Khotbah Perajut Kekacauan

Minggu, 31/08/2025 10:51 WIB
Femmy Sutan Bandaharo

Femmy Sutan Bandaharo

 

OLEH Femmy Sutan Bandaro (seniman filsuf)

Filsuf masuk ke dalam lokasi khotbah. Kemudian men-set berbagai peralatan (laptop, tutup kepala, sepatu, baju dllnya). Setelah selesai men-set peralatan, filsuf kemudian berdiri di belakang podium dan segera memulai khotbahnya.

Khotbah 1

Bismillahirahmanirrahim. Salam peradaban!

Filsuf menghidupkan musik dari laptop. Kemudian terdengar suara musik. Filsuf kemudian melakukan gerakan tubuh mengikuti suara musik. Salah satu gerakan tubuh filsuf adalah gerakan sambah kepada penonton. Gerakan tubuh filsuf terus berlangsung sampai musik selesai dan filsuf sampai berada di belakang podium.

Socrates pernah berpendapat, bahwa ada tiga level pemikiran manusia yang dapat diketahui dari kebiasaannya membicarakan apa. Apakah membicarakan orang lain,  membicarakan kejadian, atau membicarakan gagasan.

            .(sembari menggerakan tangan kanan bertingkat ke atas)

Pendapat Socrates tersebut tidak lagi relevan dengan perkembangan. Ada 2 level lagi di atasnya yang perlu ditambahkan. Khotbah ini berada di level keempat, yaitu, membicarakan diri sendiri.

Saya, Femmy Sutan Bandaro, Antropolog yang belakangan mengaku filsuf. Sampaikan kebohongan secara sederhana, lakukan berulang-ulang, hingga akhirnya menjadi kebenaran yang absolut. Jadi, saya adalah seorang filsuf teman-teman. 

Teman-teman yang berbahagia …

Gerakan yang saya lakukan di awal tadi,jangan terlalu berlebihan memberikan penilaian. Jangan. Karena bukan berasal dari puluhan kali latihan, proses berbulan-bulan, apalagi tahunan. Bukan. Prosesnya instan.  Hanya beberapa pekan. Secara persiapan yang terjadi di belakang panggung, hanyalah dramaturgi oplosan.

membuka tirai hitam, kemudian berjalan ke depan 3 diagram sembari melingkari dramaturgi oplosan

Saya adalah seorang filsuf yang menjelma menjadi seniman. lebih tepatnya ‘seniman dalam rangka’! Dalam rangka Pekan Nan Tumpah 2025 tentunya. Jadi, harap diberi pemakluman. Gerakan saya tadi dimaksudkan sebagai sambah dan salam, tersebab tak bisa berjabat tangan. Juga sebagai pemanasan bagi saya sebelum memberikan khotbah, yang semoga teman-teman berkenan mendengarkan.

Menurunkan level diri dari filsuf menjadi seniman, memang harus saya lakukan. Mencoba menapak ke bumi agar tidak terjebak dalam angan-angan. Manggarik-garik-an badan dan tangan sarupo tu, apo lo sariknyo. Setelah saya coba mempersiapkan, kironyo ndak sarupo angan-angan. Sampai tabik paluah dingin, hingga mandamam.

Teman-teman yang berbahagia …

Izinkanlah saya sebagai filsuf berkhotbah, bahwasanya kekacauan itu perlu diurai. Bukan disulam. Menyulam justru akan menambah kekacauan.

(sembari melingkari Kurasi Sebagai seni Menyulam Kekacauan)

Atas dasar itu,

saya di sini menawarkan tiga buah diagram, yang dapat digunakan untuk menggurai kekacauan. Kita mulai dengan sebuah pertanyaan. Kapan terjadinya kekacauan? Ketika kita membuat anggapan, bahwasanya keadaan berantakan dan mengalami kekacauan.

Membaca gagasan Pekan Nan Tumpah 2025, dapat disimpulkan Komunitas Seni Nan Tumpah telah membuat kekacauan. Karena berani-beraninya membuat anggapan bahwa berbagai disiplin berantakan dan keadaan mengalami kekacauan.  

Padahal kita semua tahu bahwa keadaan kita saat ini baik-baik saja. Makanya kita dengan senang hati, riang gembira hadir di Pekan Nan Tumpah 2025. Kitapun berbahagia karenanya.

