Angku Yus Datuak Parpatiah
Sungai Batang, sumbarsatu.com—Langit sore di Nagari Sungai Batang, Agam, tampak tenang pada Sabtu, 28 Maret 2026. Angin dari Danau Maninjau berembus pelan, seolah membawa kabar duka yang menyusup perlahan ke rumah-rumah warga.
Di nagari yang telah lama dan banyak melahirkan tokoh-tokoh besar Minangkabau itu, seorang penjaga ingatan kolektif adat dan budaya Minangkabau berpulang, Angku Yus Datuak Parpatiah dalam usia 87 tahun. Ranah Minangkabau kehilangan sosok penting dalam ekosistem kehidupan adat dan kebudayaan Minangkabau.
Ia mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 16.30 WIB, di tanah kelahirannya sendiri, Sungai Batang, tanah yang selama puluhan tahun ia jaga bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai ruang hidup adat, sebagai medan pengabdian, dan sebagai panggung sunyi tempat ia menuturkan nilai-nilai Minangkabau kepada dunia.
Kabar itu menyebar cepat, dari satu rumah ke rumah lain, dari satu telepon ke telepon berikutnya. Bukan sekadar berita kehilangan seorang tokoh, melainkan kabar tentang runtuhnya satu tiang penyangga ingatan budaya Minangkabau.
Bagi banyak orang Minangkabau, nama Angku Yus Datuak Parpatiah bukan sekadar identitas seseorang. Ia adalah suara. Suara yang pernah mengalun dari kaset-kaset lawas di ruang tamu, di warung kopi, di lapau-lapau kecil, hingga di perantauan jauh. Suara yang membawa petuah, kritik, dan tawa dalam satu tarikan napas.
Sejak 1980 hingga 2015, ia menghasilkan tak kurang dari 130 judul rekaman karya. Jumlah yang tidak hanya mencerminkan produktivitas, tetapi juga kegigihan dalam merawat adat di tengah perubahan zaman. Karya-karya seperti “Di Simpang Duo”, “Maniti Buiah”, dan “Kasiah Tak Sampai” menghidupkan drama dalam bahasa yang akrab. Sementara komedi seperti “Rapek Mancik” dan “Bakaruak Arang” menghadirkan cermin sosial yang jenaka sekaligus menyentil.
BACA: Yus Datuak Parpatiah Calon Penerima Anugerah Tokoh Adat dari Kemendikbud dan Ristek
Namun, mungkin yang paling membekas adalah monolog-monolognya—pidato adat yang dibungkus dengan pepatah dan petitih Minang. Dalam suaranya yang lantang, ia mengurai kerumitan adat menjadi sesuatu yang sederhana, mudah dipahami, tetapi tetap dalam. Ia tidak sekadar berbicara; ia mengajarkan cara berpikir.
Di situlah ia menjadi lebih dari sekadar seniman. Ia menjelma menjadi guru adat bagi banyak orang—termasuk mereka yang tak pernah duduk langsung di hadapannya.
Yusbir—nama kecilnya—lahir pada 7 April 1939 di Sungai Batang. Masa kecilnya dihabiskan di kampung, sebelum kemudian merantau mengikuti jejak banyak orang Minangkabau. Dari Sumatera Utara, Jambi, hingga akhirnya ke Jakarta, ia menjalani hidup sebagai pedagang, sebagai perantau yang mencoba bertahan di tengah kerasnya kehidupan.
Namun, seperti banyak kisah besar lainnya, panggilan hidupnya tidak berhenti pada urusan ekonomi. Di tengah kesibukan berdagang, ia mulai merintis jalan lain—jalan kebudayaan.
Pada 1980, ia mendirikan Balerong Grup, sebuah kelompok yang awalnya beranggotakan karyawan-karyawan usaha konveksinya. Dari sana lahir karya pertamanya, “Di Simpang Duo”. Tak disangka, karya itu mendapat sambutan luas. Kaset-kasetnya beredar, tidak hanya di Ranah Minang, tetapi juga ke berbagai komunitas perantau di seluruh Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.
