Seni Rupa di antara Pameran, Feed, dan Mesin

Pengantar Diskusi Seni Pameran Arek Lungga[1]

Rabu, 13/05/2026 05:56 WIB

OLEH Mahatma Muhammad[2]

FEBRUARI 2026 lalu, saat sedang berlangsung pameran Silotigo Rukun Paksa/Berakit-rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan di Ruang Temu Nan Tumpah, ada seorang mahasiswa yang ngobrol dan memperlihatkan foto lukisannya kepada saya. Dua minggu dikerjakan, ujarnya. Cat minyak. Ukuran lumayan besar. Bagus. Sungguh-sungguh. Setelah saya diam beberapa saat di depan foto lukisannya, ia bertanya: "Kalau iko diposting di Reels, kiro-kiro baa bang? Lai banyak viewsnyo dan yang suko?" celetuknya sambil bercanda.

Saya tidak menjawab langsung. Pertanyaan itu terlalu bercanda untuk dijawab cepat-cepat. Dan saya kira, terlalu serius untuk candaan yang diabaikan.

Inilah situasi yang sedang kita hadapi. Kita membuat karya, lalu bertanya apakah karya itu cukup scroll-stopping. Kita punya gagasan, lalu menimbang apakah gagasan itu cukup pendek untuk dijadikan caption. Kita berproses berbulan-bulan, lalu mendokumentasikannya dalam tiga puluh detik video. Dan kita menyebut semua itu sebagai ekosistem seni rupa kontemporer.

Mungkin memang begitu sekarang. Saya kira itu tidak salah. Zamannyo pulo mode tu kini. Saya sedang mencoba membaca ke mana kita sedang berjalan.

Arek dan Lungga

Arek dalam bahasa Minangkabau berarti erat, kencang, terikat kuat. Lungga berarti longgar, lentur, ada ruang gerak. Keduanya kata sifat tentang tali. Tentang ikatan. Dan pepatah yang dipilih kurator pameran ini, ko ka arek-arek bana, ko ka lungga-lungga bana, sesungguhnya adalah petunjuk praktis, cara kerja, bukan filosofi berkesenian yang artistiak untuak tulisan kuratorial. Kamu yang tahu tali lebih baik dari siapa pun adalah kamu yang paling tahu kapan harus menariknya dan kapan harus memberinya kelonggaran.

Saya suka pembacaan Raysha atas pepatah ini. Tapi dalam konteks hari ini, siapa yang sebenarnya sedang memegang tali itu? Jawaban yang tidak nyaman adalah: sering kali bukan seniman. Sering kali algoritma.

Feed bekerja berdasarkan engagement. Like, share, komentar, durasi tonton. Algoritma tidak membaca makna. Ia tidak tahu apakah karya Anda berisi kritik sosial yang sudah dipikirkan bertahun-tahun atau foto makan siang yang diedit tiga menit. Yang ia tahu adalah apakah orang berhenti lebih dari tiga detik, atau langsung scroll. Itu satu-satunya alat ukur.

Akibatnya ada tekanan yang nyata, meski halus, untuk membuat karya yang visually immediate: yang segera menangkap perhatian dalam format 1:1 atau 9:16, yang muat dalam thumbnail, yang bisa dipahami tanpa teks panjang. Pendeknya, karya yang ramah untuk jempol. Yang bisa dibaca sambil tiduran.

Tali itu, tanpa kita sadari, sudah berpindah tangan.

Mesin yang Tidak Punya Riwayat, Pameran dan Kehadiran

Sekarang soal mesin. Atau lebih tepatnya, AI generatif dan semua yang berjejal datang setelahnya, yang kemampuannya semakin mengejutkan setiap beberapa bulan.

Tahun lalu, dunia seni rupa sempat gaduh oleh satu fenomena yang sederhana tapi konsekuensinya tidak: foto bergaya Studio Ghibli yang bisa dibuat siapa saja hanya dengan satu kalimat perintah di ChatGPT. Bukan animator. Bukan ilustrator. Semua orang bisa menghasilkan visual dengan nuansa Miyazaki dalam hitungan detik. Media sosial penuh. Foto-foto profil medsos diganti berjamaah. Orang-orang bahagia. Para seniman dan ilustrator yang sudah bertahun-tahun belajar, berlatih, dan membangun gaya, marah. Sangat marah.

Miyazaki sendiri pernah bicara soal ini jauh sebelum fenomenanya sepopuler sekarang. Saat menyaksikan demonstrasi animasi berbasis AI, ia menyebutnya menyedihkan. Katanya, animasi seperti itu mencerminkan kurangnya pemahaman terhadap nilai kehidupan itu sendiri.

Saya paham amarah itu. Tapi tidak akan buru-buru pula menenangkannya dengan kalimat seperti "teknologi hanyalah alat" karena itu sudah terlalu klise untuk situasi yang rumit.

Kita geser sedikit sudut pandangnya.