Teman-teman yang berbahagia …

Saya juga pernah membuat anggapan bahwasanya keadaan mengalami kekacauan. Tepatnya pada Pekan Nan Tumpah ke-6. Kenapa tidak. Disebut Pekan Nan Tumpah 2021. Tertulis Pekan Nan Tumpah 2021. Tapi dilaksanakan pada tahun 2022. Dan bagaimanapun, penyebab kekacauan, ada pada yang membuat anggapan.

Pada kesempatan yang tidak direncanakan, saya melakukan tabayyun dengan salah seorang kurator. Saya mendapat penjelaskan kenapa demikian adanya, karena Pekan Nan Tumpah dirancang sebagai festival 2 tahunan.  Sejatinya, Pekan Nan Tumpah 2021, memang akan dilaksanakan pada tahun 2021. Tapi kondisi tidak memungkinkan. Pandemi Covid-19 tahap 2 salah satu yang menyebabkan. Pekan Nan Tumpah 2021, dengan terpaksa dilaksanakan pada tahun 2022. Sayapun akhirnya menjadi paham.

Berbekal paham itu saya menanti-nanti Pekan Nan Tumpah 2023 di tahun 2023. Ternyata tidak ada. Saya menduga kenapa tidak ada, karena Komunitas Seni Nan Tumpah pada tahun 2023, berusia 13 tahun. Mungkin menghindari angka 13 yang dianggap sebagai angka sial. Tapi, angka 13 dianggap angka sial, hanyalah dalam tradisi barat sana. Dalam tradisi timur jelas tidak. Jika dianggap sial, mustahil  kiranya 13 dijadikan nama sebuah kampung di Bukittinggi sana. Dalam tradisi timur angka yang dianggap sial adalah angka 12. Bukankah kita sering mendengar ungkapan celaka 12?

Saat ini kita menyaksikan Pekan Nan Tumpah 2025, yang dilaksanakan pada tahun 2025. Pekan Nan Tumpah 2023 tetap tidak ada. Berdasarkan pengalaman empiris itu, pertanyaan Pekan Nan Tumpah 2035: apakah masih ada atau telah menjadi mitos? Seorang teman memberikan jawaban: Telah menjadi sampah! Menurut saya, wallahualam. Bisa jadi yang akan ada, adalah Pekan Nan Tumpah 2034, dan Pekan Nan Tumpah 2036.  

(sembari melingkari tulisan Pekan Nan Tumpah 2035: ….) 

 

Teman-teman yang berbahagia …

Membaca gagasan Pekan Nan Tumpah 2025, ada hal keren yang dapat ditemukan. Poinnya adalah Pekan Nan Tumpah “tidak menawarkan keteraturan”. Yesss! Suka saya akan poin ini. Jadi, Pekan Nan Tumpah tidaklah perlu, dipaksakan menjadi festival dengan keteraturan 2 tahunan. Karena kita tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa depan. Kita hanya bisa membuat perencanan. Intinya, kalau lah panuah, tumpahkan! Kapan perlu diadakan sekali sebulan. Dimana kita semua telah fasih untuk melakukannya, dengan persiapan salimcam. Gokil.

Terlepas dari itu, saya mengucapkan terimakasih kepada Pekan Nan Tumpah 2025, lewat panggilan terbuka pameran seni. Gegara itu, saya menjadi terpancing memproduksi karya seni yang saya pamerkan ini. Pekan Nan Tumpah 2025 telah memproduksi saya sebagai produser sebuah karya seni. Asyik!

(sembari melingkari siapa yang memproduksi produser….)

Teman-teman yang berbahagia …

Menjadi melenceng kemana-mana khotbah saya. Mari kita kembali ke tiga diagram pengurai kekacauan.

Sebagai seorang filsuf, saya memiliki kebiasaan membuat diagram saat diskusi pada halaqah-halaqah kecil, dengan teman-teman di lingkaran hidup saya. Jadi khotbah ini, adalah siaran ulang realitas dalam bentuk lain.

(sembari melingkari siaran ulang …)

Mencocok-cocokkan dengan tema pekan nan tumpah 2025, yaitu seni murni, seni terapan, dan seni terserah, masing-masing diagram saya tulis di bawahnya kata “murni”, “terapan”, dan “terserah”.

(sembari menggaris masing-masing kata saat diucapkan)
Seni saya pisahkan. Seni saya tempatkan di sini.
(menunjuk tulisan Art).
Seni saya tempatkan di sini,
(menunjuk dada kiri) di hati.

