Agam Kembangkan Kopi Arabika, 1 Kg Mencapai Rp480 Ribu

Selasa, 29/09/2015 18:50 WIB
Jenis kopi arabika

Jenis kopi arabika

Agam, sumbarsatu.com—Kopi, tanaman yang sudah sangat akrab dengan petani di Kabupaten Agam. Sejak lama tanam kopi sudah dibudidayakan, malah di aman penjajahan Belanda, perkebunan kopi pun dibangun di beberapa kawasan, seperti di Palupuh, dan Tanjung Raya.

Di era kemerdekaan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam, juga menjadikan kopi sebagai tanaman perkebunan rakyat. Sudah banyak dilakukan upaya untuk mengembangkan tanaman tersebut. Jenis kopi yang dikembangkan pun beragam, sejak dari kopi robusta, kopi ateng, dan kopi arabika.

“Kini kita mencoba mengembangkan kopi arabika,” ujar Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Agam, Ir. Yulnasri,MM, Selasa (29/9/2015).

Kopi arabika merupakan tanaman dengan pohon bisa tumbuh lebih epat, dan memiliki daun lebih lebar, serta buah lebih besar. Beda dengan kopi robusta, dan ateng, yang memiliki daun lebih kecil, dan buah juga lebih kecil. Perbedaan lainnya, kopi arabika bubuknya lebih harum, dan harganya lebih tinggi.

“Kini bubuk kopi arabika Rp480.000 kg,” ujarnya.

Tahap awal, kopi arabika dikembangkan di beberapa kecamatan, antara lain Candung, Tanjung Raya, dan Pelembayan. Sebelumnya tanaman tersebut juga sudah ditanam petani di kebun mereka, walau belum secara besar-besaran. Namun tidak ada data yang menunjukkan berapa jumlah tanaman dimaksud saat ini. Yang pasti, menurut Yulnasri, pihaknya telah memberikan bantuan bibit guna pengembangan kopi arabika 100.000 batang lebih.

“Kita berencana akan mengembangkan tanaman kopi arabika secara besar-besaran di Agam,” ujarnya pula.

Bibit kopi arabika disediakan Pemkab Agam, melalui Dishutbun, bantuan pihak Pemprov Sumbar, dan diharapkan bantuan perantau. Namun petani Agam tidak hanya mengharapkan bantuan, di antara mereka juga ada yang membeli bibit tanaman secara swadaya.

Yulnasri mengaku yakin, kalau kopi arabika mampu menjadi komoditi andalan. Karena prospeknya bagus. Bahkan ia yakin akan mampu menyaingi kakao,yang kini sudah lekat di hati petani.

“Prospeknya bagus. Bila produksi sudah banyak, kami akan mencarikan penampungan pemasaran, sehingga kopi arabika petani mendapat harga yang layak,” ujarnya lagi. (MSM)



BACA JUGA