Nelayan Ikan Asin Dusun Bose Mentawai: Jika Tak Ada yang Beli Ikan Kami Akan Buang ke Laut

Potret Perjuangan Nelayan dan Pengolah Ikan Asin Dusun Bose, Siberut Utara, Mentawai, Menembus Keterbatasan Pasar

Senin, 12/10/2026 21:04 WIB
-

-

TIM PENULIS: Dr. Zaiyardam, M.Hum., Prof. Pramono, S.S., M.Si., Ph.D., Adila Adisti, S.E., M.Ec., M.E., Muhammad Ichsan Kabullah, S.IP., MPA., Sitti Baitsati Dzakiyah, Liza Tania, Rafif Zulfan, dan Imam Gracia Marshall

 

Jangan kasih ikan tetapi berilah jaring


PERJALANAN panjang yang memacu adrenalin sekaligus mengasyikkan tim pengabdian masyarakat LPPM Universitas Andalas menuju Dusun Bose, Desa Muaro Sikabaluan, Siberut Utara, Mentawai, meninggalkan kesan mendalam dalam jiwa.

Untuk mencapai dusun itu, perjalanan harus mengarungi Samudra Hindia. Perjalanan menggunakan kapal cepat Mentawai Fast dapat ditempuh dalam waktu empat jam. Jika menggunakan kapal Roro, perjalanan bisa mencapai 11 jam. Tidak jarang pula perjalanan di tengah samudra diwarnai badai yang sulit diperkirakan, bahkan badai yang berpotensi menenggelamkan kapal.

Setelah melewati samudra, perjalanan masih harus dilanjutkan dengan menggunakan pompong selama satu jam untuk mencapai dusun yang terpencil, terluar, dan terasing itu.

Setelah berada di dusun kecil di utara Siberut itu, kami merasa bahwa jarak geografis bukanlah persoalan yang paling menentukan.

Ada jarak lain yang jauh lebih penting, yakni jarak antara orang yang mampu menghasilkan pendapatan tinggi dan orang yang penghasilannya habis untuk memenuhi kebutuhan pada hari itu juga. Di Dusun Bose, jarak tersebut terlihat dengan jelas, terutama dalam persoalan pendapatan nelayan tradisional yang menangkap ikan.

Perjalanan menggunakan pompong dari Pojak ke Bose)

Nelayan Bose tidak mengenal ikan hanya dari buku teks. Mereka mengenalnya melalui pengalaman yang berlangsung dari hari ke hari: dari laut, perahu, jaring, perubahan angin, panas matahari, dan musim yang tidak selalu dapat diperkirakan.

Mereka mengetahui jenis ikan yang baik untuk diasinkan, memahami cara garam bekerja, memperkirakan waktu pengeringan, serta membaca perubahan cuaca yang menentukan apakah ikan akan cepat kering atau harus menunggu beberapa hari lagi.

Catatan lapangan bahkan memperlihatkan beragam jenis ikan yang biasa mereka olah, mulai dari baracung, jompo, gabua, kerapu, pinang-pinang, jorong, bayang, tanduk, hingga toda. Ikan yang digunakan merupakan hasil tangkapan segar, diolah menggunakan garam beryodium, dan tidak diberi formalin.

Pengetahuan seperti itu tidak lahir hanya dari satu atau dua kali pelatihan. Pengetahuan tersebut terbentuk melalui hubungan panjang antara manusia, laut, dan pengalaman bekerja.

Meskipun memiliki pengetahuan mendalam tentang dunia ikan, masyarakat Bose dihadapkan pada persoalan besar lainnya, yaitu keterbatasan sarana dan prasarana. Sehebat apa pun mereka memahami laut dan proses pengelolaan ikan, mereka tetap berhadapan dengan kenyataan bahwa peralatan yang dimiliki sangat terbatas dan teknologinya masih sederhana.