 

Teman-teman yang berbahagia …

Sering terdengar nasehat, “Kita harus mengubah mindset agar kehidupan menjadi lebih baik”. Dengan itu saya bersepakat. Tapi bukan perkara mudah. Ada 3 elemen lain yang saling terkait dengan mindset.

(sembari melingkari ulang Mindset)
Pertama, environmental set
(sembari melingkari ulang environmental set)

 

Lingkungan hidup manusia. Terdiri dari lingkungan alam, lingkungan binaan, dan lingkungan sosial.

(sembari menulis kata alam, binaan, sosial)

Lingkungan alam adalah lingkungan ciptaan Tuhan, yang senantiasa mencari keseimbangan. Lingkungan binaan adalah lingkungan fisik, yang telah ada campur tangan manusia. Lingkungan sosial, adalah aturan-aturan yang berlaku, baik tertulis ataupun tidak. 

Kedua, human needs set.

(sembari melingkari ulang human needs set)  

Kebutuhan hidup manusia. Kebutuhan hidup ini, terdiri dari kebutuhan bilogis, kebutuhan sosial, dan kebutuhan psikologis.

(sembari menuliskan kata biologis, sosial, psikologis)

Ketiga, cultural set.

(sembari melingkari ulang cultural set) 

Tindakan berpola. Baik tindakan berpola sebagai umaro, atau orang-orang yang sedang menjabat. Tindakan berpola sebagai ulama, atau orang-orang hebat, dan Tindakan berpola sebagai rakyat badarai, atau kebanyakan umat.

(sembari menulis kata Umaro, Ulama, Umat)

Teman-teman yang berbahagia …

Mindset adalah pangana. Dibangun, dari pengalaman panjang intekasi manusia dengan lingkungan. Bahkan telah tertanam di DNA. Mindset, kemudian digunakan kembali untuk membaca lingkungan, dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup, yang mendorong terwujudnya tindakan berpola. Tindakan berpola, sedikit banyaknya, akan berdampak, terhadap terjadinya perubahan lingkungan.

(sembari membuat panah melingkar)

Jadi, mindset secara perlahan dapat berubah, jika 3 elemen lainnya, juga mengalami perubahan. Tapi tetap tidak bisa serta-merta. Tidak semua kita dapat move on, menerima kenyataan. Sering kita mendengar, kami dulu ndak sarupo tu do. Kami dulu? 

(Sembari melingkar ulang 3 elemen lainnya)

Lalu bagaimana diagram ini bisa digunakan untuk mengurai kekacauan? Kekacauan itu terjadi, karena manusia-manusia dengan mindset yang berbeda, dengan cara membaca lingkungan berbeda, dengan kebutuhan hidup berbeda, dengan tindakan berpola yang berbeda, hadir pada ruang dan waktu yang sama. Dimana manusia-manusia itu, sedang memperebutkan sumber daya yang sama. Setidaknya sumber daya kendali dan penguasaan wacana.

Secara umum, itulah penyebab terjadinya konflik, di berbagai belahan dunia. Baik itu di dunia nyata, ataupun di dunia maya. Pandemi Covid-19, dunia maya menjadi hal yang tidak terhindarkan, dan turut berpengaruh terhadap dunia nyata.

Kaitan dengan konflik, ada yang memilih melakukan migrasi dengan baibo ati dan dendam yang tertanam di dada terhadap kampung halaman. Memilih left dari group WA, atau baganyi indak bakatantuan.

Ada juga yang melakukan perperangan sampai titik darah penghabisan.

Jadi diagram ini dapat digunakan untuk memetakan di stantang mananya terjadi kekacauan. Apakah di sini, (sembari menunjuk mindset)

di sini, (sembari menunjuk environmental set) di sini, (sembari menunjuk human needs set) atau di sini. (sembari menunjuk cultural set) Atau disini? (sembari meletakkan tangan di dada). Jika ditelisik secara mendalam, akar dari kekacauan cendrung berkenaaan dengan sumber daya yang jadi rebutan.

Teman-teman yang berbahagia …

Perubahan ke arah yang lebih baik tentu harus kita wujudkan. Dengan tangan bagi umaro atau para pejabat untuk menata lingkungan yang lebih bermartabat. Dengan memberi nasehat yang bijak bagi ulama atau orang hebat, untuk dihinap-menungkan oleh pejabat, sekaligus mendidik kebanyakan umat. Bagi kebanyakan umat. dengan merapalkan doa yang tidak melaknat. Sehingga dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, tindakan berpola kita tidak saling sikut-menyikut atau saling menjatuhkan.

