Dari PDRI ke Masa Depan: IASMA Birugo Usulkan Status Daerah Khusus untuk Bukittinggi

Minggu, 31/05/2026 07:20 WIB
-

-

Bukittinggi, sumbarsatu.com — Forum Cendekia dan Akademisi IASMA Birugo, didukung oleh Ikatan Alumni SMA Negeri 2 Birugo Bukittinggi, secara resmi menyerahkan Kajian Akademis Pembentukan Daerah Khusus Bukittinggi kepada Pemerintah Kota Bukittinggi, Jumat (29/5/2026).

Kajian tersebut merupakan kontribusi pemikiran para cendekiawan dan akademisi untuk mendukung pembangunan daerah sekaligus memperkuat identitas kebangsaan Indonesia.

Kajian yang disusun oleh tim akademisi lintas disiplin ilmu itu menyimpulkan bahwa Bukittinggi memiliki landasan historis, konstitusional, sosial-budaya, dan fungsional yang kuat untuk dipertimbangkan sebagai Daerah Khusus dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kajian tersebut disampaikan dalam rangkaian Alek Gadang 170 Tahun Kweekschool dan Temu Alumni SMA Negeri 2 Birugo Bukittinggi.

Menurut Forum Cendekia dan Akademisi IASMA Birugo, Bukittinggi bukan sekadar kota wisata. Kota ini merupakan salah satu ruang sejarah terpenting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Dari wilayah inilah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada tahun 1948 menjalankan fungsi penyelamatan negara ketika ibu kota Republik Indonesia jatuh ke tangan Belanda. Peran tersebut menempatkan Bukittinggi pada posisi yang unik dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia.

Usulan Daerah Khusus Bukittinggi bukanlah usulan pemekaran wilayah ataupun pembentukan provinsi baru. Sebaliknya, usulan ini diarahkan untuk memberikan kewenangan tertentu yang dapat memperkuat pengelolaan Bukittinggi sebagai kota perjuangan, pusat kebudayaan Minangkabau, kota warisan sejarah nasional, serta kawasan pariwisata dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Kajian tersebut diserahkan secara resmi oleh Koordinator Tim Penyusun, Prof. Rumainur Malin Batuah, S.H., M.H., Ph.D., bersama Ketua IASMA 2 Birugo M. Fadli dan Ade Rizki, perwakilan alumni yang juga anggota DPR RI, kepada Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Azis, yang sekaligus membuka kegiatan tersebut.

Empat Kota yang Pernah Menjadi Ibu Kota Negara

Forum Cendekia dan Akademisi IASMA Birugo mencatat bahwa dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia terdapat empat kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan atau ibu kota negara, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bukittinggi, dan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Namun, dibandingkan dengan kota-kota tersebut, Bukittinggi dinilai belum memperoleh pengakuan dan perlakuan yang setara atas kontribusi historisnya terhadap kelangsungan Republik Indonesia.

Karena itu, pengakuan terhadap kekhususan Bukittinggi dipandang sebagai bentuk penghormatan negara kepada daerah yang telah memberikan kontribusi nyata dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia pada salah satu periode paling kritis dalam sejarah bangsa.

Selain memiliki legitimasi sejarah yang kuat, Bukittinggi saat ini juga menjalankan fungsi strategis sebagai pusat perdagangan, pendidikan, budaya, jasa, dan pariwisata di Sumatera Barat. Besarnya fungsi regional tersebut membutuhkan tata kelola yang lebih adaptif agar mampu menjawab tantangan pembangunan masa depan.

Status Daerah Khusus diharapkan menjadi instrumen untuk memperkuat pendidikan sejarah dan kebangsaan; melestarikan warisan budaya Minangkabau; mengembangkan ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan; memperkuat pengelolaan kawasan warisan budaya nasional (heritage); dan meningkatkan kualitas tata kelola perkotaan dan lingkungan.

Forum Cendekia dan Akademisi IASMA Birugo mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, akademisi, tokoh adat, tokoh masyarakat, generasi muda, serta perantau Minangkabau untuk membuka ruang dialog yang konstruktif mengenai masa depan Bukittinggi.

Menurut forum tersebut, kajian dan usulan Daerah Khusus Bukittinggi bukan semata-mata berbicara tentang masa lalu. Lebih dari itu, gagasan ini merupakan upaya menempatkan sejarah sebagai fondasi pembangunan masa depan.

Bukittinggi telah menjadi bagian penting dalam proses lahir dan bertahannya Republik Indonesia. Kini, peran strategis tersebut dinilai layak memperoleh perhatian yang lebih proporsional dalam kebijakan pembangunan nasional.

“Bukittinggi bukan hanya kota yang mencatat sejarah. Bukittinggi adalah kota yang pernah menyelamatkan sejarah Republik Indonesia.”ssc/rel



BACA JUGA