Mereka hanya bisa menangkap ikan di sekitar teluk dekat dusun. Jika keluar dari teluk itu, bahaya dapat muncul secara tiba-tiba. Badai atau gelombang besar yang datang mendadak dapat dengan mudah menenggelamkan pompong kecil yang mereka gunakan di tengah ganasnya gelombang Samudra Hindia.

Pada gilirannya, wilayah penangkapan ikan mereka hanya terbatas di sekitar teluk tersebut. Di sinilah persoalan besar muncul karena peralatan yang mereka miliki masih sangat terbatas.

Di Mana Negara?

Pagi di Dusun Bose selalu dimulai dengan laut. Dari tepian dusun, perahu-perahu kecil menjadi bagian dari rutinitas masyarakat. Nelayan berangkat membawa jaring, berharap laut hari itu cukup murah hati untuk mengisi perahu mereka.

Bagi masyarakat Bose, laut bukan sekadar bentang perairan yang mengelilingi tempat tinggal. Laut merupakan ruang hidup, sumber pangan, sekaligus tempat menggantungkan penghasilan keluarga. Namun, laut yang melimpah tidak selalu berarti kesejahteraan yang melimpah.

Di Dusun Bose, Desa Muaro Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, masyarakat telah memiliki keterampilan mengolah hasil tangkapan menjadi produk yang mempunyai nilai tambah. Salah satunya adalah ikan asin.

Produk ini lahir dari pengetahuan masyarakat pesisir dalam mengawetkan hasil laut, sekaligus menjadi upaya agar ikan dapat bertahan lebih lama dan memiliki nilai ekonomi ketika tidak seluruh hasil tangkapan dapat segera terjual.

Persoalan muncul ketika ikan sudah menjadi produk. Ke mana ikan asin tersebut harus dipasarkan? Pertanyaan itu menjadi salah satu persoalan yang mengemuka dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui skema Desa Binaan (PKM-DB) Universitas Andalas yang dilaksanakan pada 1-7 Agustus 2026, di Dusun Bose.

Kegiatan pengabdian tersebut menemukan bahwa kualitas produk ikan asin masyarakat sebenarnya telah memiliki modal yang cukup baik. Persoalan justru terletak pada mata rantai setelah produksi, yaitu pemasaran, distribusi, ketersediaan bahan baku, hingga kemampuan menjaga produksi secara konsisten.

Diskusi ketua pengabdian kepada masyarakat LPPM Unand dengan Bapak Panukanan Saguntungan, S.A.P., M.M., dari Kecamatan Siberut Utara

Dusun Bose mayoritas dihuni penduduk berusia lebih dari 50 tahun. Pekerjaan utama mereka adalah bertani, dengan komoditas seperti kelapa, pinang, kopra, dan sagu. Pada waktu luang, mereka juga bekerja sebagai nelayan dan pengolah ikan asin.

Menariknya, produk ikan asin dari Dusun Bose banyak diminati, baik oleh masyarakat Mentawai maupun masyarakat di Sumatera Barat. Ikan asin Bose menjadi primadona karena rasanya yang khas dan kualitas produknya yang masih alami tanpa bahan pengawet.

Ketersediaan bahan baku yang melimpah membuat produksi ikan asin Bose dapat mencapai 10–20 kilogram per orang setiap bulan. Saat ini, terdapat sekitar 40 orang yang tergabung dalam tiga kelompok pengolah ikan asin sehingga estimasi produksinya dapat mencapai satu ton per bulan.

Proses produksi ikan asin ini juga memperlihatkan pembagian peran yang proporsional. Laki-laki bertugas sebagai nelayan yang mencari ikan ke laut. Mereka menjala ikan hingga ke wilayah di luar desa, yakni Pantai Bebe dan Labuan Bajau, pada pagi dan malam hari.

Sementara itu, perempuan bertugas mengolah ikan asin dan turut membantu merajut jala ikan. Pengolahan ikan asin dilakukan di rumah dan terkadang di unit produksi yang bangunannya dibantu oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam pengolahan ikan asin tidak hanya menunjukkan bahwa setiap orang di Dusun Bose terlibat dalam proses produksi. Lebih jauh, pembagian peran itu mencerminkan model pembangunan inklusif, ketika partisipasi nyata masyarakat ikut menggerakkan perekonomian dusun.