Alangkah lebih baiknya, mau membagi sumber daya sebagaimana pernah terjadi di sebuah negeri pada suatu masa. Di sebuah negeri, yang orang-orangnya dengan iklas membagi pangan, sandang, papan, bahkan menyerahkan pasangan.

Untuk mengatasi konflik, solusi konkrit berdasarkan praktek baik selama ini sederhana saja sebenarnya. Kita hanya butuh waktu yang cukup untuk saling mendengar sebagai hal utama. Kemudian berbicara lebih fokus dengan kejelasan tema, serta dilakukan dengan tidak tergesa-gesa. Dalam rangka itu kita perlu segera meluangkan waktu untuk mewujudkannya.

Teman-teman yang berbahagia …

Saat ini perubahan antar generasi begitu cepatnya. Saat ini 5 generasi dengan kurenah dan kakobeh berbeda sedang hidup bersama. Baik itu generasi baby boomer, X, Y, Z, dan generasi Alfa. Kita sedang berada di sebuah zaman, dimana pengelompokkan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kesamaan ras dan suku bangsa. Telah bertambah variasinya. Dimana pengelompokkan masyarakat turut ditentukan oleh algoritma.

Meski variasinya bertambah, tetap memiliki banyak kesamaan. Sama-sama berebut mikrofon untuk bicara. Sama-sama tidak mau mendengarkan apa yang dibicarakan. Tapi tetap ada bedanya. Ada generasi yang ngotot-ngototan sampai urek mariah managang. Ada genarasi yang mudah patang arang dan memilih menghilang. Kenapa itu terjadi, mungkin karena begitu banyaknya sekolah atau pelatihan public speaking. Tapi rasanya belum banyak ditemukan sekolah atau pelatihan public listening.

Persoalan public listening atau mendengarkan suara publik, kita percakapkan pada diagram selanjutnya.

Teman-teman yang berbahagia …

Diagram yang di bawahnya bertulisan terap-an adalah diagram yang digunakan untuk mengurai kekacauan akan hak publik, dan bagaimana semestinya sebuah badan publik bekerja. Badan publik harus memiliki kemauan dan kemampuan mendengarkan suara publik. Publik yang dinamis dengan berbagai variasi pengelompokkannya, juga harus berani speak up, menyuarakan apa yang menjadi kebutuhan.

(sembari melingkari ulang publik yang dinamis)

Sehingga kemudian, dapat diketahui dan dibedakan apa yang menjadi kebutuhan publik dan apa pula yang hanya sebatas keinginan publik.

(sembari membuat panah dari publik yang dinamis ke kebutuhan publik dan melingkari ulang kebutuhan publik)

Kebutuhan publik  perlu disandarkan kepada ketersediaan sumber daya.  

(sembari membuat panah dari kebutuhan publik ke ketersedian sumber daya, dan melingkari ulang ketersedian sumber daya)

Kemudian dilanjutkan dengan kajian yang menyeluruh dan mendalam.  

(sembari membuat panah dari ketersedian sumber ke kajian …, dan melingkari kajian…)

Sehingga didapatkan kesimpulan yang komprehensif dengan rekomendasi

  • ‘kita tanak sebanyak baras yang ada, atau ubi pelo kita sungkah-kan’ ; atau
  • terpaksa ‘harus maangok kalua badan’.

Untuk kajian ini, Komunitas Seni Nan Tumpah sampai membuat formula keren. Yaitu “saling mengerti sampai pukul dua dini hari”. Formula keren yang beresiko tinggi. Jadi saya edit saja formula keren ini menjadi “saling mengerti dimulai pukul dua dini hari sampai wal asri”.

(sembari mencoret sampai, menulis kata ‘dimulai’ dan kata ‘wal asri’)

Sebab ba’da isya sampai sepertiga malam, adalah waktu untuk sel tubuh memperbaiki dirinya sendiri. Berikan hak tubuh untuk istirahat, karena alun ado kito di dunia ko, karajo lah labiah dulu ado.

Teman-teman yang berbahagia …

Rekomendasi kajian yang menyeluruh dan mendalam haruslah ditindaklanjuti dengan perbaikan dan penyesuaian regulasi. Jika regulasinya telah ada. Jika belum ada, maka perlu dibuat sebuah regulasi berdasarkan rekomendasi.

