Tari "Akegh Cahayegh" karya Suvina akan dipentaskan malam ini di ISI Padang Panjang
Padang Panjang, sumbarsatu.com--Malam ini, Kamis (9/6/2016), pukul 23.00 WIB, pelataran halaman kampus ISI Padang Panjang, diisi ritual pengobatan tolak bala Suku Talang Mamak atau yang disebut dengan Mahligai. Karya koreografi berjudul Akegh Cahayegh, menurut koreografer Suvina, bersumber dari peristiwa budaya yang dilakukan Suku Talang Mamak (Gedabu) dalam tradisi budaya dan sosialnya.
“Mahligai mengalami interpretasi dan imajinasi dalam bentuk garapan tari yang inovasi. Saya pilih judulnya Akegh Cahayegh. Pesan penting karya ini adalah tradisi Suku Talang Mamak sampai hari ini masih bisa bertahan dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” kata Suvina, kepada sumbarsatu.com, Kamis (9/6/2016).
Upacara pengobatan Mahligai, tambah Suvina, adalah sebuah kepercayaan dan keyakinan untuk menyembuhkan penyakit dalam (tak tampak).
“Upacara ini dilaksanakan pada senja hari dan berakhir waktu fajar tiba, sekitar pukul 04.00 WIB. Tujuannya untuk membersihkan desa, yang berfungsi sebagai penolak bala agar desa terhindar dari mala petaka seperti, gangguan berupa penyakit dari makhluk gaib, bencana alam (banjir, kebakaran hutan dan lain-lain),” jelas Suvina.
Menurut Suvina, untuk menjadikannya sebagai karya tari yang inovatif, ia melakukan pendekatan konseptual penciptaan yang bertolak berdasarkan rangsang tari. Rangsang tari adalah suatu yang membangkitkan pikiran, semangat atau mendorong kegiatan.
“Pada dasarnya sebuah karya tercipta karena adanya rangsang. Rangsang yang muncul melalui pemikiran kemudian dituangkan dalam sebuah ide. Rangsang ini bertujuan untuk menggali imajinasi sehingga menimbulkan sebuah ide yang diaplikasikan ke dalam bentuk garapan karya inovasi Akegh Cahayegh ini,” terangnya.
Untuk ditampilkan di atas panggung, ia jelaskan, Akegh Cahayegh merupakan tipe karya yang digunakan adalah tipe dramatik. Tipe dramatik ini merupakan tipe karya yang mengandung arti dalam sebuah gagasan, yang lebih menekankan pada sebuah cerita.
“Tipe dramatik lebih memusat kepada suatu kejadian. Garapan yang menggunakan tipe dramatik ini mempunyai alur cerita yang jelas dan runtut, serta menggambarkan suatu kenyataan seperti adanya (realita),” jelasnya.
Lebih jauh ia katakan, dalam garapan Akegh Cahayegh, pengkarya menggunakan tipe dramatik dengan alasan pengkarya akan menampilkan realita dari Suku Talang Mamak (Gedabu) Mahligai sebagai Ritual Tolak Bala. Kemudian diinterpretasikan dalam imajinasi pengkarya dengan bentuk garapan inovasi.
Tipe dramatik ini akan terlihat jelas pada bagian-bagian dan peradegannya. Pada saat bagian tiga menjelang ending karya ini terjadi konflik. Konflik tersebut berasal dari orang atau Suku Talang Mamak (Gedabu) itu sendiri dengan kelalaian mereka, tetapi konflik ini dapat terselesaikan dengan kembali melaksanakan ritual Mahligai seperti biasanya.
“Penjelasan ini merupakan alasan pengkarya menggunakan tipe dramatik. Tari dramatik mengandung arti, dalam sebuah gagasan yang dikomunikasikan sangat kuat dan memiliki daya pikat, dinamis dan banyak ketegangan dimungkinkan melibatkan konflik antara orang dalam dirinya atau dengan orang lain,” jelasnya.
Karya tari yang merupakan tugas akhir sebagai mahasiswa jurusan tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padang Panjang ini didukung 16 penari. Penari yang terdiri 6 lelaki dan 10 perempuan ini diharapkan mampu menggambarkan peristiwa budaya Suku Talang Mamak (Gedabu) Mahligai sebagai ritual Tolak Bala yang merupakan konsep dasar koreografi ini. (SSC)