em
OLEH Nasrul Azwar--Jurnalis
RABU siang, 11 Februari 2026, angin berembus pelan di Balai Baru, Sungai Sariak, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Langit tidak sepenuhnya cerah, tetapi juga tidak muram. Di sebuah ruang seluas sekitar 300 meter persegi yang selama belasan tahun dipenuhi dentum tapuak galembong, langkah-langkah tegas silek, serta bunyi gandang tambua yang bergetar sampai ke dada, suasana mendadak hening.
Di tempat itu—yang ia namai Ladang Tari Nan Jombang—Ery Mefri mengembuskan napas terakhirnya. Usianya menjelang 68 tahun. Ia berpulang di rumah sekaligus ruang kreatif yang dibangunnya dari nol, dari keyakinan, dari kerja tubuh yang tak pernah berhenti belajar.
Ladang itu bukan sekadar halaman dan bangunan. Ia adalah ruang gagasan. Ia adalah saksi dari ribuan jam latihan, perdebatan estetik, tawa riang penari dan anak tari, para seniman, budayawan, dan tentu jurnalis, juga kelelahan panjang setelah pentas. Di sanalah Ery Mefri menanam mimpi, memupuk tradisi, dan memanen karya.
Pulang Sebelum Waktunya
Pagi itu sejatinya adalah jadwal rutinnya menjalani cuci darah di Rumah Sakit Umum Citra Bunda Medical Center Padang. Dalam sepekan, dua kali ia harus menjalani prosedur itu—Rabu dan Sabtu. Sejak dua bulan terakhir, kesehatannya menurun akibat gagal ginjal. Riwayat diabetes telah lama menyertainya. Tubuh yang dulu tegap menari dan melatih berjam-jam, kini harus berdamai dengan jarum, selang, dan mesin.
Namun Rabu itu terasa berbeda.
“Saat proses cuci darah hampir selesai, beliau meminta dihentikan lebih awal dan ingin segera pulang,” tutur Angga Mefri, istrinya, dengan suara yang beberapa kali terputus. “Tak lama sesampai di rumah, beliau mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang.”

Permintaan untuk pulang itu seperti firasat yang tak terucap. Seolah-olah ia tahu bahwa ladang yang ia cintai adalah tempat terakhir yang ingin ia lihat, ia rasakan, ia hirup udaranya.
Ia pulang bukan hanya sebagai pasien yang letih, melainkan sebagai seniman yang ingin menutup hidupnya di ruang penciptaan. Di ladang itu, anak-anak, cucu, istri-istri, dan keluarga besar berada di sekelilingnya. Tidak ada kegaduhan. Tidak ada dramatika. Hanya keheningan yang dalam.
“Kita semua melepas kepergian beliau ke Rahmatullah,” kata Angga lirih.
Selama sakit, kabar tentang kondisi Ery Mefri memang tidak disebarluaskan. Banyak sahabat dan kolega yang baru mengetahui penyakitnya setelah ia berpulang. Itu bukan kelalaian keluarga. Itu adalah pesan almarhum sendiri.
“Sakit den ndak ingin urang marasoan. Kebahagiaan den ingin urang lain marasoan.”
Kalimat sederhana dalam bahasa Minang itu menyimpan prinsip hidupnya: sakit adalah urusan pribadi, kebahagiaan adalah milik bersama. Ia tak ingin orang ikut memikul beban tubuhnya yang melemah. Ia ingin orang mengenangnya dalam kerja dan karya, bukan dalam keluh.
“Bagi Uda, yang perlu disuarakan adalah karya,” ujar Angga.
Maka selama dua bulan terakhir, meski kondisi fisiknya turun, ia tetap berbicara tentang rencana. Tentang latihan. Tentang pertemuan rutin setiap tanggal 3. Tentang KABA Festival yang saban tahun menjadi ruang perjumpaan gagasan. Tubuhnya boleh rapuh, tetapi pikirannya tetap bekerja.
Dari Saniangbaka ke Panggung Dunia
Ery Mefri lahir di Nagari Saniangbaka, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, 23 Juni 1958. Ia tumbuh di lingkungan yang akrab dengan tradisi Minangkabau—silek, randai, kaba, dan laku adat yang melekat dalam keseharian.
Pada 1 November 1983, ia mendirikan Sanggar Nan Jombang, yang kini dikenal sebagai Nan Jombang Dance Company. Nama “Nan Jombang” diambil dari karya pertamanya, Nan Jombang, yang menjadi penanda arah estetiknya: berakar kuat pada tradisi, tetapi terbuka pada tafsir baru.