(sembari membuat panah dari kajian ke perbaikan regulasi …, dan melingkari perbaikan regulasi …)

Regulasi selanjutnya diimplementasikan dalam pembentukkan struktur organisasidan pelembagaannya.

(sembari membuat panah dari perbaikan regulasi …, ke Struktur Organisasi dan pelembagaan …)

Pelembagaan maksudnya melaksanakan dengan konsisten dan persisten, berlanjut menjadi kebiasaan, hingga menjelma menjadi naluri.

Agar kemudian program dan kegiatan yang dilaksanakan menjadi relevan dengan kebutuhan publik.

(sembari membuat panah dari Struktur organisasi … ke Program yang relevan, lanjut panah ke kebutuhan publik).

Masing-masing tahapan mesti senantiasa dikonsultasikan oleh Badan Publik kepada publik, dengan berupaya untuk saling mendegarkan.

(sembari membuat panah dari lingkaran 6 buah di luar ke lingkaran publik yang dinamis).

Teman-teman yang berbahagia …

Kira-kira itulah yang dikatakan tata kelola kelembagaan badan publik yang dinamis. Sistem kerja diagram ini kata seorang senior saya, dalam istilah Poulo Fraire disebut sebagai sistem kerja “aksi refleksi”. Meski demikian Mak Mael pernah berkata:

Play back: "... Lebih sering kiranya yang hadir itu pareso dibawo ka tangah. Bukannyo nenek moyang lah bapasan untuak menemukan ilmu pengetahuan yang mesti dilakukan itu raso dibawo naiak, pareso dibawo turun. Nan di mukasuik raso dibawo naiak tu adalah fakta lapangan yang kemudian dijadian pembicaraan semesta. Pareso dibawo turun itu adalah bacaan nan ndak jaleh asa-nyo tu, yang mungkin lah manjadi pembicaraan semesta, bisa dilatak-an sajo di catatan kaki ...'

Jadi sebagai penghormatan kepada sejarah, saya tempatkan saja informasi sang senior di catatan kaki. Karena … sebelum dunia punya istilah, kita telah melakukannya di halaman rumah.

(sembari melingkari sebelum dunia … dstnya)

Yang terpenting adalah kepada semua Badan Publik, sistem kerja diagram ini, TERAPKAN!

(sembari menuliskan huruf K dan tanda “!”)

Teman-teman yang berbahagia …

Kita lanjut ke diagram yang di bawahnya bertulisan ‘terserah’.

Diagram ini, agak berat bagi saya mempercakapkan. Jadi jika ada kekeliruan mohon setelah ini diingatkan. Karena saya akan berbicara tentang perintah Tuhan. Dari sekian banyaknya perintah Tuhan, Saya mengambil enam buah saja, untuk dipercakapkan.

Pertama,

Tuhan memerintahkan manusia untuk mengkreasikan ciptaan-Nya. Untuk itu Tuhan telah membekali manusia keterampilan yang harus diasah sedemikian rupa. Apakah itu dengan mancontoh ka nan sudah, batuah ka nan manang. Lewat sekolah dan pelatihan. Atau menyimak quote-quote Mak Mael. Terserah!

(sembari mencentang atau menggaris kata ‘terserah’)

Hal terpenting adalah bagaimana keterampilan itu terus diasah. Keterampilan, Itulah yang disebut Art, atau Seni.

(membuat panah dari God ke Art)

Kedua, Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-sukuagar saling mengenal, menghargai perbedaan dan membangun masyarakat yang harmonis.

(membuat panah dari God ke Community)

Ketiga,

Tuhan memerintahkan manusia untuk tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa. Melakukan pengolahan bersama yang dalam hal ini disebut dengan kebudayaan.

(membuat panah dari God ke Culture)

Keempat,

Tuhan memerintahkan untuk membangun peradaban agar ada keteraturan.

(membuat panah dari God ke Civilization)

Kelima, Tuhan memerintahkan untuk memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan.

(membuat panah dari God ke Humanity)

Keenam,

Tuhan memerintahkan agar manusia jangan melakukan kerusakan di bumi. Manusia harus berupaya menjaga keseimbangan semesta.

