Karya seni kolaborasi “Tubo Eutrofikasi” dipertunjukan di Festival Kesenian Indonesia (FKI) ke-13, tanggal 22 Oktober 2026 di Gedung Pertunjukan Huriah Adam ISI Padang Panjang. Foto Denny Cidaik
OLEH Sahrul N
KARYA seni kolaborasi “Tubo Eutrofikasi” dipertunjukan di Festival Kesenian Indonesia (FKI) ke-13, tanggal 22 Oktober 2026 di Gedung Pertunjukan Huriah Adam ISI Padang Panjang. FKI sendiri dilaksanakan dari tanggal 20-24 Oktober 2026 yang menampilkan karya-karya unggulan dari sembilan perguruan tinggi seni se-Indonesia serta partisipan dari Malaysia dan Tarjikistan.
Karya ini merupakan kolabrorasi dari beberapa genre seni yaitu tari, teater, musik, dan visual art. Koreografer karya Tubo Eutrofikasi adalah Ali Sukri yang dibantu oleh Komposer Indra Arifin, Eva Yanti sebagai Viual Art, Sahrul N sebagai Dramaturg, Afrizal H sebagai Penulis Naskah, Adriandi sebagai artistik, dan Dedi Darmadi sebagai penata lampu.
Di bagian ketiga karya ini terlihat dua tokoh (Siti Rasani dan Giran) yang membicarakan tentang bencana yang akan datang melanda negeri akibat kutukan Giran yang merasa tidak melanggar pantang. Sampai kemudian Giran meninggalkan Siti Rasani dalam kehancuran.
Folklore ini bicara tentang terbentuknya Danau Maninjau juga diwarnai oleh cerita rakyat (Folklor) yang beredar di tengah masyarakat yaitu legenda “Bujang Sambilan”. Legenda Bujang Sambilan merupakan cerita rakyat yang sangat terkenal di Sumatera Barat dan sering dikaitkan dengan asal-usul terbentuknya Danau Maninjau. Cerita ini bukan penjelasan ilmiah tentang terbentuknya danau, melainkan legenda yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar Maninjau.
Pada zaman dahulu, di sebuah daerah yang sekarang dikenal sebagai Maninjau, hiduplah sembilan orang bersaudara laki-laki yang dikenal sebagai Bujang Sambilan. Mereka tinggal bersama saudara perempuan mereka, Siti Rasani. Siti Rasani kemudian memiliki hubungan dengan seorang pemuda bernama Giran. Namun, hubungan tersebut menimbulkan masalah karena Bujang Sambilan mencurigai Giran telah melakukan sesuatu yang tidak baik terhadap Siti Rasani. Karena termakan fitnah dan tidak mencari kebenaran terlebih dahulu, Bujang Sambilan menjadi marah. Mereka kemudian menuduh Giran dan Siti Rasani melakukan perbuatan yang tidak pantas.
Giran berusaha menjelaskan keadaan sebenarnya, tetapi tuduhan tersebut tidak dipercaya. Perselisihan akhirnya semakin besar. Dalam beberapa versi cerita, Giran kemudian mengucapkan sumpah bahwa jika tuduhan terhadap dirinya dan Siti Rasani tidak benar, maka akan terjadi bencana besar di tempat tersebut.

KARYA seni kolaborasi “Tubo Eutrofikasi” dipertunjukan di Festival Kesenian Indonesia (FKI) ke-13, tanggal 22 Oktober 2026 di Gedung Pertunjukan Huriah Adam ISI Padang Panjang. foto denny cidaik
Tidak lama kemudian, terjadilah gempa bumi dan letusan gunung yang sangat dahsyat. Tanah tempat mereka tinggal berubah bentuk, lembah menjadi cekungan yang sangat luas, dan air memenuhi cekungan tersebut. Sementara itu, kesembilan Bujang Sambilan dipercaya berubah menjadi bukit-bukit yang mengelilingi danau.
