Samsuar Sampono Marajo
Biduak sinaru di pulau Pagai
Ilang dilamun lamun ombak
Ilang sibongsu dek parangai
Ilang di mato lupo tidak
Sijujuang, sumbarsatu.com—Dendang Malalak itu dilantunkan oleh Samsuar Sampono Marajo (76). Napas tuanya seakan menjemput masa lalu di antara anak randai Ranah Sijunjuang yang tengah berkemas, menyiapkan latihan di sasaran di Jorong Gantiang, Nagari Sijunjung, Kamis malam (18/7/2019).
Dendang Malalak dulu dilantunkan saat turun ke sawah, kutiko basiang, baluluak. Istilahnya Samsuar untuk pahambek gunjiang pandingin-dingin paneh.
"Daripada kita membicarakan keburukan orang lain, lebih baik bekerja sambil berdendang," ucapnya.
Saat menyiangi sepiring sawah, biasanya ada lima sampai sepuluh orang, laki-laki dan padusi. Petani itu sambut-menyambut mendedangkan Malalak, layaknya berbalas pantun.
Samsuar mencontohkannya:
Lai den tanam labu
Den belokan daun rimbun rampak pulo
Lai den tidu den lolokan
Dalam kalimun nampak juo
Kemudian dendang itu dibalas, misalnya:
Lai den cubo den ratoan
Dari Piaman ka Malalak
Lai den cubo den lupokan
Oman ilang kurena tampak
Seni tradisi yang berangkat dari kehidupan masyarakat agraris di Nagari Sijunjuang itu, menurut Samsuar, sempat terhenti pada Maso Bergolak atau Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)--pergolakan Sumatera Tengah terhadap Pemerintah Pusat karena sentralistik dan kemudian dijawab oleh Presiden Soekarno dengan operasi militer 17 Agustus yang dimulai pada 17 April 1958.
"Maso bergolak urang dilarang berkelompok dek Tentara Pusek," tutur Samsuar.
Larangan tersebut berimbas pula terhadap Dendang Malalak. Petani yang menyiangi sawah bekerja dalam cemas. Suara mereka seperti terbenam ke dalam lumpur sawah. Tinggal bisik-bisik di antara batang padi.
Pasca PRRI barulah mereka kembali menyiangi sawah dengan gurau dan dendang.
Selain bertani, di masa mudanya Samsuar juga pemain randai. Ia kerap membawakan peran padusi.
"Maso saisuak padusi tidak diperbolehkan barandai. Taposalah jantan kareh nan bakain sampiang dan tingkuluak, he-he-he," kata Samsuar.
Buku cerita jadi salah satu untuk menambah kreativitas membuat lirik Dendang Malalak yang serupa pantun itu. Pun untuk menyusun kata-kata dalam cerita randai. Biasanya, Samsuar membeli buku cerita berbahasa Minang seperti Anggun nan Tongga dan Cindur Mato di hari pekan.
"Buku cerita berbahasa Minang itu, dulu sering kami baca dengan didendangkan," kata Samsuar.
Menurut Zulkani Alfian, Pendiri Randai Ranah Sijunjuang, Dendang Malalak dilantunkan terakhir kali menyiangi sawah di Sijunjuang pada pertengahan 1990-an.
"Saat saya masih kecil, orang masih berdendang Malalak di sawah. Setelah itu tak ada lagi," aku Zulkani Alfian, Kepala Jorong Gantiang, Nagari Sijunjuang dan juga anaknya Samsuar Sampono Marajo.
Sarjana Teater ISI Padang Panjang lulusan 2012 itu menambahkan, Dendang Malalak pernah diangkatnya dalam pertunjukan randai kreasi Kaba Puti Junjung bersama Kelompok Randai Ranah Sijunjuang di Padang dan Padangpanjang pada 2014 lalu.
"Dendang Malalak itu nadanya tinggi dan melengking," ucapnya.
Kini, Samsuar hanya mendendangkan Malalak di sela-sela aktivitasnya menggembalakan kerbau, palapeh taragak kepada masa lalu yang didengarkan oleh binatang sahabat karib masyarakat agraris itu.
Dan sekali-kali saat ada yang memintanya berdendang, seperti malam ini, di antara anak muda yang bersiap latihan randai sambil menggengam android, ia pun dengan suka hati melakukannya.
Nafas tua Samsuar seakan menyusun ruang imajiner, piring-piring sawah dan manusia yang bekerja di dalamnya, tanpa keluh kesah, umpat serapah, dan litak yang dijinakan dengan Malalak. SSC/thendra
