Peluncuran buku puisi Maek karya penyair nasional Iyut Fitra dan bedah buku yang digelar di Komunitas Seni Intro, Kamis (25/12/2025). (Foto: Irfan/Padeks)
OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis)
PANJANG-PENDEK napas kelompok atau komunitas, terutama yang menaruh perhatian pada seni dan budaya, ialah kesetiaan. Tak ada yang lainnya. Memasuki wilayah seni-budaya sekalgus merawat, membesarkan, dan membuatnya terus hidup, bukan kerja gampang. Ada taruhan hidup yang besar di dalamnya. Tak banyak komunitas yang mampu bertahan sepanjang seperempat abad lebih jika tidak dengan mengontruksi kesetiaan dalam diri pendiri dan penggagas, serta anggotanya. Dan itu kini sedang dibuktikan Komunitas Seni Intro Payakumbuh.
Galibnya anak-anak muda yang acap “balungguak” setiap malam di sudut kota bernama Padang Tangah, tak jauh dari Pasa Taranak lama di Kota Payakumbuh, di permulaan tahun 1990, meneguhkan hati mereka mengikat kesetiaan dengan menyebut diri mereka “INTRO”.
Diksi “Intro” sendiri mengingatkan saya pada album Iwan Fals, sosok seniman musik yang jadi idola para muda Indonesia di eranya. Saya mereka-reka, kata serapan ini mungkin punya keterkaitan atau tidak secara emosional dengan sekelompok para muda ini yang jarang absen berkumpul setiap malam, lalu berkisah tentang cinta dan “pemberontakan” sosial itu. Tapi nyatanya, album “Intro” Iwan Fals dirilis tahun 1991 sedangkan “Intro” yang dikenalkan anak-anak malam ini dikukuhkan pada 2 Mei 1990. Bisa jadi Iwan Fals terinspirasi dari “karengkang sosial” orang-orang ini atau sebaliknya.
Saya mengenal “Intro” Payakumbuh dari kolofon karya puisi-puisi Iyut Fitra, almarhum Sigit A Yazid, dan Yusril yang terbit di pelbagai media cetak di era 1990-an dan juga obrolan sesama kawan-kawan di Padang. Selanjutnya, nyaris setiap kegiatan “Intro” yang selalu dilakukan di halaman rumah gadang di Padang Tangah yang dijadikan basis kelompok ini, saya ikut menghadirinya, kadang terlibat langsung. Kendati begitu, saya kesulitan melacaknya, sejak kapan kelompok ini melekatkan namanya “Intro” menjadi “Komunitas Seni Intro”?
Sepanjang tahun 1990-an hingga kejatuhan Soeharto pada 21 Mei 1998, kegiatan seni-budaya tak teduh-teduh digelar “Intro”. Kegiatan yang dilakukan dengan kondisi compang-camping tapi penuh cinta dan bergizi, meriah digelar. Ramai yang datang. Seni metetas kehidupan sosial. Ia seperti sangat kuat mengontrol “kekuasaan”, termasuk penguasa kebudayaan di Sumatera Barat. “Intro” muncul menjadi instrumen penting kehidupan kebudayaan di ranah Minang. Kelompok ini jadi kontributor penting dalam menentukan peta jalan perkembangan seni-kebudayaan di Sumatera Barat, terutama di Luhak Limopuluh.
28 Tahun Itu...
Saya tetap masih meyakini, sebuah kelompok seni-budaya, tentu saja dengan segenap variasi kultural di dalamnya, bisa berjalan puluhan tahun karena satu kata tadi, yakni kesetiaan pengelolanya. Kesetiaan ini diperkukuh dengan kesamaan “nasib” dengan dinamika yang memicu hormon adrenalin keegoa’n personal di dalamnya, yang tentu saja ketegangan antarpendiri dan pegiat lainnya tak terhindar. Itu biasa. Dan inilah yang mendewasakan.
