Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: 61 Siswa Kelana Gelar Karya di Tengah Banjir

KE RUMAH NAN TUMPAH #10

Sabtu, 14/02/2026 06:06 WIB
anak

anak

 

Kasai, sumbarsatu.com--Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025) dalam rangkaian Ke Rumah Nan Tumpah #10 bertajuk Zona Nyaman Seni. Gelar karya ini berlangsung bersamaan dengan pameran Silo Tigo pada 7–14 Februari 2026 di Ruang Temu Nan Tumpah, Perumahan Kasai Permai, Korong Kasai, Nagari Kasang, Kabupaten Padang Pariaman.

Presentasi semester ini tidak hanya menampilkan capaian artistik, tetapi juga menjadi respons terhadap persoalan ekologis yang terjadi di lingkungan tempat tinggal para siswa. Anak-anak diajak membaca realitas sekitar sebagai bagian dari proses kreatif—bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya, melainkan konteks yang dapat diolah menjadi gagasan dan sikap.

Sebanyak 25 anak memamerkan karya seni rupa berupa kolase, sketsa, karya tiga dimensi, hingga lukisan media air. Material yang digunakan sebagian besar berasal dari limbah sekitar, seperti serbuk kayu, bata, stik es krim, serta kardus styrofoam. Turut dipamerkan pula karya tiga dimensi mix media dari Kelas Seni Rupa Kelana tahun sebelumnya yang pernah tampil dalam Kidz Biennale Indonesia 2025 di Galeri Nasional Indonesia.

Selain itu, para siswa membuat dan memajang karya tiga dimensi dari kaleng cat bekas sebagai bentuk dukungan dan doa bagi salah satu siswa Kelana yang mengalami kecelakaan pada pekan lalu. Karya tersebut menjadi penanda bahwa ruang belajar ini bukan hanya tentang proses artistik, melainkan juga tentang solidaritas dan kebersamaan.

Dari kelas tari, 37 anak menampilkan Tari Kelana dan Tari Boneka. Sementara itu, sembilan siswa kelas remaja membawakan karya berjudul Ruang Tamu Swarnadwipa, yang merespons karya seni rupa Olim Syafputra dari kelompok Silo Tigo.

“Karya ini bercerita tentang banjir dan galodo yang mengubah hidup banyak warga, terutama tentang kehilangan keluarga. Kami menampilkan kesedihan sekaligus semangat bangkit dari keterpurukan,” ujar Desvy Sagita R, wali kelas sekaligus pengampu kelas tari (13/2).

Sebanyak 29 anak di kelas teater menampilkan pertunjukan berjudul Halaman Rumah. Karya ini berkisah tentang kehidupan anak-anak di tengah persoalan lingkungan seperti sampah dan banjir. Melalui seni, mereka diajak lebih sadar dan peduli terhadap kondisi sekitar.

Di kelas musik, 24 anak menampilkan pertunjukan yang memanfaatkan limbah tutup botol plastik dan memadukannya dengan alat musik tradisi Minangkabau seperti gandang, rebana, saluang, dan talempong. Sementara itu, siswa kelas menulis kreatif meluncurkan buku kumpulan puisi dan cerpen sebagai bagian dari capaian semester.

Pembukaan pameran pada 7 Februari 2026 dihadiri dan dibuka oleh Gemala Ranti, Yusrizal KW, David (Kepala Taman Budaya Sumatera Barat), serta Sudirman Baron, tokoh masyarakat Kasai. Gelar karya pertunjukan dijadwalkan berlangsung pada 13–14 Februari 2026.

“Kami bangga menyaksikan karya anak-anak Korong Kasai. Sejak ada Kelana Akhir Pekan, mereka memiliki kegiatan yang bermanfaat untuk masa depan,” ungkap Sudirman Baron saat pembukaan (7/2/2026).

Ia menilai program ini menjawab kekhawatiran banyak orang tua terkait penggunaan gawai yang membatasi ruang interaksi anak. Atas nama masyarakat, ia menyatakan dukungan terhadap aktivitas positif tersebut.

Memasuki hari kelima pameran, hujan lebat membuat air kembali naik setinggi mata kaki dan merendam lokasi. Sejumlah karya yang dipajang ikut tergenang. Ada sisi ironis ketika karya tentang banjir justru dikelilingi genangan nyata. Namun pada saat yang sama, situasi itu memperlihatkan ketegaran yang sunyi—bukan untuk terlihat kuat, melainkan karena hidup memang harus terus berjalan.

Bagi warga Korong Kasai, Perumahan Bumi Kasai Permai, Nagari Kasang, Batang Anai, Padang Pariaman, banjir telah menjadi peristiwa yang nyaris biasa. Sejak kawasan ini dibangun sekitar 30 tahun lalu, persoalan genangan belum benar-benar terselesaikan.