Dari silek ia belajar ketegasan garis tubuh. Dari randai ia menyerap dramatika kolektif. Dari alam Minangkabau ia memahami ritme dan napas ruang. Semua itu ia ramukan menjadi bahasa tubuh kontemporer yang khas—tidak tercerabut dari akar budaya, tetapi juga tidak terkurung oleh bentuk lama.
Puluhan karya tari lahir dari ladang itu. Sarikaik, Rantau Berbisik, Sang Hawa, Tarian Malam, Salam Tubuh pada Bumi, hingga Asok dari Tungku menjadi jejak panjang perjalanan estetiknya. Karya-karya itu tidak hanya dipentaskan di Sumatera Barat atau Indonesia. Bersama Nan Jombang Dance Company, ia telah menjelajahi lima benua, membawa nama Indonesia dan Minangkabau ke panggung internasional.
Namun di setiap perjalanan jauh itu, ia selalu kembali ke ladangnya. Seolah-olah sejauh apa pun kaki melangkah, akar tetap tertanam di tanah Ladang Tari Nan Jombang.
Ladang sebagai Rumah dan Ruang Ingatan
Ladang Tari Nan Jombang berdiri bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketekunan. Dari hasil pentas, dari jaringan pertemanan, dari gotong royong murid-murid dan sahabat, ruang itu dibangun sedikit demi sedikit.

Di bawah pohon beringin yang rindang, ia kerap duduk bersama para pemain dan pendukung karyanya. Berdiskusi tentang komposisi gerak. Mengkritik dengan tajam tetapi juga merawat dengan sabar. Ladang itu menjadi ruang pertemuan lintas generasi—tempat gagasan diuji, dipatahkan, lalu disusun kembali. Kini, di tempat yang sama, ia beristirahat untuk selamanya.
Kamis, 12 Februari 2026, ratusan pelayat menyalatkannya di Masjid Nurul Islam, sekitar 50 meter dari ladang. Setelah itu, sesuai amanahnya semasa hidup, ia dimakamkan di Ladang Tari Nan Jombang.
“Papa sering berpesan, kalau kelak dipanggil Allah, dikuburkan di sini saja. Jangan dibawa keluar,” ujar Rio Mefri, anak sulungnya.
Amanah itu sederhana, tetapi sarat makna. Ia ingin menyatu dengan ruang yang membesarkannya sebagai seniman. Ia ingin tubuhnya tetap berada di tengah ladang tempat ide-ide terus tumbuh.
Ery Mefri meninggalkan tiga istri, enam anak, dan sepuluh cucu. Duka tentu tak ringan. Namun suasana perpisahan berlangsung khidmat, tanpa histeria. Pihak keluarga menyampaikan taklimat kepada pelayat, memohon maaf atas segala khilaf almarhum.
Di wajah keluarga dan keluarga besar Nan Jombang, seniman, para pelayat, duka bercampur rasa kehilangan arah. Bagi sebagian dari mereka, Ery Mefri bukan sekadar guru dan maestro tari. Ia adalah figur ayah, mentor, sekaligus penggerak disiplin. Ia keras dalam latihan, tetapi lembut dalam merawat potensi.
Di ladang itu, suara isak tertahan menyatu dengan desir angin. Seolah-olah alam pun ikut menunduk. Namun di balik kesedihan itu, keluarga bertekad menjaga api yang telah dinyalakannya.
“Insyaallah warisan beliau akan tetap kami jalankan. Setiap tanggal 3 kami akan tetap berkumpul, dan setiap tahun untuk KABA Festival,” ujar Angga.
Janji itu bukan sekadar kalimat penghibur. Ia adalah komitmen untuk memastikan Nan Jombang Dance Company itu tidak menjadi monumen sunyi. Ladang Tari Nan Jombang harus tetap menjadi ruang hidup.
Tubuh yang Diam, Jejak yang Bergerak
Kini tubuhnya memang telah diam. Tetapi jejak estetiknya tetap bergerak. Dalam riset-riset seni, dalam skripsi dan disertasi yang mengkaji karyanya, dalam latihan-latihan generasi baru yang masih memanggil namanya sebagai rujukan.

Ia mengajarkan bahwa tradisi bukan benda mati. Tradisi adalah tubuh yang harus terus dilatih, dipertanyakan, dan ditafsir ulang. Ia menunjukkan bahwa menjadi kontemporer bukan berarti meninggalkan akar, melainkan memahami akar dengan lebih dalam.
Kepergiannya di ladang yang ia cintai seperti lingkaran yang sempurna. Dari tanah ia berangkat, ke tanah ia kembali. Dari tubuh ia mencipta, dalam tubuh pula ia dikenang.
