Kepala Dinas Kesehatan Pemda Pasaman Barat dr Gina Alecia, M.Kes.
Simpang Empat, sumbarsatu.com — Peristiwa meninggalnya seorang bayi baru lahir di Jorong Rura Patontang, Nagari Pematang Panjang, Kecamatan Koto Balingka, menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Di balik duka tersebut, Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat menegaskan bahwa tenaga kesehatan telah menjalankan pelayanan sesuai prosedur yang berlaku, sementara persoalan akses menuju wilayah terpencil menjadi tantangan utama yang perlu dibenahi bersama.
Kepala Dinas Kesehatan Pasaman Barat, dr. Gina Alecia, M.Kes, saat dikonfirmasi pada Senin (18/5/2026), menjelaskan bahwa bidan jorong yang menangani pasien telah melaksanakan tugas sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).
Menurutnya, petugas kesehatan selama ini juga aktif memberikan edukasi kepada ibu hamil di wilayah tersebut terkait pentingnya pelaporan dini ketika tanda-tanda persalinan mulai muncul.
Pasien ibu hamil atas nama Irhamni (38) diketahui rutin menjalani pemeriksaan di Polindes setempat.
Sebelum kejadian, bidan juga telah mengingatkan keluarga agar segera menghubungi petugas kesehatan jika muncul tanda-tanda persalinan, mengingat kondisi wilayah yang cukup terisolasi dan akses menuju fasilitas kesehatan membutuhkan waktu tempuh yang panjang.
“Wilayah seperti Rura Patontang memang memiliki akses yang cukup sulit. Selama ini bidan desa terus melakukan edukasi kepada ibu hamil agar segera menghubungi petugas kesehatan ketika tanda-tanda persalinan mulai muncul, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” ujar Gina Alecia.
Dijelaskan, Sekitar pukul 11.00 WIB, bidan desa mendapat panggilan dari keluarga pasien dan segera melakukan pemeriksaan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi persalinan sudah memasuki pembukaan hampir lengkap.
Melihat perkiraan kondisi bayi yang berukuran besar, bidan desa menyarankan agar pasien segera dirujuk ke Puskesmas Parit Koto Balingka untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Sekitar 10 menit setelah pemeriksaan dilakukan, ketuban pasien pecah. Dengan kondisi ketuban pecah dini dan pembukaan yang hampir lengkap tersebut, pasien kemudian dirujuk menggunakan tandu karena kondisi medan yang sulit dilalui.
Pasien tiba di Puskesmas Parit Koto Balingka sekitar pukul 14.45 WIB. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, diketahui pembukaan sudah lengkap dan tenaga kesehatan segera memimpin proses persalinan.
Bayi lahir sekitar pukul 16.00 WIB dengan berat badan 4,7 kilogram dan nilai Apgar Score 3/4.
Petugas medis segera melakukan tindakan resusitasi (pertolongan) dan selanjutnya bayi dirujuk ke RSUD untuk penanganan intensif.
Namun, setelah sekitar satu jam mendapatkan perawatan di rumah sakit, bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia akibat asfiksia (gagal nafas).
Sementara itu, kondisi ibu saat ini dalam keadaan baik dan masih menjalani pemantauan pascanifas oleh bidan desa setempat.
Peristiwa ini sebelumnya menjadi perhatian publik setelah beredar di media sosial tayangan yang memperlihatkan pasien ditandu menuju akses jalan karena kondisi medan yang sulit dilalui kendaraan.
Situasi tersebut memunculkan beragam tanggapan masyarakat, terutama terkait infrastruktur dan akses pelayanan di wilayah terpencil.
Dinas Kesehatan menjelaskan, penggunaan tandu dalam kondisi darurat merupakan langkah yang dilakukan untuk mengurangi risiko guncangan pada pasien, terutama ketika kondisi jalan berlumpur dan sulit dilalui kendaraan setelah hujan.
Peristiwa di Rura Patontang kini menjadi bahan evaluasi bersama, tidak hanya dari sisi pelayanan kesehatan, tetapi juga terkait kebutuhan peningkatan akses infrastruktur ke wilayah-wilayah yang masih sulit dijangkau.
Diharapkan, perhatian terhadap akses dasar masyarakat dapat terus diperkuat agar pelayanan darurat, khususnya bagi ibu hamil, dapat berlangsung lebih cepat dan optimal di masa mendatang. (Ssc/nir)