Mesin bisa menghasilkan gambar. Namun mesin tidak punya pengalaman tubuh yang pernah berdiri di tepi sungai setelah galodo. Mesin tidak punya pengalaman tumbuh di nagari yang listriknya baru masuk tujuh puluh tahun setelah kemerdekaan. Mesin juga tidak punya amarah yang tumbuh perlahan karena melihat hutan berganti sawit, karena melihat hulu dan hilir diputus oleh kebijakan yang dibuat jauh dari tempat bencana itu terjadi. Mesin tidak pernah punya perasaan gagal, lalu bangkit, lalu gagal lagi, lalu tetap membuat karya.

Mesin tidak punya arek dan lungga. Mesin hanya punya parameter dan dataset.

Christie's, rumah lelang paling bergengsi di dunia, pada Maret 2025 melelang 34 karya yang dihasilkan AI. Dua puluh karya terjual. Total pendapatan hampir 730.000 dolar. Banyak seniman memprotes karena karya-karya itu dianggap meminjam, atau lebih tepatnya mengambil tanpa izin, elemen visual dari maestro yang sudah lama berkarya. Lelang tetap berjalan. Dan karya AI Machine Hallucinations-ISS Dreams-A milik Refik Anadol terjual 277.200 dolar. Ternyata, pasar seni rupa tidak pernah terlalu banyak bertanya tentang bagaimana sesuatu dibuat, selama ia bisa dijual, maka dijuallah dengan angka yang bagus untuk siaran pers.

Saya tidak menceritakan ini untuk membuat kita semakin cemas. Saya cerita supaya kita tidak pura-pura sedang hidup di zaman yang lain saja.

Yang lebih perlu saya dan teman-teman cemaskan bukan mesin yang menggantikan seniman. Tapi seniman yang mulai berpikir seperti mesin. Seniman membuat karya dioptimasi untuk respons cepat. Yang menghindari kompleksitas karena kompleksitas susah dijual dalam tiga detik. Yang lebih takut tidak relevan di feed daripada kehilangan alasan mengapa ia mulai berkarya.

Fotografi dulu dianggap akan membunuh seni lukis. Tidak terjadi. Malah melahirkan impresionisme. Komputer dianggap akan menggantikan desainer. Tidak terjadi. Video dianggap akan mengakhiri teater. Saya masih bermain dan menggarap teater. Teman-teman bisa menontonnya Agustus atau September nanti.

Tapi setiap kali teknologi baru datang, ia memang mengubah sesuatu. Yang berubah bukan senimannya, tapi pertanyaannya. Apa yang tidak bisa dilakukan mesin, dan apakah kita sedang dengan sadar mengembangkan hal itu?

Kembali ke ruang di mana kita berada sekarang.

Sebuah pameran seni rupa adalah peristiwa yang punya pengalaman kehadiran tubuh. Ia punya dinding, pencahayaan yang diperdebatkan sampai malam sebelum pembukaan, kerja-kerja publikasi sebelumnya, dan bau cat yang belum kering. Ia punya pengunjung atau penonton yang bisa tiba-tiba berdiri lama di depan satu karya tanpa mereka sendiri tahu kenapa.

Ruang pameran adalah kontrak sosial antara karya dan penonton. Ada kehadiran dan pengalaman langsung merasakan. Teman-teman sudah datang ke sini. Teman-teman sudah masuk. Sudah melakukan. Sekarang beri karya ini waktu yang ia minta. Feed tidak punya kontrak seperti itu. Feed adalah pasar swalayan: semuanya tersedia, semuanya bisa dilewati sepintas lalu.

Karya instalasi seperti milik Nessya Fitryona, "Song of Hope", yang memanfaatkan elemen ruang sebagai medium kritik lingkungan, hampir mustahil ditangkap utuh dalam satu foto. Ia membutuhkan kehadiran tubuh. Feed bisa memperkenalkannya. Tapi tidak bisa menggantikan pengalaman berada di dalamnya. Jika pameran Arek Lungga ini berlangsung seminggu, dan teman-teman datang setiap hari, pengalaman melihat material tauge atau kecambah kacang hijau pada karya Nessya yang bertumbuh dengan cepat dalam 3-5 hari melalui proses perkecambahan di galeri ini, tidak akan bisa teman-teman rasakan di feed. Sekalipun ada yang membuat video atau memosting foto karyanya. Atau karya Maysandy Haryady "Perempuan dalam Simpul Waktu" tidak terbuka dalam tiga detik. Simpul karya itu butuh waktu untuk dilihat. Seperti cermin yang memantulkan muka pengunjungnya.

Maka,  pameran bukan hanya cara memajang karya. Ia pernyataan bahwa ada hal-hal yang membutuhkan waktu, dan waktu itu berharga. Bukan pemborosan.

Pada era di mana perhatian adalah komoditas yang paling diperebutkan, meminta seseorang untuk berdiri diam selama lima menit di depan sebuah karya adalah tindakan yang, tanpa kita sadari, sudah menjadi bentuk perlawanan.

Narasi Kuratorial dan Realitas yang Dihadapinya

Narasi kuratorial Arek Lungga menyebut bahwa karya "tidak hadir sebagai bentuk final melainkan sebagai proses yang terus bergerak dan berkembang." Kalimat ini punya konsekuensi yang besar, dan saya senang kurator muda kita berani menulisnya.

