 15 sekolah di 8  kabupaten/kota, serta Ke Rumah Nan Tumpah (KRNT) sebagai bentuk kurasi partisipatif Pekan Nan Tumpah 2025 bersama sanggar-sanggar seni tradisi.

“Tujuh seri DKT telah diterbitkan menjadi buku babon untuk membaca peta jalan perkembangan gagasan dan inisiatif seni kontemporer Sumatra Barat dan Indonesia dengan judul Sebelum Dunia Punya Istilah, Kami Sudah Melakukannya di Halaman Rumah yang dieditori Nasrul Azwar,” kata Fajri Chaniago. Ketua Pelaksana PNT 2025.

Y Vujji El Ikhsan, Manager Panggung sekaligus Stage Manager Pekan Nan Tumpah 2025, menyampaikan bahwa pengelolaan ruang pertunjukan secara keseluruhan telah dipersiapkan dengan baik seperti menyiapkan Zona A yang khusus untuk pertunjukan eksibisi dan agenda pelatihan. Kemudian Zona B adalah panggung pertunjukan yang kedua, Zona C adalah panggung pertunjukan ketiga, terakhir Zona D adalah ruang galeri pameran.

“Namun, tingginya jumlah penonton yang melebihi target semula membuat panitia menghadapi beberapa kendala teknis, terutama dalam mengarahkan penonton dari satu Zona ke Zona lainnya. Serta dalam pengaturan komposisi tempat duduk agar setiap penonton dapat menikmati pertunjukan dengan nyaman,” kata Y Vujji El Ikhsan.

Desi Fitriana, Koordinator Layanan dan Unformasi menjelaskan bahwa sebelum dimulai PNT 2025, panitia telah membatasi tiket registrasi sebanyak 1000 (seribu) tiket untuk masuk ke area festival. Namun antusias yang begitu tinggi dari penonton benar-benar tak bisa dibendung selama penyelenggaraan.

Srikandi Putri, Sekretaris Pelaksanaan Pekan Nan Tumpah 2025, menegaskan bahwa edisi kali ini tidak kami tutup dengan kemeriahan sebagaimana biasanya. Kami memilih menutupnya dengan refleksi, mengingat situasi negara yang sedang tidak baik-baik saja.

Sejarah festival ini dimulai dari penyelenggaraan pertamanya pada tahun 2011, saat Komunitas Seni Nan Tumpah masih berfokus pada upaya membangun organisasi dan produksi pementasan seni pertunjukan secara sederhana.

Dengan melibatkan beberapa kelompok seni, festival tersebut menarik perhatian publik penonton baru dan komunitas seni lainnya yang merasa penting akan sebuah keberadaan festival seni yang dikelola secara mandiri. Sejak saat itu, tata kelola penyelenggaraan Pekan Nan Tumpah terus diupayakan berkembang, baik dari segi skala penyelenggaraan maupun keragaman karya seni yang ditampilkan.

Pada penyelenggaraan-penyelenggaraan berikutnya, festival ini mulai melibatkan seniman dari berbagai disiplin seperti seni rupa, seni pertunjukan, musik, dan film. Selain itu, kehadiran seniman dari berbagai daerah di Indonesia semakin memperkaya karakter festival ini sebagai ruang yang inklusif dan terbuka terhadap keberagaman ekspresi seni, isu dan perspektif yang ditawarkan festival ini.

Seiring perkembangannya, karakter interaktif festival, di mana masyarakat lokal juga dilibatkan dalam proses kreatif dan pementasan, menciptakan keterhubungan antara seniman dan penonton yang lebih dekat.

Penutupan menghadirkan dua pertunjukan utama, yaitu pementasan teater dari Komunitas Seni Hitam Putih dengan judul Surat Tanpa Alamat dan Komunitas Jaguank menghadirkan musik-tari.

PNT 2025 menjadi catatan penting dalam perjalanan festival yang bukan sekadar perayaan, melainkan juga perlawanan. Festival ini akan kembali hadir pada 2027. ssc/ivan



BACA JUGA