Terbentuknya Danau Maninjau merupakan hasil dari bencana ekologi yaitu terjadinya gempa yang dahsyat sehingga terbentuk danau. Gempa bumi pada dasarnya merupakan fenomena geologi yang terjadi akibat pelepasan energi dari dalam bumi, umumnya karena pergerakan lempeng tektonik. Namun, ketika gempa menimbulkan kerusakan pada tanah, air, hutan, kawasan pesisir, dan habitat makhluk hidup, dampaknya dapat berkembang menjadi bencana ekologis.
Bencana ini tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fisik, seperti bangunan runtuh atau jalan retak, tetapi juga dengan terganggunya hubungan antara manusia, makhluk hidup, dan lingkungan tempat mereka bergantung.
Dari dua peristiwa (kondisi ekologis dan folklor) ini, karya seni “Tubo Eutrofikasi” diciptakan. Folklor tentang pembentukan Danau Maninjau menjadi inspirasi dalam mengungkapkan tentang kondisi alam yang telah rusak oleh fitnah dan perilaku manusia. Dalam narasinya, mitos Bujang Sembilan diposisikan sebagai alarm alam.
Cerita rakyat mengenai fitnah dan sumpah yang berujung pada letusan Gunung Tinjau dimaknai sebagai simbol bahwa setiap "goncangan" alam selalu dipicu oleh ketidakadilan manusia, baik terhadap sesama makhluk hidup maupun terhadap lingkungan sekitarnya.
"Tubo Eutrofikasi" yang dikaitkan dengan legenda Bujang Sembilan di Danau Maninjau adalah fenomena keracunan air akibat amonia (tubo) dan penurunan oksigen yang memicu kematian massal ikan, yang oleh masyarakat tradisional dihubungkan dengan kutukan cerita rakyat, namun secara ilmiah merupakan masalah lingkungan akibat kesuburan perairan yang berlebihan (eutrofikasi).
Pesan simbolis tersebut kemudian dihubungkan secara langsung dengan realitas ekologi masa kini, di mana fenomena "Tubo" atau upwelling amonia yang kerap melanda Danau Maninjau merupakan bentuk "letusan" modern yang nyata. Krisis ekologis ini tidak lagi disebabkan oleh kutukan mitologis, melainkan akibat nyata dari polusi dan eksploitasi alam yang berlebihan oleh tangan manusia.
Secara visi dan filosofi, karya ini bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal Minangkabau dengan urgensi pelestarian ekosistem perairan masa kini melalui sinergi yang harmonis antara kekuatan gerak tubuh dan teknologi visual modern.
Pertunjukan ini berjalan secara linear yang dimulai dengan seorang penari perempuan yang terkapar di tengah panggung, di atas batu besar. Musik menggelagar memperdengarkan suasana bencana yang luar biasa. Di sekeliling panari terlihat batu-batu yang beserakan memperlihatkan bahwa negeri ini telah dilanda bencana alam yang maha dahsyat.

KARYA seni kolaborasi “Tubo Eutrofikasi” dipertunjukan di Festival Kesenian Indonesia (FKI) ke-13, tanggal 22 Oktober 2026 di Gedung Pertunjukan Huriah Adam ISI Padang Panjang. foto denny cidaik
Di bagian belakang panggung, lewat visual art, tergambar simbol air danau yang sudah mulai tenang yang menandakan bahwa sebuah danau telah terbentuk secara alami. Perlahan penari perempuan tersebut bangkit dan melihat ke sekeliling yang penuh tumpahan batu. Penari ini kemudian melakukan gerakan kontemporer. Adegan berikutnya masuk delapan penari laki-laki yang juga bergerak secara kontemporer.