Ery Mefri telah pergi. Namun ladangnya tetap menumbuhkan. Dan selama tubuh-tubuh muda masih belajar menari di bawah rindang beringin itu, selama gagasan masih diperdebatkan di ruang sederhana itu, selama dentum tapuak galembong masih menggema, ia sesungguhnya belum benar-benar pergi. Ia hanya beristirahat di ladang yang ia cintai.
Menjaga Napas Nan Jombang
Di Ladang Tari Nan Jombang, angin sore selalu membawa dua hal: debu halus dari tanah yang dipijak para penari, dan napas panjang kerja yang tak pernah benar-benar usai. Maestro tari dan pendiri Nan Jombang Dance Compan, Ery Mefri telah tiada, banyak orang bertanya-tanya: apakah Ladang Tari Nan Jombang akan tetap berdenyut? Apakah semangat yang ia tanamkan akan tetap menyala?
Pertanyaan itu wajar. Sebab Nan Jombang bukan sekadar kelompok tari. Ia adalah kerja panjang, disiplin yang ditempa bertahun-tahun, dan keyakinan bahwa berkesenian adalah jalan hidup—bukan sambilan, bukan perayaan sesaat.
Selama lebih dari empat dekade, Nan Jombang Dance Company berdiri sebagai salah satu—bahkan bisa disebut satu-satunya—kelompok tari kontemporer di Indonesia yang eksis secara konsisten. Terus berproses, terus mencipta, dan sekaligus mengelola festival secara rutin. Di tengah banyaknya kelompok yang lahir lalu redup, Nan Jombang tetap menapaki waktu dengan ritme yang terjaga.
Pada 2012, dalam sebuah perbincangan santai di Komunitas Salihara, sastrawan dan budayawan Goenawan Mohamad pernah menyampaikan pandangannya. Saat itu, ia menyebut nama Ery Mefri dan penari kuat Angga Djamar sebagai figur penting dalam lanskap tari Indonesia, serta menegaskan soliditas Nan Jombang Dance Company.
“Sekarang ini kita hanya punya Ery Mefri, Angga Djamar, dan Nan Jombang Dance Company. Kita tak punya lagi koreografer dan seniman yang seintensif mereka ini. Kita tak punya kelompok tari di Indonesia sekuat Nan Jombang Dance Company,” ujarnya waktu itu.
Pernyataan itu bukan sekadar pujian personal. Ia seperti penanda atas sesuatu yang lebih dalam, yaitu militansi.
Bagi Goenawan, berkesenian membutuhkan militansi—ketekunan yang nyaris keras kepala. Dan Ery Mefri bersama Nan Jombang menjalani itu tanpa banyak kompromi. Mereka bekerja bukan karena sorotan, tetapi karena kebutuhan batin untuk terus bergerak.
“Berkesenian itu tak akan pernah selesai,” kata Goenawan lagi. Kalimat itu terasa seperti cermin dari perjalanan Nan Jombang. Setiap karya bukan titik akhir, melainkan pintu menuju pertanyaan baru. Setiap festival bukan perayaan puncak, melainkan ruang dialog yang membuka kemungkinan lain.
Kini, Ery Mefri telah berpulang, militansi itu diuji: apakah ia milik satu figur, atau telah menjelma menjadi kesadaran kolektif?
Mengelola Energi yang Tak Pernah Padam
Dalam buku Retrospeksi: Galanggang Tari Sumatra–Padang Bagalanggang–KABA Festival (1988–2025) yang diterbitkan Nan Jombang pada 2025, jejaring kebudayaan Halim HD menuliskan refleksi yang tajam tentang posisi Nan Jombang.
Menurutnya, sesulit-sulitnya menciptakan festival, lebih sulit lagi membentuk dan menjaga grup tari. Festival bisa disiapkan berdasarkan jadwal dan kebutuhan. Ia punya awal dan akhir yang jelas. Tetapi grup tari adalah energi sepanjang waktu. Ia membutuhkan latihan rutin, pengelolaan sumber daya, disiplin anggota, visi estetik yang konsisten, dan kepemimpinan yang tak goyah.
“Yang paling sulit adalah bagaimana mengelola grup dan menciptakan festival seperti yang dikerjakan oleh Nan Jombang,” tulis Halim.
Ia mengingatkan bahwa Ery Mefri hadir bukan dari ruang kosong. Ia tumbuh dari jejak para pendahulu, dari pengalaman sebagai pegawai muda di Taman Budaya Sumbar pada 1980-an, dari kesadaran organisasi yang jarang dimiliki seniman muda pada masanya. Ia bukan hanya koreografer, tetapi juga organisator.
Kesadaran itulah yang membuatnya mampu merekrut anggota, membangun solidaritas, dan menata tata kelola kelompok. Di samping itu, kehadiran figur seperti Angga Djamar—penari andal yang sigap bekerja dan memahami manajemen—menjadi penopang penting.