Ikan asin ini diproduksi dari hasil tangkapan segar nelayan lokal yang mengarungi perairan Mentawai, kemudian dikeringkan secara tradisional di bawah sinar matahari tanpa tambahan bahan pengawet sintetis.

Daging ikan yang tebal, rasa gurih khas ikan laut, serta teksturnya yang masir menjadikan Ikan Asin Bose populer di tingkat regional. Dijual dengan kisaran harga Rp120.000 hingga Rp140.000 per kilogram, produk ini menjadi simbol ketelitian dan kearifan lokal dalam mengolah hasil laut.

Bagi para pencinta ikan asin dan hidangan laut segar, menikmati potongan Ikan Asin Bose yang digoreng hingga garing atau menyantap ikan laut segar yang baru diturunkan dari perahu nelayan dan dipanggang di atas bara kayu kelapa merupakan pengalaman kuliner yang sulit ditandingi oleh restoran mana pun di kota besar.

Pengelolaan yang Masih Tradisional

Meskipun demikian, pengelolaan ikan asin Bose masih menunjukkan sejumlah persoalan. Dari sisi produksi, jumlah tangkapan ikan belum konsisten karena bergantung pada cuaca yang kerap berubah. Nelayan juga hanya mengandalkan alat tangkap sederhana.

Setiap nelayan hanya memiliki satu partai alat tangkap—terdiri atas tali atas, mata pancing timah, dan jaring tujuh set—dari kebutuhan ideal sebanyak tiga partai. Dari sisi pengolahan, ikan asin berkualitas hanya dapat dihasilkan melalui proses penjemuran yang sempurna dan penggunaan garam beryodium.

Persoalannya, proses penjemuran belum didukung sarana dan prasarana yang memadai, sementara biaya garam beryodium cukup mahal karena harus didatangkan dari luar pulau. Dari sisi pemasaran,

Ikan Asin Bose belum memiliki hasil uji sampel resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sehingga belum dapat memasuki pasar ritel modern di Kota Padang dan wilayah lainnya. Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, upaya membangun merek Ikan Asin Bose sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Kepulauan Mentawai perlu terus digalakkan.

Kesadaran semacam inilah yang harus menjadi titik awal setiap kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi tidak datang kepada masyarakat yang dianggap tidak mengetahui apa-apa, lalu merasa perlu mengajarkan semuanya dari awal.

Masyarakat telah memiliki pengetahuan, keterampilan, pengalaman, bahkan cara sendiri untuk bertahan jauh sebelum sebuah program universitas hadir. Persoalan yang sering muncul bukanlah ketidakmampuan mereka menghasilkan sesuatu, melainkan bagaimana pengetahuan dan kerja yang telah dimiliki itu dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik.

Ikan yang baik belum tentu sampai ke pasar yang tepat. Produk yang enak belum tentu memiliki nama yang dikenal. Keterampilan yang diwariskan selama bertahun-tahun belum tentu membuat produsen mempunyai posisi tawar yang kuat. Bahkan, nilai terbesar sebuah barang tidak jarang justru terbentuk setelah barang tersebut meninggalkan tempat asalnya.

Di titik itulah istilah hilirisasi, yang belakangan begitu sering digunakan, perlu dikembalikan kepada maknanya yang paling manusiawi. Hilirisasi tidak cukup dimaknai sebagai perubahan bahan mentah menjadi barang jadi, apalagi hanya dipahami sebagai urusan kemasan, logo, akun media sosial, atau marketplace.

Semua itu memang penting, tetapi tidak boleh menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang menikmati kenaikan nilai dari sebuah produk. Jika harga Ikan Asin Bose kelak semakin tinggi di pasar, tetapi pengolahnya tetap memperoleh bagian terkecil, pekerjaan belum selesai.

