“Satu Hari Sangat Berarti”, Kepergian Leon Agusta yang Puitis

Kamis, 10/12/2015 21:57 WIB
Jenazah Leon Agusta saat akan dibawa ke rumah duka

Jenazah Leon Agusta saat akan dibawa ke rumah duka

Padang, sumbarsatu.com—Sastrawan dan budayawan Leon Agusta yang meninggal dunia di Rumah Sakit Umum M Djamil Padang, Kamis (10/12/2015) pukul 16.25 WIB rencananya akan dikebumikan besok, Jumat (11/12/2015) usai salat Jumat di pandam pekuburan keluarga di Bungus Taluak Kabuang, Padang.

Leon Agusta yang punya nama asli Ridwan Ilyas ini, meninggal dunia akibat penyakit komplikasi yang ia derita. Saat ini jenazah disemayamkan di rumah duka di Bungus Taluak Kabaung Padang, tak jauh dari SPBU Bungus.

“Papa masuk rumah sakit sekitar pukul 03.00 dini hari dalam kondisi tak sadarkan diri. Dan pukul 16.25 Papa pergi dengan tenang untuk selamanya,” kata Julia F Agusta, anaknya, kepada sumbarsatu.com, Kamis (10/12/2015).  

Julia menceritakan, saat Papanya ingin pulang ke Padang sepekan lalu, firasat sudah muncul.

Selama ini Leon Agusta berdomisili di Jakarta, sedang Julia beraktivitas di Padang.

“Papa minta pulang ke Padang pada Jumat (4/12). Tapi saya minta pulangnya hari Sabtu saja. Lalu Papa menjawab: ‘Jangan, satu hari sangat berarti’. Mendengar jawaban itu saya menjadi berfirasat, lalu Papa memang pulang hari Jumat itu dan saya menjemputnya ke BIM,” kata Julia dengan air mata menetes.

Ia menilai, kalimat orangtuanya ‘satu hari sangat berarti’ punya makna yang mendalam. Kalimat ini pula ia pahami sebagai hal bermakna dalam hidup orangtuanya.

“Sepatuh hidup Papa dihabiskan di Jakarta, tapi ia pergi untuk selamanya di Padang, di kota tempat ia pernah berkotribusi, kota yang membesarkanya, dan di sisi ibu saya. Istri Papa,” terang Julia.

Leon Agusta lahir di Sigiran, Nagari Tanjung Sani Maninjau, Sumatera Barat pada tanggal 5 Agustus 1938 adalah sastrawan dan budayawan Indonesia.

Ia pernah menjadi guru SGB Bengkalis (1959), pemimpin Bengkel Teater Padang (1972), dan anggota Dewan Kesenian Jakarta. Ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1976-1977). Kemudian menerbitkan sebuah kumpulan puisi berjudul Di Sudut-sudut New York Itu (1977) dan sebagian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Setelah menulis puisi selama lebih kurang lima belas tahun dia mengatakan: "Menulis puisi bukan pekerjaan, menjadi penyair bukan tujuan". Ini dikatakannya dengan kesadaran hidup yang lebih luas dibanding dengan masalah penciptaan puisi semata-mata.

Ia menulis banyak buku antara lain “Monumen Safari kumpulan puisi (1966), Catatan Putih kumpulan puisi (1975), “Di Bawah Bayangan Sang Kekasih novel (1978), Hukla kumpulan puisi (1979), Berkemah dengan Putri Bangau kumpulan puisi anak-anak (1981), Hedona dan Masochi kumpulan cerpen (1984). 

Hadirnya Leon Agusta Institute

Leon Agusta semasa hidupnya adalah sosok yang gelisah melihat Minangkabau saat ini. Ia menilai, kebudayaan dan orang Minangkabau berjalan di tempat. Statis. Maka perlu terobosan kultural.

“Kita terlalu lama terlena. Kaum intelektual dan budayawan Minangkabau harus segera melakukan perubahan di jalan budaya,” kata Leon suatu kali saat kami diskusi.

Maka, tiga tahun lalu, ia menggagas berdirinya Leon Agusta Isntitute LAI. LAI akan berjuang mendapatkan posisinya sebagai pernik kecil dalam hamparan kanvas yang sedang dilukis oleh bangsa Indonesia.

“Dasar pemikiran Leon Agusta Institute adalah kedasaran bahwa, untuk membangun bangsa yang besar ini diperlukan lebih banyak aktivitas oleh masyarakat sipil di daerah-daerah sebagai benteng-benteng pembangunan Indonesia,” kata Julia F Agusta, Ketua LAI.

Menurutnya, mungkin ini salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memaknai warisan pemikiran Bung Hatta tentang negara kultural Indonesia; juga untuk menebus kealpaan masa lalu yang sudah terlalu lama mengabaikan pembangunan kebudayaan.

Leon Agusta Institute didirikan untuk memberikan kontribusi pemikiran, gagasan, dan ide-ide untuk pembangunan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Leon Agusta Institute bersifat independen dan nonpartisan, tidak berafiliasi dengan organisasi sosial politik, baik di dalam maupun di luar ngeri, dan mengorientasikan keberadaannya pada upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat dalam arti seluas-luasnya.

Leon Agusta Institute beberapa waktu lalu memberikan Paga Awards kepada anak muda yang kreatif yang dinilai mampu melalukan terobosan dalam gerakan perubahan di jalan budaya. Selamat jalan Sang Pengembara. (NA) 



BACA JUGA