-
Jakarta, sumbarsatu.com — Tekanan terhadap perekonomian Indonesia semakin terlihat dari sejumlah indikator utama. Nilai tukar rupiah kembali terpuruk ke level terendah sepanjang sejarah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 4 persen, sementara beban yang harus ditanggung akibat penahanan harga Pertamax diperkirakan mencapai belasan triliun rupiah hingga akhir tahun.
Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah menyentuh level Rp17.930 per dolar AS pada pukul 12.08 WIB. Posisi tersebut melemah 0,51 persen dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.839 per dolar AS sekaligus menjadi titik terendah sepanjang masa.
Pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Mayoritas mata uang Asia juga berada di zona merah. Rupee India melemah 0,52 persen, ringgit Malaysia turun 0,44 persen, dan baht Thailand terkoreksi 0,20 persen. Sementara itu, indeks dolar AS menguat ke level 99,26 dari sebelumnya 99,21.
Ekonom UOB Kay Hian, Surya Wijaksana, menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh menipisnya surplus perdagangan Indonesia yang berpotensi memperburuk defisit transaksi berjalan.
“Jika surplus perdagangan semakin menipis, maka risiko pelebaran defisit transaksi berjalan ke depan juga meningkat,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede. Menurut dia, surplus perdagangan April 2026 yang hanya mencapai 89,1 juta dolar AS, turun tajam dari 3,32 miliar dolar AS pada Maret, menunjukkan pasokan devisa dari perdagangan luar negeri semakin terbatas.
Di sisi lain, impor bahan baku, energi, dan barang modal terus meningkat sehingga kebutuhan dolar AS bertambah tanpa diimbangi kenaikan penerimaan ekspor.
Meski demikian, peluang penguatan rupiah masih terbuka. Josua menyebut sedikitnya ada tiga faktor yang dapat mendorong pemulihan nilai tukar. Pertama, penurunan harga minyak dunia seiring kemajuan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua, kembalinya aliran dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Ketiga, adanya sinyal fiskal yang lebih meyakinkan dari pemerintah.
“Pasar membutuhkan bukti yang lebih kuat, bukan sekadar pernyataan optimistis,” katanya.
Merespons pelemahan rupiah, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, mengatakan stabilitas nilai tukar membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar.
Selain itu, sejak 2 Juni 2026 BI memberlakukan batas pembelian valuta asing tanpa dokumen pendukung (underlying) sebesar 25.000 dolar AS per orang per bulan. BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema local currency transaction (LCT).
Beban Pertamax Menggunung
Di tengah tekanan nilai tukar, pemerintah dan PT Pertamina juga menghadapi tantangan baru terkait harga bahan bakar minyak (BBM).
Pertamina masih mempertahankan harga Pertamax pada level Rp12.300 per liter, sementara harga keekonomiannya diperkirakan sudah mencapai Rp16.427 per liter.
Menurut Josua Pardede, selisih harga tersebut berpotensi menimbulkan beban sekitar Rp2,2 hingga Rp2,3 triliun setiap bulan, dengan asumsi konsumsi Pertamax mencapai 565 juta liter per bulan.
Jika kebijakan penahanan harga terus berlanjut hingga Desember 2026, total beban yang harus ditanggung diperkirakan mencapai Rp15 triliun hingga Rp16,5 triliun.
“Pemerintah dan Pertamina menghadapi dilema. Jika harga dinaikkan mendekati harga keekonomian, inflasi akan meningkat. Namun jika tetap ditahan, beban keuangan dan risiko kompensasi akan semakin besar,” ujar Josua.
Ia menyarankan penyesuaian harga dilakukan secara bertahap, sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per liter, apabila rupiah belum menunjukkan tanda-tanda penguatan.
IHSG Terkoreksi Lebih dari 4 Persen
Tekanan ekonomi juga tercermin di pasar modal. IHSG pada penutupan sesi I perdagangan Rabu (3/6/2026) merosot 4,94 persen ke posisi 5.889,48 dan sempat menyentuh pelemahan hingga 5,13 persen.
Pada penutupan perdagangan, indeks masih berada di zona merah dengan penurunan 4,11 persen ke level 5.941.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azhari Hardian, mengatakan koreksi tajam tersebut dipicu aksi ambil untung (profit taking) pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Menurut dia, tekanan terbesar berasal dari saham-saham perbankan utama serta kelompok emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Prajogo Pangestu.
“Saham-saham konglomerasi dan bank-bank besar yang sebelumnya menjadi motor penguatan IHSG justru menjadi pemberat utama pada perdagangan hari ini,” ujarnya.
Pelemahan rupiah, meningkatnya beban energi, dan koreksi tajam pasar saham menjadi sinyal bahwa tantangan ekonomi nasional masih cukup berat. Pelaku pasar kini menunggu langkah konkret pemerintah dan otoritas moneter untuk memulihkan kepercayaan serta menjaga stabilitas ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.ssc/mn