Ali Sukri: Kesantunan Harus Ada dalam Diri Seniman

PENERIMA ANUGERAH MENTERI PARIWISATA

Jum'at, 05/12/2014 23:26 WIB
Ali Sukri: Kesantunan Harus Ada dalam Diri Seniman

Ali Sukri: Kesantunan Harus Ada dalam Diri Seniman

Padang Panjang, sumbarsatu.com—Ali Sukri, koreografer dari Sumatera Barat, adalah sosok yang menyadari bahwa dirinya berada pada posisi sekarang, bukan karena ia bekerja sendiri.

“Banyak orang yang berkontribusi baik tenaga dan pikiran dalam proses kreativitas saya. Bagi saya, kerja koreografi bukan kerja individu, tetapi tim dan kolektif. Dalam kerja kolektif itulah proses pembelajaran terjadi. Ada egoistis dan arogansi yang disingkirkan jauh-jauh. Kesantunan harus ada dalam diri seniman,” kata Ali Sukri kepada sumbarsatu.com, Jumat (5/12/2014).

Ia jelaskan, kesantunan sebenarnya bisa lenyap kalau arogansi lebih mengemuka. Sikap arogansi  ini tak pandang usia atau senioritas, maupun yunior, atau muda dan tua.

“Yang membuat seniman itu dihormati dan dihargai bukan semata karyanya saja, tapi sikapnya. Ini penting,” jelasnya.  

Pada tahun 2014 ini, Ali Sukri, menerima penghargaan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Ali Sukri, yang baru mementaskan karyanya pada Indonesian Dance Festival (IDF) Jakarta, merupakan satu dari  delapan seniman dan pelaku seni pertunjukan yang diganjar anugerah.

Baca: Koreografer Ali Sukri Menerima Anugerah dari Menteri Pariwisata

Ali Sukri menyebutkan, anugerah ini menjadi titik penting dalam karir tarinya. “Saya mengapresiasi anugerah ini. Dan akan jadi pelecut dari saya untuk berkarya lebih maksimal dan berkerja lebih keras lagi,” katanya.

Sebelumnya, pada 12 Juni hingga 26 Juli 2014, Ali Sukri, mewakili Indonesia tampil di American Dance Festival (ADF) yang digelar di Kota Durham dan Duke University, North Carolina, USA. Festival tari bertaraf internasional yang digelar pada musim panas.

“Saya berangkat ke Amerika mengikuti ADF. Saya terpilih dari ratusan peserta yang diseleksi panitia ADF. Posisi saya mewakili Indonesia, juga Sumatera Barat. Karya yang saya bawakan berjudul The Inside yang akan dipentaskan pada 25 Juli di Durham,” kata Ali Sukri.

Menurut Ali Sukri, yang juga pengajar Jurusan Tari di ISI Padangpanjang itu, sebelum pertunjukan, ia memilih mahasiswa penari di AS untuk dilibatkan dalam proses kreatifnya.

Dalam garapan koreografi The Inside ini, Ali Sukri tetap konsisten mensenyawakan karya konteporernya dengan kekayaan seni tradisi Minang, seperti seni ulu ambek, silek kumango.

“Basis seni tradisi Minang itu tak mungkin saya tinggalkan. Itu inspirasi dalam proses kreatif saya,” terangnya.

American Dance Festival merupakan iven tari yang telah digelar sejak 1934. ADF termasuk festival seni tertua di AS. ADF didirikan, antara lain koreografer Martha Graham, Doris Humphrey, dan Charles Weidman di kota Bennington, Vermont.

Beberapa waktu lalu, ia juga ikut Indonesian Dance Festival (IDF) yang digelar di Jakarta. Karya kolaborasi dengan seniman Belgis diberi judul “Kris Is”.

 

Ali Sukri merupakan di Pariaman, 28 Oktober 1978, merupakan salah seorang koreografer muda asal Sumatra Barat. Alumni SMKI pada 1997 ini pertama  kali menggarap lomba tari kreasi tari tunggal se-Kota Padang, dan memenangkan juara pertama.

Ali Sukri lulus S-1 STSI tahun 2002,  dan mengajar di almamaternya di STSI Padangpanjang sambil tetap aktif membuat karya. Pada 2008 Ali Sukri menamatkan program pascasarjana di ISI Surakarta.

Karya tari yang pernah dihasilkannya Puisi Tubuh (2009), Jamuran (2008), Inkarnasi dan Termakan Kata (2007), Pintu (2006), Pengantin Ombak dan Batu (2005).

Ali Sukri kelahiran Pariaman, 28 Oktober 1978, merupakan salah seorang koreografer muda asal Sumatra Barat. Alumni SMKI pada 1997 ini pertama  kali menggarap lomba tari kreasi tari tunggal se-Kota Padang, dan memenangkan juara pertama.

Ali Sukri lulus S-1 STSI Padang Panjang tahun 2002,  dan kini mengajar di almamaternya di ISI Padangpanjang sambil tetap aktif membuat karya. Pada 2008 Ali Sukri menamatkan program pascasarjana di ISI Surakarta.

Karya tari yang pernah dihasilkannya Puisi Tubuh (2009), Jamuran (2008), Inkarnasi dan Termakan Kata (2007), Pintu (2006), Pengantin Ombak dan Batu (2005). (SSC/NA)

 



BACA JUGA