Halim berharap Nan Jombang tidak menjadi pasif. Ia mendorong keterbukaan—melibatkan berbagai kalangan yang memiliki kompetensi dan komitmen, baik dari tradisi maupun modern-kontemporer.
“Harapan akan lahir dan selalu hadir jika kita secara berkelanjutan menciptakan dorongan pemikiran kritis dan membuka diri kepada berbagai kemungkinan melalui sikap dialogis,” tulisnya.
Kalimat itu seperti pesan untuk generasi penerus: menjaga napas bukan berarti membekukan bentuk, melainkan berani berdialog.
Keras Hati yang Menciptakan Kesempatan
Nama Indra Utama tak bisa dilepaskan dari sejarah awal Gelanggang Tari Sumatera, yang pertama kali digelar pada 1988. Dalam kesaksiannya di buku yang sama, ia mengenang sikap keras hati Ery Mefri ketika menggagas festival itu meski sumber dana belum jelas.
Saat itu, gagasan menggelar festival tari di luar Jakarta atau Jawa terdengar nyaris nekat. Infrastruktur terbatas. Dukungan belum tentu ada. Namun Ery Mefri melihat peluang di balik keterbatasan.
“Jika Gelanggang Tari Sumatera ini sukses, maka Sumatera Barat menjadi pelopor kegiatan festival di luar Jakarta atau Jawa,” kata EryMefri kepada rekan-rekannya, seperti dikenang Indra Utama.
Semangat itu mengikat sejumlah koreografer muda Sumatera: Indra Utama, Syaiful Erman, Ery Mefri sebagai inisiator, Dindin Syarifudin dari Bengkulu, Yose Rizal Firdaus dari Medan, hingga Iwan Irawan Permadi dari Pekanbaru. Mereka dipersatukan bukan oleh kemewahan fasilitas, melainkan oleh tekad.
“Kepada saya, Ery berkata: Ketika tidak ada kesempatan, mari kita buat kesempatan itu sendiri,” ujar Indra Utama.
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung strategi kultural yang kuat. Tidak menunggu undangan pusat. Tidak bergantung pada legitimasi luar. Menciptakan ruang sendiri.
Dari Gelanggang Tari Sumatera, perjalanan itu berlanjut menjadi KABA Festival—sebuah perhelatan yang kini menjadi ikon bagi Nan Jombang dan seni pertunjukan di Sumatera Barat. Festival itu diselenggarakan sepenuhnya oleh Nan Jombang, di tempat yang mereka bangun sendiri: Ladang Tari Nan Jombang. Ini bukan sekadar festival. Ini adalah simbol kemandirian.
Warisan yang Harus Bergerak
Kini, ketika orang datang ke ladang itu, mereka tidak hanya melihat panggung dan ruang latihan. Mereka melihat sejarah kerja keras. Mereka melihat jejak keras hati. Mereka melihat risiko yang pernah diambil.

Namun menjaga napas Nan Jombang bukan berarti mengulang persis langkah-langkah Ery Mefri. Setiap zaman memiliki tantangan berbeda. Jika dulu tantangannya adalah membuktikan bahwa festival bisa digelar di luar pusat, kini tantangannya adalah bagaimana tetap relevan di tengah perubahan lanskap seni dan teknologi.
Militansi yang disebut Goenawan Mohamad, kesadaran organisasi yang dicatat Halim HD, dan keberanian menciptakan kesempatan yang dikenang Indra Utama—semuanya kini menjadi warisan tak kasatmata. Warisan itu tak bisa disimpan di lemari arsip. Ia harus dihidupkan dalam tindakan.
Setiap latihan yang tetap berjalan.
Setiap diskusi yang tetap panas.
Setiap festival yang tetap digelar meski dana seret.
Di sanalah napas itu dijaga.
Ery Mefri telah dimakamkan di Ladang Tari Nan Jombang, tetapi semangatnya tidak boleh dikuburkan bersama tubuhnya. Jika ladang itu terus dipijak, jika tubuh-tubuh muda terus berani berkeringat dan berdebat, jika ruang itu tetap terbuka bagi kritik dan kemungkinan baru, maka Nan Jombang tidak hanya bertahan—ia akan terus tumbuh.
Menjaga napas berarti menjaga kerja.
Menjaga napas berarti merawat dialog.
Menjaga napas berarti tidak menyerah pada keadaan.
Dan mungkin, di antara desir angin dan dentum langkah latihan yang kembali terdengar, ada satu kalimat yang terus bergema: Ketika tidak ada kesempatan, mari kita buat kesempatan itu sendiri.*
Foto: ikhsan abadi dan andre pratama