-
Padang, sumbarsatu.com—Pada sebuah pagi yang panas mulai badangkang di Padang, kabar itu datang seperti gema dari jauh, dari tanah suci Makkah, Arab Saudi, yang selama ini menjadi pusat spiritual sekaligus intelektual dunia Islam.
Sebuah buku novel sejarah tentang Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, ulama besar asal Minangkabau yang jejaknya mengakar hingga ke Masjidil Haram, tahun 2026 terbit dalam bahasa Arab di Arab Saudi dengan judul Riwayāt al-Syaikh Aḥmad bin ‘Abd al-Laṭīf al-Khatib.
Buku itu bukan sekadar terjemahan. Ia adalah transformasi, baik secara bahasa, identitas, maupun konteks pembaca. Penulisnya Khairul Jasmi.
“Iya, saya diberi informasi oleh keturunan beliau, Khalid, buku tersebut sudah terbit di Saudi dalam bahasa Arab dicetak sebanyak 5.000 eksamplar,,” ujar Khairul Jasmi kepada sumbarsatu, Selasa (24/3/2026).
Buku ini mula-mula hadir di Indonesia pada 2023 melalui penerbit Republika, dengan judul Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, Guru Para Ulama Indonesia. Sebuah novel sejarah yang berusaha menjembatani fakta dan imajinasi dalam membaca sosok ulama yang selama ini lebih sering hadir dalam catatan akademik ketimbang narasi populer.

Khairul Jasmi
Namun, ketika menyeberang ke Asia Barat (Timur Tengah), buku itu mengalami penyesuaian penting. Judulnya berubah menjadi Riwayāt al-Syaikh Aḥmad bin ‘Abd al-Laṭīf al-Khatib. Kata riwayāt sendiri menandai genre: novel. Sebuah pilihan yang menegaskan bahwa kisah ini tidak semata biografi kaku, tetapi narasi hidup yang bergerak.
Nama tokohnya pun disesuaikan. “Saya diminta untuk memohon izin mengubah nama Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi menjadi Ahmad bin Abdulatif Al Khatib, karena ‘Al Minangkabawi’ tidak familiar di Saudi,” kata Khairul.
Di balik perubahan itu, tersimpan negosiasi identitas: antara asal-usul dan keterbacaan global. Buku versi Arab ini diterbitkan oleh Ajnan, bagian dari kelompok penerbit Khayal (Yatakhayloon), dan dicetak di Riyadh, Arab Saudi pada 2026, dengan oplah awal 5.000 eksemplar. Sebuah angka yang menunjukkan keyakinan penerbit terhadap daya jangkau kisah ini di dunia Arab.
Secara visual, sampulnya menghadirkan dialog lintas geografi. Warna coklat klasik dengan sentuhan keemasan mendominasi. Di satu sisi, tampak Ka’bah dan sosok pengembara di atas unta—ikon lanskap Arab. Di sisi lain, berdiri menara masjid yang merujuk pada kampung halaman sang ulama di Minangkabau. Di antara keduanya, sebuah kapal layar tua—simbol perjalanan panjang lintas samudra.
Sampul itu seperti metafora tentang seorang anak nagari yang menyeberang batas, lalu kembali sebagai gema. Narasi pada sampul belakang buku mempertegas arah kisahnya. Ia dibuka dengan gambaran puitik:
Dari kabut putih pegunungan Sumatera, muncul seorang pemuda yang ditakdirkan untuk naik ke mimbar Masjidil Haram…
Kalimat ini menjadi pintu masuk ke perjalanan seorang ulama yang tidak hanya menguasai fikih, tetapi juga ilmu falak, matematika, hingga persoalan ekonomi seperti hukum mata uang—sesuatu yang pada zamannya menjadi fondasi penting bagi praktik transaksi.
Dalam novel ini, Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi digambarkan bukan hanya sebagai pengajar di Masjidil Haram, tetapi juga sebagai pembaharu pemikiran. Ia membersihkan praktik keagamaan dari apa yang dianggapnya sebagai penyimpangan, sekaligus membangun tradisi intelektual yang kelak melahirkan banyak ulama besar dari Nusantara.
