Hasil Survei Global: Indonesia Negara Bermoral Tertinggi di Dunia, AS Paling Rendah

Senin, 23/03/2026 10:55 WIB
Sumber: Spring 2025 Global Attitudes Survey dari Pew Research Center

Sumber: Spring 2025 Global Attitudes Survey dari Pew Research Center

Jakarta, sumbarsatu.com — Lanskap moralitas global memperlihatkan kontras tajam antarnegara. Laporan Spring 2025 Global Attitudes Survey dari Pew Research Center menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kepercayaan moral tertinggi di dunia.

Dilansir dari cnbcindonesia, sebanyak 92 persen responden di Indonesia meyakini bahwa sesama warga negaranya bermoral, angka yang setara dengan Kanada. Posisi ini menempatkan keduanya di puncak, jauh di atas rata-rata global.

Sebaliknya, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara dalam survei ini dengan mayoritas penduduk yang menganggap warga senegaranya tidak bermoral. Laporan ini memberikan gambaran yang komprehensif mengenai bagaimana persepsi sosial dan kepercayaan publik terbentuk di berbagai lapisan masyarakat global.

Di bawahnya, negara-negara seperti Swedia dan India mencatat angka tinggi di kisaran 88 persen, diikuti Australia (85 persen), Meksiko dan Jepang (83 persen), serta Inggris (82 persen). Bahkan hingga Belanda dan Korea Selatan, persepsi positif masih dominan di atas 75 persen.

Namun, tren mulai berubah ketika memasuki kelompok menengah. Negara seperti Kenya, Jerman, Nigeria, hingga Argentina menunjukkan penurunan tingkat kepercayaan, dengan angka persepsi moral berada di kisaran 70 persen.

Penurunan tajam terlihat di Eropa Barat dan Amerika Latin. Italia (59 persen) dan Prancis (55 persen) mulai menunjukkan retaknya kepercayaan sosial. Sementara Brasil dan Turki hampir terbelah seimbang, dengan masing-masing hanya mencatat 51 persen persepsi positif.

Puncak kontras terjadi di Amerika Serikat. Negara ini menjadi satu-satunya dalam survei di mana mayoritas responden—53 persen—menilai sesama warga negaranya tidak bermoral. Persepsi positif di AS justru berada di posisi minoritas, hanya 47 persen.

Data ini memperlihatkan bahwa faktor demografi dan ekonomi bukan penentu utama persepsi moral. Negara beragam seperti Indonesia dan India justru unggul, berdampingan dengan negara maju seperti Swedia.

Sebaliknya, Amerika Serikat menunjukkan bagaimana polarisasi politik, fragmentasi sosial, dan konflik identitas dapat menggerus kepercayaan publik. Perbedaan pandangan bahkan dipengaruhi oleh afiliasi politik, dengan kecenderungan penilaian negatif lebih tinggi di kalangan tertentu.

Fenomena pembelahan ini juga mulai tampak di negara lain seperti Brasil, Turki, Prancis, dan Italia—menandakan gejala global melemahnya kohesi sosial.

Indonesia: Anomali Positif di Tengah Dunia yang Retak

Di tengah fragmentasi global, Indonesia tampil sebagai anomali positif. Tingginya kepercayaan antarwarga menunjukkan masih kuatnya kohesi sosial, bahkan dalam masyarakat yang sangat majemuk.

Laporan ini pada akhirnya bukan sekadar potret moralitas, melainkan cermin kepercayaan—tentang bagaimana sebuah bangsa memandang dirinya sendiri di tengah tekanan zaman. ssc/mn

Lebaran

BACA JUGA