Dr. Eko Alvares Z., MSA, arsitek yang mencintai rumah gadang Minangkabau (Foto Febrianti)
Padang, sumbarsatu.com—Sumatera Barat kehilangan seorang arsitek dan ahli tata ruang kota yang mencintai rumah gadang Minangkabau. Pada Kamis (28/12/2017) pukul 17.02 WIB, Dr. Eko Alvares Z., MSA, meninggal dunia dalam usia 52 tahun di Rumah Sakit Umum M Djamil Padang karena sakit
Menurut Dial, salah seorang keluarga almarhum, sebelumnya, tubuh Eko Alvarez membutuhkan 32 kantong darah Gol B Rhesus+.
"Sampai pukul 03.00 malam dini hari tadi (Kamis), sudah masukj 6 kantong darah dari 32 kantong yang dibutuhkan untuk mengganti darah keseluruhan. Darah yang sudah terkumpul tak bisa digunakan karena rhesusnya berbedam. Kondisi semalam sempat menunjukan grafik membaik, tapi pagi tadi melemah lagi," kata Dial dalam pesan di WhatsAppnya, Kamis pagi.
Kepergian Eko Alvares meninggalkan duka mendalam bagi yang mengenalnya. Musfi Yendra, penggerak Domfet Dhuafa Singgalang, mengaku kehilangan sosok yang rendah hati dan penuh perhatian kepada yang kurang mampu.
Musfi menceritakan kisahnya saat ia membawa membawa 10 orang anak yatim dan miskin tamat SMA ke Univiversitas Bung Hatta (UBH). Mereka adalah anak-anak pintar yang tak lulus PTN, tapi ingin sekali kuliah, mau masuk PTS biayanya mahal.
"Saya memohon ke pihak UBH agar ke 10 anak ini bisa diterima beasiswa Bidik Misi di kampus tersebut. Almarhum Bapak Eko Alvares termasuk pejabat kampus yang mendukung usaha saya. Hingga akhirnya kesepuluh anak tersebut diterima dengan beasiswa Bidik Misi. Kini anak-anak tersebut sudah tamat dan bekerja, bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Semoga jadi ladang amal yang terus mengalir untuk almarhum Bapak Eko," kata Musfi Yendra
Eko Alvares lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 10 Maret 1965, sehari-harinya pengajar di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Bung Hatta (UBH), Padang.
Eko Alvares juga giat dalam menjaga kelestarian warisan budaya Minangkabau, dan merupakan Ketua Pusat Studi Konservasi Arsitektur (Pusaka) Universitas Bung Hatta. Eko juga memiliki perhatian pada mitigasi kebencanaan.
Patra Rina Dewi, Direktur Eksekutif Komunitas Siaga Tsunami (Kogami) Padang, mengatakan, Eko Alvares menaruh perhatian pada mitigasi kebencanaan.
"Belaiu salah seorang pendiri Kogami. Kami merasa sangat kehilangan," kata Patra Rina Dewi.
Eko Alvares menamatkan S1 Arsitektur dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung pada 1991, dan melanjutkan ke Magister di Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung selesai pada 1993. Program Doktor ia selesaikan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 2002.
Jabatan terakhirnya di UBH ialah Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Penjaminan Mutu selama 7 tahun, sejak 2008-2015. Selain itu, Eko sebagai Dewan Pendidikan Arsitektur, Ikatan Arsitek Indonesia (2014-2017), dan Kepala Pusat Studi Konservasi Arsitektur Jurusan Arsitektur UBH, dan banyak lagi.
Eko Alvares lahir di Kota Padang Panjang 10 Maret 1965. Keluarganya merantau ke Jawa Barat. Ayahnya seorang dokter. Setamat SMA, ia menghabiskan masa pendidikan tingginya di Kota Bandung.
Eko menaruh perhatian pada rumah gadang karena keunikan rumah adat Minang itu. Menurutnya, rumah gadang merupakan bangunan yang tahan gempa karena arsitekturnya memiliki keunikan dan tak menggunakan paku. Semua menggunakan pasak kayu.
"Desain bangunan rumah gadang menurut para ahli arsitektur merupakan kontruksi bangunan tahan gempa," katanya.
Dokter RSU M Djamil yang merawatnya, mendiagnosa sakit yang derita Eko Alvarez adalah tumor. Eko sempat menjalani operasi di sebuah rumah sakit di Jakarta pada November lalu.
"Benar, beliau sempat sakit dan sempat menjalani operasi," kata Humas Universitas Bung Hatta, Indrawadi Mantari. Selain itu, tambahnya, belakangan Eko juga sempat menjalani cuci darah di rumah sakit.
Jenazah Eko rencananya akan dimakamkan siang besok di kawasan Aie Dingin, Kecamatan Koto Tangah Padang, usai ibadah salat Jumat. Eko meninggalkan tiga orang anak. (SSC)