“Komunitas Seni Intro” dibangun oleh personal yang senasib dalam kegelisahan sosial, kegamangan masa depan, dan kondisi politik kekuasaan yang represif saat itu, serta berkehendak mengkonstruksi ruang-ruang ekspresi mereka yang saat itu tentu saja masih didominasi kaum “seniman” mapan.
Hadirnya “Komunitas Seni Intro” yang dibangun para muda yang usia sebaya ini, saat itu sebenarnya sedang “melawan” keangkuhan seniman-budayawan yang memang sedang berada di puncaknya saat itu, yang tentu saja perlawanan itu tetap dalam kerangka saling menghormati dan mengedepankan kesantunan dan etika. Setiap zaman memang selalu begini: Sebuah keniscayaan. Mereka melawan dengan karya.
28 tahun layar “Intro” sudah dikembangkan dengan manifes anggota tercatat 300 lebih dengan intensitas masing-masing. Saya pikir, ini salah satu komunitas yang memiliki anggota cukup besar di Sumatera Barat dengan ratusan kegiatan dan iven seni yang telah digelar. Tak ada komunitas sebesar ini jumlah anggotanya dan yang akan terus membesar. Ratusan anggota yang kini tentu bergelut dengan beragam profesi dan latar belakang, jelas merupakan potensi yang sangat besar jika mampu dikelola secara baik. Ini modal sosial dan kultural yang dahsyat.
Para pendiri (Iyut Fitria, Ijot Goblin, Dalul A Warta, Sigit A Yazid, Petri Son, Yusril Katil, Cibot Irsa dan Rudi Jarot, dan lainnya) kini masih tetap mengawalnya secara intensif juga dengan intensitas masing-masing. Kini, semua mereka ini sudah beruban tapi tetap punya semangat “gila” yang keluar dari tempat tumbuh uban tersebut.
Sementara, hal yang krusial yang hampir dialami setiap kelompok atau komunitas seni, yakni regenerasi, tampaknya berjalan cukup baik. Regenerasi di tubuh “Intro” tak begitu masalah. Kendati berjalan berlahan, kapal “Intro” ini sudah mulai dilayarkan generasi “kedua”. Pada generasi ini, sekadar menyebut nama, ada Yusra Maiza (Sura), Rahman, Okta Piliang, Della Nasution, Sanur, dan lainnya.
Regenerasi memang satu “momok” yang menakutkan bagi sebuah kelompok atau komunitas seni. Sebab, sudah banyak contoh sebuah komunitas lenyap setelah pendirinya tak ada lagi. Walaupun ada, jalannya tersendat-sendat. Komunitas Seni Intro agak sukses melakoni hal krusial ini kendati dengan catatan-catatan.
Berumur seperempat abad lebih ini, bagi Komuntas Seni Intro dan juga masyarakat seni Sumatera Barat, tentu membahagiakan. Jika ada yang tak bahagia dengan usia panjang ini, saya pikir ia ada masalah dalam perasaannya.
Kehadiran komunitas ini, telah memberi warna kultural bagi Kota Payakumbuh. Puluhan kegiatan dan iven seni di Kota Galamai ini digagas dan dilaksanakan para pegiat Intro. Hal serupa, ratusan siswa di kota ini juga telah mengeyam kegiatan bengkel dan lomba-lomba seni yang digelar komunitas ini.
Kota Payakumbuh adalah salah satu kota yang sangat identik sebagai kota kreatif yang produktif dengan kegiatan keseniannya. Berbagai iven kesenian digelar di kota ini, baik dari skala kecil sampai nasional, serta internasional. Jika dirunut, tak lepas dari kehadiran Komunitas Seni Intro.
Selama ini, Komunitas Seni Intro punya agenda tahunan berupa sastra, musik, multimedia, kepenulisan, pustaka dan literasi. Gerakan Payakumbuh Membaca juga diinisiasi Intro. Selain itu, Intro juga membuka kelas bagi yang anak muda yang berminat mengenal seni: ada kelas teater, vokal, tari, musik, dan sastra.
