-
Eva tampil mengenakan kebaya berwarna merah muda yang dipadukan dengan busana kasual. Ia berbaur bersama peserta aksi yang menyuarakan berbagai persoalan, mulai dari kesetaraan gender, hak perempuan, keadilan ekonomi, hingga penghentian kekerasan.
Mengutip pemberitaan detikHot, Sabtu (7/11/2026), Eva Celia menjadi salah satu figur publik yang mencuri perhatian dalam aksi tersebut. Selain Eva, sejumlah selebritas lain juga terlihat hadir, di antaranya Tara Basro, Sherina Munaf, Della Dartyan, Shahnaz Soehartono, dan Kristo Immanuel.
Sementara itu, IDN Times dalam pemberitaannya pada hari yang sama menyebut Eva termasuk sejumlah artis yang turun langsung mengikuti Women's March Jakarta 2026. Eva terlihat mengenakan kebaya merah muda dan berada di tengah kerumunan peserta aksi.
Laut Bercerita dan Ingatan tentang Perjuangan
Kehadiran Eva dalam Women's March Jakarta juga menarik perhatian karena perannya dalam film Laut Bercerita, adaptasi novel karya Leila S. Chudori yang disutradarai Yosep Anggi Noen.
Dalam film tersebut, Eva memerankan Ratih Anjani, kekasih Biru Laut Wibisana yang diperankan Reza Rahadian. Karakter Anjani menggambarkan kehidupan personal seorang aktivis di tengah tekanan politik pada masa Orde Baru.
Film yang mulai tayang di bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026 itu juga dibintangi Dian Sastrowardoyo, Kevin Julio, Yunita Siregar, Christine Hakim, dan sejumlah aktor lainnya.
Kehadiran Eva dalam Women's March Jakarta berlangsung di tengah aksi yang turut mengangkat persoalan kebebasan sipil, kekerasan, diskriminasi, dan penghormatan terhadap HAM.
Women's March Jakarta 2026 mengusung tema "Negara Menindas, Kita Lawan!" Aksi dimulai sekitar pukul 06.30 WIB dari kawasan Simpang Sarinah menuju Patung Kuda, Jakarta Pusat. Pesertanya berasal dari berbagai kelompok, mulai dari komunitas perempuan, buruh, masyarakat adat, aktivis lingkungan, hingga kelompok rentan.
Aksi tersebut membawa sembilan tuntutan yang berkaitan dengan keadilan ekonomi, perlindungan sosial, penghapusan kekerasan dan diskriminasi berbasis gender, pemenuhan hak kesehatan reproduksi, serta perlindungan kebebasan berekspresi.
Peserta juga menuntut penghentian kekerasan berbasis gender online, legislasi berbasis HAM, penghentian militerisasi ruang sipil, penyelesaian persoalan di Papua, dan terwujudnya keadilan ekologis. Mereka turut mendesak evaluasi kebijakan publik, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), apabila keselamatan masyarakat tidak dapat dijamin.
Salah seorang koordinator aksi, Vivi, mengatakan perjuangan hak perempuan tidak dapat dipisahkan dari persoalan ekonomi, lingkungan, kebebasan sipil, dan penghormatan terhadap HAM.
"Keadilan gender tidak mungkin hadir tanpa adanya keadilan ekonomi, tanpa adanya keadilan ekologis, kebebasan sipil, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia," ujar Vivi.
Aksi tersebut juga sempat diwarnai saling dorong antara peserta dan aparat kepolisian ketika massa hendak bergerak dari Jalan MH Thamrin menuju Patung Kuda.
Kedua konteks tersebut memiliki persinggungan pada isu hak dan keadilan, meskipun keikutsertaannya dalam aksi tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai pernyataan politik yang secara khusus mewakili karakter yang diperankannya dalam film. ssc/mn