(membuat panah dari God ke The balance of universe)

 Teman-teman yang berbahagia …

Individu manusia ketika mencoba mengkreasikan ciptaan Tuhan akan sadar bahwa dia tidak bisa sendiri. Dibutuhkan peran orang lain baik berupa otoritas, skil, pengetahuan, uang, dan lain sebagainya. Dengan adanya kebutuhan peran orang lain turut mendorong terciptanya masyarakat yang harmonis.

(membuat panah dari Art ke Community)

Masyarakat yang harmonis, pada gilirannya melakukan pengolahan atau belajar bersama, menghasilkan berbagai produk bersama, dan diwariskan pada generasi berikutnya. Itulah yang disebut dengan kebudayaan.  Secara khusus kebudayaan, akan dipaparkan lebih lanjut pada khotbah kedua.

(membuat panah dari Community ke Culture).

Teman-teman yang berbahagia …

Kebudayaan sebagaimana tadi saya sampaikan, kemudian dibakukan dengan tujuan menciptakan keteraturan. Pembakuan, itulah yang disebut dengan peradaban. Pembakuan yang dilakukan manusia itu sifatnya babuhua sintak. Bukan babuhua mati yang merupakan kuasa Tuhan. Namun adakalanya saat kita mengkreasikan ciptaan Tuhan, kita menafikan peran serta orang lain. Kita tak jarang mengatakan apa yang kita buat hasil kerja sendiri tanpa adanya bantuan pihak lain. Mengabaikan community, hasil kerja bersama kita klaim sebagai kerja pribadi.

(Mencoret community dan Culture)

Bahkan lebih parah, apa yang kita klaim sebagai kerja pribadi, konsep kerja dan bentuk yang dihasilkan, kita paksakan menjadi standar bersama.  Memaksakan pembakuan standar itu menjadi babuhua mati. Haram hukumnya jika diotak-atik. Sebentuk upaya menjadi Tuhan.  Astagfirullah.

Pada titik inilah kiranya, kenapa seorang Ibnu Khaldun dan juga Arnold Toynbee berpendapat bahwa ketika peradaban dibangun, di saat itu pulalah jalan kehancurannya diciptakan. Karena pembakuan kita paksakan menjadi babuhua mati, yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

(sembari membuat panah dari civilization ke humanity).

Teman-teman yang berbahagia …

Gagasan Pekan Nan Tumpah 2025, rasa-rasanya berupaya menggugah kesadaran kita bahwa pembakuan yang telah ada, perlu dipercakapkan. Karena pembakuan yang merupakan buatan manusia bukan babuhua mati. Tapi babuhua sintak yang dapat dirombak mengikuti perkembangan zaman. Dengan tetap menghormati para pendahulu yang pada masanya telah membuat tatanan. Sehingga memang, kerja-kerja yang kita lakukan dengan niat memanusiakan manusia benar-benar dapat diwujudkan

Dalam rangka menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian, jangan juga sampai kebablasan. Sering kita mendengar seorang penghafal filosofi para filsuf berbicara tentang environmental etik. Atas nama kemanusian, kita kemudian mengabaikan hak asasi air, hak asasi tanah, hak asasi udara, dan hak asasi berbagai mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Sejatinya, saat kita memperjuangkan nilai kemanusiaan, kita harus menyandarkannya kepada keseimbangan semesta. Agar kita tidak terkejut jika semesta melakukan keseimbangan sendiri yang kemudian kita sebut sebagai bencana.

(membuat panah dari humanity ke the balance of universe).

Teman-teman yang berbahagia …

Adalah sosok Thanos dalam film Avengers yang berniat menjaga keseimbangan semesta. Menurutnya, manusia harus dilenyapkan saja. Tapi Thanos lupa, bahwa manusia adalah bagian dari semesta. Maka dari itu, dalam rangka menjaga keseimbangan semesta, Kita, hanya butuh waktu yang cukup untuk saling mendengar sebagai hal utama. Kemudian berbicara lebih fokus dengan kejelasan tema, serta dilakukan dengan tidak tergesa-gesa.

Terjaganya keseimbangan semesta, memberikan suasana kondunsif bagi kita dalam mengkreasikan ciptaan Tuhan. Menghasillkan Novelty, Dengan tetap ber-community, ber-culture, ber-humanity, dan tetap menjaga The balance of universe. Sehingga bumi, tetap lestari. Asyik!

Kita jeda sejenak,  izinkan saya bersiap untuk melakukan khotbah kedua.