Tata ruang dan perkembangan wilayah belum sepenuhnya mengarah pada pemulihan masalah yang telah lama terjadi. Sebagian warga memilih pindah, tetapi sebagian lainnya tetap bertahan—bukan semata karena ingin, melainkan karena tak banyak pilihan. Di tengah kenyataan itulah pameran ini berlangsung.

Sejak dibuka secara reguler pada awal 2025, minat terhadap Kelana Akhir Pekan terus meningkat. Pada semester pertama tercatat 69 pendaftar, dengan 52 siswa tampil dalam gelar karya. Semester kedua mencatat 113 pendaftar, namun hanya 61 siswa yang memenuhi syarat untuk tampil. Pada semester ini diterapkan sistem absensi: siswa yang absen empat kali tanpa keterangan belum berkesempatan mengikuti gelar karya, tetapi dapat mengulang pada semester berikutnya.

“Sistem absensi ini bukan hukuman, melainkan cara menanamkan penghargaan dan tanggung jawab terhadap pilihan serta proses. Bukan hanya menghargai mentor, tetapi juga menghargai diri sendiri yang sudah berkomitmen untuk belajar,” ujar Fajry Chaniago, Manajer Program Komunitas Seni Nan Tumpah (13/2).

Pada semester ini, kelas yang dibuka semakin beragam. Jika semester pertama hanya terdiri dari kelas tari, musik, teater, dan seni rupa, kini ditambah kelas vokal, silek, dan menulis kreatif sesuai minat dan kebutuhan siswa. Kegiatan belajar dilaksanakan setiap Kamis hingga Minggu dengan mentor: Kiki Nofrijum (silek), Tenku Raja dan Desi Fitriana (musik), Olimsyaf Putra Asmara dan Yusuf Fadly Aser (seni rupa), Fajry Chaniago (teater), Mahatma Muhammad dan Karta Kusumah (menulis kreatif), Desvy Sagita R (tari), serta Srikandi Putri (wali kelas).

Mahatma Muhammad menegaskan bahwa presentasi Kelana bukan ajang mencari siapa yang paling unggul. “Presentasi ini adalah ruang temu agar anak-anak merasa aman menunjukkan prosesnya. Kelas silek, tari, musik, teater, menulis, dan seni rupa menjadi cara mereka menyapa orang tua, masyarakat Korong Kasai, serta kawan-kawan yang selama ini singgah di Sekretariat Nan Tumpah,” jelasnya.

Bagi Mahatma, Kelana merupakan ruang regenerasi komunitas yang tumbuh secara alami tanpa terasa menggurui. Kelana Akhir Pekan berkembang perlahan seperti halaman rumah yang setiap minggu makin ramai oleh suara anak-anak.

Ia tidak dirancang untuk terlihat besar, melainkan dijaga agar tetap terbuka dan hangat. Di ruang ini, seni tidak dipisahkan dari keseharian dan tidak diperlakukan sebagai keterampilan yang harus segera mahir, melainkan sebagai cara membaca diri dan lingkungan.

Kelana lahir dari proses panjang sejak 2016, ketika anak-anak sekitar ruang latihan Nan Tumpah mulai datang, menonton, dan ingin terlibat dalam aktivitas teater, randai, hingga produksi seni. Dari pertemuan-pertemuan spontan itu berkembang kegiatan akhir pekan yang kemudian, pada 2025, dibentuk menjadi kelas rutin dan terstruktur.

Nama “Kelana” dimaknai sebagai perjalanan yang terbuka. Kelas ini bukan tujuan akhir, melainkan titik berangkat agar anak-anak dapat menemukan minat dan arah mereka sendiri. Nilai utama yang ditanamkan adalah tanggung jawab, disiplin, dan pengembangan diri. Peserta belajar konsisten terhadap pilihan mereka, dengan pendekatan personal sesuai latar belakang masing-masing.

Aktivitas Kelana Akhir Pekan tidak memungut biaya apa pun. Seluruh kegiatan didukung oleh Komunitas Seni Nan Tumpah dan para mentor yang terlibat secara sukarela. Pembelajaran dimulai dari praktik, dengan teori yang disisipkan secara sederhana dan kontekstual. Struktur tetap dijaga melalui silabus, indikator capaian, dan target semester, namun tanpa orientasi kompetisi.

Dalam prosesnya, anak-anak belajar tentang kerja kolektif, menerima seleksi peran, mengelola rasa kecewa, serta memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari pembelajaran.

Tujuan jangka panjang Kelana bukan untuk mencetak seniman, melainkan membentuk karakter, kepekaan sosial, dan kemampuan beradaptasi. “Anak-anak tumbuh bersama, dan kami yang mendampingi ikut belajar. Yang ingin kami jaga sederhana: ruang yang setara, hangat, dan bisa dimasuki siapa pun tanpa takut dihakimi,” ujar Mahatma.ssc/rel



BACA JUGA