Gerak tari diambil dari gerak tari Bujang Sambilan karya Sawanismar yaitu Gerak Padah (memberi pesan atau nasehat), Gerak Koyah (melambangkan kelembuatan dan keluesan), Gerak Lapiah Jerami (melambangkan kerjasama dan kehidupan agraris masyarakat), Gerak Awan Bentan (melambangkan keindahan alam dan gerak yang mengalir dan lembut), Gerak Adau-Adau (Gerakan keraguan atau permainan persaan), Gerak Langkah Tigo (melambangkan keteraturan, keseimbangan dan kekompakan).
Gerak ini oleh koreografer diolah sehingga melahirkan gerak yang estetik kontemprer yang disesuai dengan inti cerita yang diinginkan. Gerak tari Bujang Sambilan hanyalah tempat berpijak untuk melahirkan gerak yang lebih kekinian.
Pada bagian ketiga masuk dua tokoh yaitu Siti Rasani (perempuan) yang membawa dan memainkan kecapi dan Giran (laki-laki) yang berdialog tentang fitnah yang dilayangkan oleh masyarakat terhadap mereka berdua. Fitnah tersebutlah yang menyebabkan adanya kehancuran di danau Maninjau.
Giran pergi meninggalkan Siti Rasani yang terlihat pasrah pada nasib. Pada bagian ini memperlihat genre teater yang sangat kental dengan konsep realisme sehingga sedikit kontral dengan gerak kontemporer yang dilakukan penari. Mungkin penggarap agak kesulitan dalam menyatukan tari dengan teater.
Seharusnya dramatik terlihat pada gagasan yang mengatur alur emosi, konflik, suasana, dan perkembangan peristiwa dalam sebuah pertunjukan tari. Konsep ini membuat tari tidak hanya menjadi rangkaian gerakan, tetapi juga memiliki cerita atau pesan yang dapat dirasakan oleh penonton. Karya seni akan membicarakan tentang kerusakan alam yang didukung oleh cerita rakyat yang legendaris. Sebagai sebuah cerita, tentu karya ini akan memuat unsur dramatik yang tersusun dalam struktur karya yang fenomenal.
Karya seni “Tubo Eutrofikasi” berlanjut pada adegan penari masuk dengan memakai masker yang memperlihatkan bahwa karya ini ingin meluaskan maknanya pada konteks kekinian yaitu alam yang dirusak manusia. Kondisi hari ini dimana alam telah dipenuhi oleh asap akibat kebakaran hutan. Manusia menjadi sakit, udara penuh karbondioksida yang menyebabkan panas yang luar biasa.
Penari bergerak seperti robot-robot yang tidak tentu arah dan kemudia mereka kembali ke luar panggung. Tokoh Siti Rasani kembali masuk dengan tetap membawa alat musik kecapi. Sementara tokoh Giran masuk dari belakang dengan megaphone dan berteriak memprotes kebijakan yang menghancurkan hubungan dia dengan Siti Rasani serta memprotes terjadinya kerusakan alam.
Diakhir pertunjukan terlihat Siti Rasani berdendang tentang alam yang rusak, sementara seluruh penari menunjuk ke arah penonton solah menghakimi manusia.
Musik yang mendukung karya ini mengalir dengan baik. Pada bagian tokoh berdialog musik dihentikan. Pola gandang dan irama dendang Minangkabau yang ada pada tari bujang sembilan kemudian di olah sedemikian rupa untuk bisa berinteraksi dengan dengan bahasa musikal kontemporer hari ini.
Bunyi tradisional dan soundscape memasuki ruang digital melalui sampling, looping, sequencing, granular processing, filtering, dan pengolahan spasial. Bunyi akustik kemudian dapat berubah menjadi tekstur elektronik, ritme, atau lapisan resonansi baru. Dengan cara ini, teknologi menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan musikal masa lalu dengan kemungkinan penciptaan masa kini.
Keseluruhan proses tersebut membentuk suatu sirkulasi material: lingkungan menjadi rekaman, rekaman menjadi serpihan bunyi, serpihan menjadi struktur musikal, tradisi menjadi material transformasi, tubuh menjadi energi, dan teknologi menjadi ruang resonansi baru.*