Sembari itu kita simak quote mak Mael, berikut ini.

filsuf mendekati laptop dan memutar rekaman quote Mak Mael.

Playback:

“Dulu, nan tuo manahan ragam, nan mudo menangguang rindu. Tu dulu. Kini, nan tuo manahan rindunyo, samantaro nan mudo, lah manangguang ragam. Gitu ngku, gitu nakan”.

“A jadi, jangan hanya karena berselisih kaji, lalu surau kita tinggalkan!”    

Khotbah 2:

Teman-teman yang berbahagia …

Kebudayaan dapat dikelompokkan menjadi 3. Pertama, kebudayaan suku bangsa yang tidak dibatasi oleh batas fisik kewilayahan. Kedua, kebudayaan umum lokal yang dibatasi oleh batas fisik kewilayahan. dan Ketiga, kebudayaan nasional yang masih sebatas angan-angan.

(sembari menulis ‘suku bangsa’, ‘umum lokal’, ‘nasional’)

Lalu, Kebudayaan yang mananya yang akan kita majukan? Di lain waktu kita perbincangkan.

Teman-teman yang berbahagia …

Kebudayaan dalam bahasa Inggrisnya disebut Culture. Berasal dari bahasa latin yaitu colere yang memilki arti mengolah tanah. Mengolah tanah, juga memberi kesadaran bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Ketika mengolah tanah, terjadilah olah pikir, olah rasa, dan olah tubuh.  Olah pikir, olah rasa, dan olah tubuh, Oleh seorang tokoh bangsa yang sudah dilupakan gerakan nyata dan pemikirannya, hal tersebut dijadikan fondasi utama dalam konsep pendidikan di sekolah keren yang dibangunnya, yang saat ini telah menjelma menjadi rest area di titik tengah Pulau Sumatera.

Colere sendiri berasal dari Minangkabau  yang konon kabarnya merupakan pusat peradaban dunia. Kisah ini relatif panjang uraiannya. Jadi akan saya sampaikan pada kesempatan khotbah berikutnya.

Teman-teman yang berbahagia …

Dapat dibaca di sini kebudayaan itu, terdiri dari 7 unsur, dan punya 3 wujud. 7 unsur itu bukanlah entitas yang terpisah. Di ketiga wujud kebudayaan, 7 unsur itu akan menyublim di dalamnya. Analoginya begini. Air nama senyawa kimianya adalah H20. Terdiri dari unsur H 2bagian, Unsur 0 1bagian. Kalau unsur-unsur tersebut terpisah, bukan air namanya.

Tapi memang, berbagai catatan etnografi yang ada, 7 unsur kebudayaan itu diurai terpisah. Unsur kebudayaan menjelma menjadi kategori. Inilah yang membuat salah kaprah. Sebab, kategori mestinya beroperasi pada pranata sosial. Pranata sosial adalah sistem norma khusus atau spesifik dimana 3 wujud kebudayaan akan menjadi satu kesatuan. Pranata sosial ini sangat banyak jumlahnya. Sangat banyak.

Hanya dalam peraturan terkait kebudayaan pranata sosial dikelompokkan menjadi 10 buah saja. Sering disebut sebagai 10 objek pemajuan kebudayaan yang dapat dibaca di sini. Kenapa hanya 10 buah, saya sejauh ini belum menemukan naskah akademisnya. Jika ruang dan waktunya ada, hal ini perlu dipertanyakan dan dipercakapkan ulang.

Kemudian dari aspek kebendaan disebut sebagai cagar budaya yang terdiri dari benda, situs, dan kawasan, dengan ketentuan telah berusia lebih dari 50 tahun. Meski  bersifat kebendaan, tetap harus dilihat sebagai pranata sosial, yang 2 wujud lainnya terendapkan di dalamnya.

Dapat diungkap, Lewat pelacakan 7 unsur kebudayaan yang menyublim dalam cagar budaya yang dimaksudkan. Atas dasar itu kenapa harus dipelihara, karena di dalam cagar budaya terkandung banyak ilmu pengetahuan yang luar biasa.

Teman-teman yang berbahagia …

Dari informasi langit yang saya dapatkan, saat ini berbagai peratuan negara terkait kebudayaan sedang dievaluasi. Ini terkait dengan salah satu janji pak Menteri setelah dilantik. Yaitu akan menyatukan berbagai peraturan tersebut dalam omnibus law kebudayaan. Sedang terjadi proses yang saya sebut sebagai defragmentasi. Mengisolasi yang rusak atau keliru, mengumpulkan yang terpecah dan yang terus bertambah,  kemudian menyusun dan merekatnya sehingga teroptimalkan kinerja demi kemajuan bangsa.  