BACA: Anugerah Kebudayaan Bagi Yus Datuak Parpatiah Direspons Positif
Ironisnya, di balik popularitas itu, ia tidak menikmati keuntungan besar. Sistem “jual habis” yang ia jalani dengan perusahaan rekaman membuatnya tidak mendapatkan royalti. Namun, bagi Angku Yus, barangkali itu bukan perkara utama. Ia seperti sedang mengerjakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar keuntungan—ia sedang menyebarkan pengetahuan.
Pada pertengahan 1990-an, arah karyanya berubah. Ia mulai fokus pada monolog adat. Di sinilah ia menemukan bentuk ekspresi yang paling utuh. Dengan bahasa yang sederhana namun tajam, ia membahas berbagai persoalan: dari hubungan keluarga, kepemimpinan adat, hingga krisis moral dalam masyarakat.
Pidatonya tidak menggurui, tetapi mengajak berpikir. Ia bisa menyelipkan humor di tengah kritik, menghadirkan kehangatan di tengah nasihat yang keras. Dan mungkin karena itu, suaranya terasa dekat—tidak berjarak, tidak mengintimidasi.
Di era digital, rekaman-rekaman itu menemukan kehidupan baru. Potongan-potongan pidatonya beredar di media sosial, ditonton oleh generasi yang bahkan mungkin tidak pernah mengenal kaset. Di sana, Angku Yus tetap hidup—melintasi zaman, melampaui medium.
Sekitar satu dekade terakhir, ia memilih kembali ke kampung halaman. Di tepi Danau Maninjau, ia menjalani masa tua dengan cara yang tidak sepenuhnya sunyi. Rumahnya menjadi tempat singgah—bagi mereka yang ingin belajar, berdiskusi, atau sekadar mendengar cerita.
Ia masih sering diundang untuk berceramah, menghadiri forum-forum adat, bahkan menjadi konsultan bagi pemerintah daerah dalam urusan kebudayaan. Di usianya yang senja, semangatnya tidak surut. Ia tetap berjalan, tetap berbicara, tetap mengingatkan.
Pada 2023, ia menerbitkan buku berjudul Menyingkap Wajah Minangkabau: Paparan Adat dan Budaya. Sebuah upaya lain untuk merawat pengetahuan, kali ini dalam bentuk tulisan. Ia bahkan merencanakan karya lanjutan—tentang sejarah nagari dan metode pendidikan adat di surau.
Seolah waktu tidak pernah benar-benar cukup bagi seseorang yang hidupnya didedikasikan untuk menjaga sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Penghargaan datang, meski mungkin terlambat dibandingkan dengan apa yang telah ia berikan. Ia menerima anugerah kebudayaan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, juga berbagai penghargaan lain dari lembaga kebudayaan dan akademik.
Namun, penghargaan terbesar barangkali tidak pernah tercatat dalam bentuk piagam. Ia hidup dalam ingatan orang-orang—dalam cara mereka berbicara, dalam cara mereka memahami adat, dalam cara mereka memaknai hidup sebagai orang Minangkabau. Ia adalah bagian dari tradisi yang hidup.
Kini, suara itu telah berhenti. Namun, gema dari apa yang pernah ia ucapkan masih berputar—di ruang-ruang kecil, di perangkat digital, di ingatan kolektif yang sulit dihapus.
Di Sungai Batang, malam perlahan turun. Lampu-lampu rumah menyala, dan orang-orang masih berdatangan. Di dekat Masjid Syekh Muhammad Amrullah, tempat ia akan dimakamkan, pada Minggu 29 Maret 2026, tanah telah disiapkan. Besok pagi, tubuhnya akan kembali ke bumi. Tetapi kisahnya tidak.
Angku Yus Datuak Parapatiah telah pergi, tetapi ia meninggalkan sesuatu yang tidak mudah hilang: cara melihat dunia, cara memahami adat, dan cara merawat identitas di tengah perubahan.
Dan mungkin, di antara suara angin dari Danau Maninjau yang terus berembus, kita masih bisa mendengar sisa-sisa suaranya—pelan, tetapi tetap tegas—mengingatkan bahwa adat bukan sekadar warisan, melainkan tanggung jawab.ssc/mn