Sebagai imam dan khatib Masjidil Haram, serta pengajar mazhab Syafi’i, posisinya bukan hanya simbolik. Ia adalah pusat otoritas keilmuan. Dari mihrab itu, pengaruhnya menyebar—menembus batas geografis, hingga kembali ke kampung halaman dalam bentuk murid-murid yang membawa gagasan pembaruan.
Bagi Khairul Jasmi, menulis sosok ini bukan perkara mudah. Ia harus menelusuri sumber-sumber sejarah yang tersebar, sekaligus mengisi celah dengan pendekatan naratif. Di titik inilah novel bekerja: bukan menggantikan sejarah, tetapi menghidupkannya.
“Saya berusaha keras menelusuri fakta dari sumber terpercaya, lalu mengisi kesenjangan dengan penelitian dan studi,” sebutnya.
Hasilnya adalah sebuah karya yang mengaburkan batas antara dokumentasi dan fiksi, sebuah pendekatan yang memungkinkan pembaca merasakan denyut kehidupan tokohnya, bukan sekadar mengetahui.
Sebagai wartawan senior asal Nagari Supayang, Tanahdatar, Khairul Jasmi memang dikenal produktif menulis lintas genre: cerpen, puisi, hingga novel. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia menunjukkan konsistensi pada penulisan biografi ulama Minangkabau.
Karya-karyanya seperti Inyiak Sang Pejuang: Syekh Sulaiman Arrasuli, kisah Syekhah Rahmah el Yunusiyyah, hingga Syekh Ibrahim Musa Parabek menjadi bagian dari upaya merawat ingatan kolektif tentang tradisi intelektual Minangkabau.
Dalam konteks itu, terbitnya buku ini di Arab Saudi bukan sekadar capaian personal, melainkan juga peristiwa kultural: pengakuan bahwa narasi ulama Nusantara layak hadir dalam percakapan global. Di ujungnya, kisah ini bukan hanya tentang sebuah buku yang berpindah bahasa. Ia adalah tentang perjalanan balik—dari Minangkabau ke Makkah, lalu kembali lagi dalam bentuk yang berbeda.
Seperti kapal layar di sampulnya, kisah Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi terus berlayar, melintasi waktu, membawa ingatan tentang seorang guru—yang suaranya, seperti ditulis dalam buku itu, tetap bergaung di lorong-lorong sejarah.
Menuju Sastra Global
Terbitnya novel Riwayāt al-Syaikh Aḥmad bin ‘Abd al-Laṭīf al-Khatib ini menarik perhatian Sudarmoko, peneliti sastra sekaligus dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Sudarmoko
Menurutnya, selama ini Khairul Jasmi dikenal sebagai penulis novel biografi tokoh-tokoh asal Minangkabau atau Sumatera Barat. Sejumlah karyanya mengangkat nama-nama seperti Inyiak Canduang, Roehana Kuddus, Rasuna Said, dan Rahmah el Yunusiyyah. Novel biografis, kata dia, tampaknya menjadi jalur eksplorasi yang secara konsisten dipilih Khairul Jasmi, sejalan dengan ketertarikannya sejak awal pada penulisan biografi.
Karya tentang Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi juga tidak lepas dari perhatian tersebut. Sosok ulama yang sangat dikenal luas ini berasal dari Minangkabau dan kemudian menjadi imam sekaligus pengajar di Arab Saudi. Ketokohannya dinilai telah menambah deretan kontribusi intelektual Minangkabau di tingkat global, bahkan hingga ke pusat-pusat keilmuan Islam.
“Penerjemahan dan penerbitan novel berbahasa Arab ini memiliki nilai penting, yaitu memperkenalkan kembali sosok ini kepada khalayak ramai di negara dan jazirah Arab. Buku ini menjadi alat diplomasi kebudayaan yang menunjukkan kemampuan, kepakaran, dan kualitas masyarakat Nusantara, yang tidak kalah dengan masyarakat di belahan dunia lain,” kata Sudarmoko, yang menuntaskan doktoralnya di Uniersitas Leiden, Belanda ini.
Ia menambahkan, sosok Ahmad Khatib merupakan teladan. Di tengah beragam pandangan terhadapnya, kerja keras dan proses panjang yang dijalani menunjukkan bahwa capaian besar hanya dapat diraih melalui ketekunan, kedalaman ilmu, dan dedikasi yang berkelanjutan.ssc/mn