Ada baiknya kita semua berpartisipasi dalam proses defragmentasi itu. Sehingga berbagai kebutuhan kita sebagai publik dapat terfasilitasi oleh Omnibus Law Kebudayaan. Jika tidak, persiapkanlah diri untuk tacikuah di nan tarang. Tidak boleh marah, kalau jalan dialiah urang lalu, cupak diganti urang manggaleh.

Teman-teman yang berbahagia …

Selanjutnya izinkan saya membuat disclaimer perihal khotbah. Seorang teman mengingatkan bahwa khotbah ada syarat dan rukunnya. Jika yang saya lakukan tidak memenuhi syarat dan rukun khotbah, mohon dimaafkan. Khotbah ini terjadi, karena Aser, Mahatma, dan Nessya serta seluruh panita sukses meracuni saya.

Kemudian perihal kenapa saya belakangan mengaku filsuf. Kisahnya dari obrolan dengan seorang teman. “Femmy Sutan Bandaro seniman ya?”, kata sang teman. Saya jawab bukan. “Budayawan?”, Sang teman melanjutkan pertanyaan. “Juga bukan. Saya filsuf”, jawab saya kepada sang teman. Sejak itu menjadi keterusan.

Tapi bagaimanapun, setiap individu manusia memiliki filosofi hidup. Maka setiap kita adalah filsuf. Filsuf tentu berbeda dengan para penghafal filosofi para filsuf.  Beda. Mereka itu yang hafal filosofi dari Socrates sampai Mak Mael. Hafal mereka. Jadi biarkan saja para penghafal itu suatu saat menghafal filosofi hidup kita. Jika karenanya membuat mereka bahagia, asalkan tidak membuat orang lain teraniaya.

Teman-teman yang berbahagia …

Apapun yang kita lakukan di muka bumi ini adalah investasi kita sebagai bekal menuju kampung akhirat. Semoga saja, kita semua dapat bertemu di sorga. Untuk itu kita juga harus rajin-rajin datang ke surau. Alhamdulillah, di Pekan Nan Tumpah 2025, surau justru yang datang mendekati kita.

Jadi kepada teman-teman, sempatkanlah datang ke The Real surau. Semoga dengan itu kita sampai pada level pemikiran manusia  yang ke-lima. Tidak lagi membicarakan apa-apa, hanya mengimani dan melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan. Jika konsisten dan persisten kita lakukan, syukur-syukur menjadi suri tauladan, seperti layaknya para nabi. Wallahualam.

Teman-teman yang berbahagia …

Kaitan dengan investasi. Dua lembar kertas ini dan orat-oretnya adalah manuskrip. Salah satu objek pemajuan kebudayaan. Di sini saya ingin menawarkan investasi kepada teman-teman, sampai 3 September 2025.

Setelah itu harga akan berubah. Jadi, manuskrip ini saya tawarkan dengan harga 2 milyar rupiah saja. Investasi yang tidak mahal tentunya.

Sebab 50 tahun ke depan manuskrip ini akan menjadi cagar budaya, yang harganya tak terhingga. Jika ada yang berminat, silahkan hubungi panitia.

Sebagai penutup khotbah, jika yang saya sampaikan mengandung kebenaran, itu datangnya dari Tuhan. Jika ada kekeliruan, itu datangnya dari saya sebagai manusia yang penuh dosa dan kesalahan. Demikian saja, kita lanjutkan ke ritual berikutnya.

Salam peradaban!

Filsuf menghidupkan musik dari laptop. Kemudian mengganti pakaian. Setelah siap mengganti pakaian, filsuf kemudian berjalan ke arah sketsel yang ada bacode-nya sampai berdiri membelakangi sketsel, dan kemudian berorasi.

Khotbah ini disampaikan bersamaan dengan penampilan seni penulis pada Jumat, 29 Agustus dalam Pekan Nan Tumpah 2025 di Fabriek Padang 

INI VIDEO PERFORMING ARTS FEMMY SUTAN BANDARO: 

https://youtu.be/oC7i6uNgWuk

https://youtube.com/shorts/R-j6GPYNjgw?feature=share



BACA JUGA