Jika produknya dikenal luas, tetapi nama Bose perlahan hilang dari ingatan konsumen, ada sesuatu yang terputus. Jika pemasaran digital berkembang, tetapi pengelolaan usaha justru semakin bergantung pada orang dari luar, pemberdayaan kehilangan tujuan dasarnya. Oleh karena itu, ikhtiar menaikkan kelas produk semestinya sekaligus menaikkan posisi orang-orang yang membuatnya.

Bagi tim Universitas Andalas, nama Bose memiliki nilai tersendiri. Produk tersebut tidak hanya menjual ikan asin, tetapi juga membawa identitas daerah dan masyarakat yang mengolahnya. Karena itu, pembenahan kemasan dilakukan bersamaan dengan pembuatan label, logo, dan foto produk.

Setelah proses produksi dan kemasan dibenahi, persoalan berikutnya adalah pasar. Selama ini, pemasaran Ikan Asin Bose masih terbatas. Tim Unand bersama kelompok pengolah mulai membuka peluang agar produk tersebut dapat dipasarkan ke luar Kepulauan Mentawai dan menjangkau konsumen yang lebih luas.

Keterbatasan Pemasaran

Media sosial dan marketplace diperkenalkan sebagai alternatif pemasaran. Meski begitu, pemasaran digital bukan perkara mudah bagi masyarakat Bose. Ketersediaan listrik dan jaringan internet masih menjadi kendala sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi setempat. Kepala desa menyambut baik pendampingan tersebut.

Menurutnya, masyarakat Bose memiliki bahan baku dan keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi usaha yang lebih besar. “Kami berharap pendampingan ini dapat membantu kelompok pengelola ikan asin di Bose semakin berkembang. Masyarakat memiliki potensi dan bahan baku dari hasil tangkapan nelayan.

Dengan dukungan peralatan, kemasan yang lebih baik, dan pemasaran yang lebih luas, kami berharap Ikan Asin Bose semakin dikenal dan dapat menambah pendapatan keluarga nelayan.

Pendampingan ini tidak berhenti pada pemberian peralatan. Kelompok juga didorong agar mampu mengelola produksi, menjaga kualitas, mencatat stok, menentukan harga, dan menjalankan pemasaran secara mandiri.

Dengan rumah produksi yang lebih baik, kemasan yang lebih layak, serta pasar yang semakin terbuka, Ikan Asin Bose kini memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu produk unggulan Dusun Bose. Harapannya sederhana: produk dapat dijual lebih luas, sementara nilai tambahnya tetap dinikmati masyarakat yang menangkap dan mengolah ikan tersebut.

Pada akhirnya, persoalan ikan asin Dusun Bose bukanlah persoalan masyarakat yang tidak memiliki potensi. Justru sebaliknya, potensinya begitu dekat, berada di depan rumah mereka sendiri. Laut menyediakan ikan. Nelayan memiliki keterampilan menangkap ikan.

Masyarakat memiliki pengetahuan untuk mengolahnya. Ikan segar pilihan dapat diubah menjadi produk yang lebih tahan lama. Penggunaan garam beryodium, tidak digunakannya formalin, perhatian terhadap kebersihan, serta legalitas usaha menjadi modal penting untuk mengembangkan produk tersebut. Namun, potensi tidak otomatis berubah menjadi kesejahteraan.

Karena itu, membangun ekonomi masyarakat pesisir Dusun Bose tidak cukup hanya dengan meminta masyarakat menghasilkan lebih banyak. Mereka perlu dibantu agar hasil kerja mereka memiliki nilai, mempunyai pasar, dan memperoleh kepastian untuk terus berkembang.

Jika kualitas produk sudah tinggi, pekerjaan berikutnya adalah memastikan kualitas tersebut tidak berhenti di dapur-dapur pengolahan. Produk itu harus bergerak keluar dari Bose, melewati Teluk Pokai, menyeberangi perairan Mentawai, dan menemukan konsumen yang lebih luas. Sebab, masyarakat pesisir tidak seharusnya hanya menjadi penonton dari kekayaan laut yang mereka miliki sendiri. *

 



BACA JUGA