PLTA Maninjau Dinilai Kurang Libatkan Pemkab Agam dalam Reboisasi Hutan di Selingkar Danau Maninjau

Kamis, 05/02/2015 09:46 WIB
PLTA Maninjau

PLTA Maninjau

Agam, sumbarsatu.com—Banyak kalangan menilai manajemen PLTA Maninjau, kurang peduli terhadap lingkungan. Buktinya, jika debit air Danau Maninjau menyusut, mereka jadikan sebagai alasan untuk melakukan pemadaman listrik bergilir. Sementara BUMN plat merah ini kurang memerhatikan lingkungan seputar Danau Maninjau .

Penilaian demikian disampaikan Yulnasri, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Kabupaten Agam, Kamis, (5/2/2015) terkait dengan seringnya listrik padam.

Menurutnya, bukti kekurangpedulian pihak PLTA Maninjau tersebut bisa dilihat dari perhatian dan dukungan mereka terhadap upaya penghijauan kawasan hutan di perbukitan sekitar Danau Maninjau. Padahal pihak Pemkab Agam sudah melayangkan surat, agar pihak PLTA Maninjau ikut mendukung program penghijauan yang tengah digalakkan Pemkab Agam.

"Pemkab Agam sudah melayangkan surat kepada manajemen PLTA Maninjau dan tembusan ke induknya, Kantor PLN di Palembang dan Jakarta, meminta agar pihak PLN ikut berperan dan berkontribusi penghijauan hutan di sekitar bukit Danau Maninjau, tetapi hingga kini belum ada respons,” kata  Yulnasri.

Dalam surat yang ditandatangani Bupati Agam itu diminta pihak PLTA Maninjau dan PLN untuk ikut berpartisipasi mendukung program penghijauan di daerah itu, khususnya di kawasan sekitar Danau Maninjau.

“Agar dukungan tersebut tepat guna, disarankan agar pihak PLTA atau PLN melakukan koordinasi dengan Dinas Hutbun Agam,” ungkapnya.

Namun kenyataannya, sampai saat ini, Yulnasri mengaku belum pernah ada koordinasi dari pihak manajemen PLTA Maninjau, maupun PLN, walaupun ada informasi warga pihak PLTA memberikan bantuan bibit tanaman kepada warga.

Saat ini, dari survei lapangan yang dilakukan, kata Yulnasri, dari 83 aliran sungai yang bermuara ke Danau Maninjau, kini hanya 32 sungai saja yang masih dialiri air yang bermuara ke Danau Maninjau. Sisanya sudah kering.

Salah satu solusi mengatasi masalah tersebut, menurut Yulnasri, adalah melakukan penanaman kembali hutan di kawasan itu. Kegiatan ini sudah dilakukan Pemkab Agam, didukung berbagai pihak, termasuk perusahaan perkebunan yang ada di daerah itu

“Kegiatan ini dilakukan dalam koordinasi Dinas Hutbun Agam. Tapi yang namanya PLTA Maninjau tampak tak serius dalam program ini. Bibit yang diberikan PLTA itu sudah banyak yang mati,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Badan Pelestarian Danau Maninjau (BPDM) Kecamatan Tanjung Raya, Kasman Iskandar Muda mengatakan, bantuan yang diberikan pihak PLTA memang melalui wali nagari, bukan lewat BPDM.

“PLTA Maninjau memberikan bantuan bibit pohon lewat wali-wali nagari, bukan BPDM. Padahal lembaga BPDM itu berbadan hukum, dan kita tak pernah dilibatkan,” kata Kasman Iskandar.

Menurutnya, pihak PLTA Maninjau tidak serius melestarikan hutan dan bebukitan yang memasok air ke Danau Maninjau. Jika pihak PLTA Maninjau mau melibatkan BPDM, tentu tak akan terjadi bibit yang mati. “Selama ini tak ada kontribusi PLTA Maninjau terhadap masyarakat sekitar danau ini.”

Usman, salah seorang tokoh muda masyarakat di Kecamatan Tanjung Raya, mengatakan, PLTA Maninjau harus walau bagaimanapun harus berkoordinasi dengan instansi teknis (Dinas Hutbun) karena instansi inilah yang mengetahui di mana bibit tanaman sebaiknya ditanam agar mampu mendukung pengadaan air untuk Danau Maninjau.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi ke pihak PLTA Maninjau, Dasril selaku Manajemen PLTA mengatakan, bahwa pihaknya telah melakukan program pelestarian dan reboisasi hutan di selingkar Danau Maninjau melalui penanaman kembali hutan di sekitar danau.

"Kami melakukan penanaman pohon langsung melibatkan pihak nagari dan menyerahkan langsung bibit tanaman kepada mereka. Jadi tidak melalui pihak Dinas Kehutanan dan Perkebunan Agam. Karena pihak nagari sudah termasuk perpanjangan tangan pemerintah daerah," ujarnya. (SSC-2)

 



BACA JUGA