Kalo kita baca pernyataan itu, logika feed bekerja sebaliknya. Konten adalah bentuk final. Ia diunggah, dikonsumsi, lalu digantikan konten berikutnya. Siklus ini berputar dalam hitungan jam. Dalam logika konten, karya yang sudah diunggah adalah karya yang sudah selesai, baik maknanya berhasil ditangkap maupun tidak.

Karya yang dikategorikan sebagai penegasan identitas dalam pameran ini, seperti "Harmoni Gonjong dalam Butir" milik Kelsi Afriani atau "Pacu Jalur" milik Rahmadina Nabilla, membawa beban yang tidak ringan di era feed. Visual yang berasal dari tradisi lokal, gonjong, rangkiang, motif songket, menghadapi tekanan ganda: harus cukup menarik untuk berhenti di-scroll penonton global, tapi juga tidak boleh kehilangan kedalamannya menjadi estetika eksotis yang diambil lepas dari konteksnya.

Inilah medan yang harus dihadapi.

Dan ini juga, saya kira, adalah pekerjaan paling serius yang tersisa untuk seniman dari wilayah-wilayah yang secara historis tidak berada di pusat peta seni rupa global. Bagaimana membawa sesuatu yang akarnya sangat lokal ke dalam perbincangan yang sangat global, tanpa akarnya tercabut dalam perjalanan. Tanpa ia tiba di tujuan sebagai oleh-oleh, bukan sebagai pernyataan atau perlawanan.

Di sisi lain, yang menarik adalah bahwa feed yang sama, yang sering dituduh mendorong homogenisasi budaya, justru bisa menjadi jalan yang tidak terduga. Seorang pengrajin songket di Pandai Sikek, Canduang, Silungkang atau Kubang semakin   punya pengikut di Berlin, Singapura dan belahan negara Eropa atau Amerika sana. Seorang seniman yang bekerja dengan material lokal kini bisa berdialog langsung dengan diskursus seni kontemporer global tanpa harus menunggu undangan dari kurator luar. Berkat feed.

Arek dan lungga. Lagi-lagi. Tahu kapan yang mana.

Yang Tidak Bisa Diambil Mesin

Saya cukup lama bergelut di bidang seni untuk tahu satu hal: karya yang bertahan bukan karya yang paling banyak di-like. Tapi proses dan integritas.

Karya yang bertahan adalah karya yang lahir dari desakan dan kegelisahan yang menerus. Dari sesuatu yang tidak bisa diam di dalam. Bukan dari kalkulasi tentang siapa yang akan melihatnya dan berapa lama.

Saya pernah membuat karya pertunjukan yang tidak ada penontonnya. Saya pernah mengelola komunitas seni di tempat yang namanya tidak ada di peta seni nasional, apalagi internasional. Dan yang saya pelajari bukan tentang teknik atau konsep, tapi tentang mengapa saya tidak bisa berhenti. Itu jelas tidak bisa diambil oleh mesin. Bukan gayanya, bukan pula mediumnya. Tapi alasan seseorang tidak bisa tidak berkarya meski tidak ada yang meminta.

Mesin bisa meniru gaya. Feed bisa memperluas jangkauan. Tapi desakan yang membuat seseorang masih di studio lukis atau studio latihan sampai jam dua pagi, menolak proposal visual yang mudah serta memilah pilih bentuk garapan yang lebih susah, itu masih urusan manusia. Setidaknya sampai hari ini.

Selama itu masih demikian, kita punya alasan untuk terus berkarya dengan sungguh-sungguh.

Kepada empat puluh enam seniman dalam pameran ini: terima kasih sudah hadir dengan karya yang punya pengalaman kehadiran tubuh, punya proses, dan mudah-mudahan punya keberanian untuk tetap bertanya meski pertanyaannya itu sendiri tidak nyaman.

Kepada pengunjung yang datang melihat pameran hari ini serta teman-teman panitia penyelenggara: selamat datang di ruang yang meminta waktu dan kehadiran tubuh Anda secara fisik. Beri ia waktu itu. Sebab, beberapa hal memang masih layak untuk tidak di-scroll.

Ko ka arek arek bana, ko ka lungga lungga bana.

Semoga kita tahu kapan yang mana. []

 

Kasai, Nagari Kasang, Padang Pariaman, 2026

 

 

 

[1] Pameran Seni Rupa “Arek Lungga” diselenggarakan oleh HMD Seni Rupa FBS UNP, program kerjasama Taman Budaya Sumbar, berlangsung dari tanggal 8-16 Mei 2026. Diskusi seni pameran dengan tajuk Seni Rupa di antara Pameran, Feed dan Mesin berlangsung pada Selasa, 12 Mei 2024 di Galeri Taman Budaya Sumbar.

[2] Praktisi lintas disiplin seni dan pendiri Komunitas Seni Nan Tumpah. Bekerja sebagai sutradara, dramaturg, kurator, penulis, dan pengajar di Sumatra Barat. Saat ini tengah menyelesaikan Program Doktor Seni di Institut Seni Indonesia Surakarta.



BACA JUGA