Setelah 28 Tahun, Menuju Profesional
Keterlenaan musuh abadi orang kreatif. Frasa ini sangat tepat disematkan pada kaum kreatif, seniman, pekerja seni, sastrawan, dan sejenis ini. Tentu saja tak salah juga bagi komunitas seni. Maka, keterlenaan harus dihindari.
28 tahun waktu yang sudah dilewati, hal itu jelas sebagai jejak masa lalu. Peristiwa yang telah lewat. Ia sejarah untuk dirinya dan bukan untuk berlena-lena.
Komunitas Seni Intro dan semua yang ada di dalamnya, dipastikan harus menata rencana aksi (rancangan kegiatan berjangka, pembenahan dan tata kelola komunitas secara internal, menjalin jaringan seluasnya (eksternal), dan membangun isu dan mitos, dan seterusnya), setelah 28 tahun ke depan. Jika perlu, susun rencana 28 tahun ke depan.
Selain itu, slogan yang ditanamkan sejak berdirinya Intro, yakni “meskipun belum apa-apa, tapi kami ada dan akan terus ada”, menurut saya harus diubah. Slogan itu memang cocok 28 tahun ke belakang. 28 tahun ke depan, harus diganti dengan frasa yang lebih optimis dengan makna yang menyatakan diri lebih eksis serta tegas.
Komunitas Seni Intro, setelah 28 tahun, sudah jelas memberi kontribusi besar bagi peradaban, untuk kemanusiaan, untuk kesenian, dan kebudayaan di Sumatera Barat. Maka, “meskipun belum apa-apa” itu harus dibuang karena Intro sekarang ini “sudah apa-apa”. Jika masih slogan ini yang dipegang, maka para pendiri dan pengelola Intro “mengingkari” capaian-capaian yang telah diraih selama ini, dan ini tentu tak produktif.
Jika berkenan membicarakan tantangan ke depan yang akan dihadapi komunitas seni, tentu saja termasuk Intro, akan beda dengan 28 tahun belakang dan 28 tahun ke depan.
Amatan saya, ada beberapa hal penting yang perlu ditata kelola secara baik menyangkut pola kerja nonkreatif di Komunitas Seni Intro. Pertama, pembenahan masalah administrasi dan legalitas hukum Komunitas Seni Intro. Perbaikan ini tentu akan menyangkut perencanaan kerja yang bersinergi dengan pihak lain. Administrasi dan legalitas ini sangat penting karena manjadi salah satu syarat utama.
Kedua, membuat perencanaan kerja jangka pendek, menengah, dan panjang. Perencanaan ini tentu disinkronkan dengan kemampuan dan kekuatan sumber daya yang dimiliki. Perencanaan ini merupakan tolak ukur capaian kerja yang disusun.
Ketiga, membaca dan sekaligus menangkap tren pemikiran kesenian dan kebudayaan yang sedang dan akan berkembang dalam arti luas ketika akan menyusun rancangan program. Sebaliknya juga bisa dilakukan sebagai “pertama” yang melontarkan isu-isu kesenian.
Keempat, menjalin kerja sama dengan institusi lain, baik pemerintah maupun lembaga yang menaruh perhatian bada kesenian-kebudayaan, serta memanfaatkan peluang penggunaan dana CSR BUMN, dan lainnya.
Kelima, menggali dan mengelola ratusan “alumni” Intro yang tersebar di penjuru Indonesia. Pengelolaan yang dimaksud bukan “bantuan finansial” tapi lebih pada membuka kemungkinan kerja sama dengan jejaring yang dimiliki alumni itu.
Lima poin itu bukan harga mati. Ia tetap menganut kaidah berlapang-lapang menjalankannya, dan selalu diskusi.
Selamat 28 tahun Intro, “Meskipun sudah apa-apa, tapi kami ada dan akan terus ada.”*
Padang, 7 Juni 2018
Catatan: Delapan tahun lalu, untuk merayakan 28 tahun Komunitas Seni Intro Payakumbuh, saya diminta oleh Iyut Fitra menuliskan kesan dan, pandangan terhadap komunitas yag juga bagian dalam perjalanan saya. Ini tulisan itu. Alfatihah buat Kuyut. NA