Thailand Setujui Investasi Raksasa USD 29 Miliar, Dorong Pusat Data dan Energi Bersih

Rabu, 06/05/2026 17:29 WIB
rt

rt

Bangkok, sumbarsatu.com--Thailand kembali menunjukkan ambisinya sebagai kekuatan baru di ekonomi digital Asia. Melalui Thailand Board of Investment (BOI), negara ini menyetujui gelombang investasi raksasa senilai 958 miliar baht atau sekitar USD 29 miliar.

Nilai ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal kuat meningkatnya kepercayaan investor global terhadap posisi Thailand sebagai pusat infrastruktur digital kawasan.

Di balik keputusan ini, ada dorongan besar untuk menjawab lonjakan kebutuhan akan pusat data, layanan cloud, dan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Proyek paling mencolok datang dari TikTok System (Thailand) Co., Ltd. yang menggelontorkan investasi sekitar USD 25 miliar.

Perusahaan ini akan memperluas jaringan server serta sistem penyimpanan dan pemrosesan data di Bangkok dan sejumlah wilayah industri sekitarnya. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa Asia Tenggara kini menjadi medan strategis bagi pertumbuhan ekonomi digital global.

Tak hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur, investasi ini juga menyentuh aspek penguatan sumber daya manusia. TikTok, misalnya, berkomitmen mengembangkan kurikulum literasi digital dan e-commerce.

Ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem digital yang tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan tenaga kerja lokal.

Selain TikTok, dua perusahaan lain turut memperkuat sektor pusat data, yakni Skyline Data Center and Cloud Services Co., Ltd. dan Bridge Data Centres IIO (Thailand) Co., Ltd.. Kedua proyek ini menambah kapasitas besar dalam layanan cloud dan hosting data, menandai semakin padatnya kompetisi infrastruktur digital di kawasan.

Namun, di balik ekspansi digital tersebut, Thailand juga menyadari satu hal krusial: energi. Pusat data membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan stabil. Karena itu, pemerintah tidak hanya membuka pintu investasi, tetapi juga mempercepat reformasi sektor energi.

Mulai dari pengembangan energi terbarukan, skema pembelian listrik langsung (Direct PPA), hingga tarif hijau yang memberi opsi penggunaan energi bersih bagi industri.

Langkah ini diperkuat dengan investasi di sektor energi dan industri pendukung, seperti proyek pembangkit listrik tenaga angin di Nakhon Ratchasima serta pengolahan plastik daur ulang di Rayong. Ini menunjukkan bahwa transformasi yang dilakukan Thailand tidak bersifat parsial, melainkan menyeluruh—menggabungkan teknologi, energi, dan industri dalam satu arah pembangunan.

Melalui mekanisme Thailand FastPass, pemerintah juga memangkas birokrasi agar proyek strategis dapat segera berjalan. Kecepatan menjadi kunci. Dalam lanskap ekonomi global yang kompetitif, negara yang mampu bergerak cepat dan siap secara infrastruktur akan menjadi pemenang.

Sekretaris Jenderal BOI, Narit Therdsteerasukdi, menegaskan bahwa Thailand kini memasuki siklus investasi baru. Dalam fase ini, bukan hanya insentif yang menentukan, tetapi juga kesiapan energi, ketersediaan talenta, dan efisiensi regulasi.

Dengan kombinasi tersebut, Thailand sedang menata dirinya bukan sekadar sebagai tujuan investasi, tetapi sebagai pusat teknologi regional. Sebuah langkah strategis yang menempatkannya di garis depan dalam perlombaan ekonomi digital Asia.ssc/rel



BACA JUGA