Protes Pendidikan Prancis Makin Brutal, Remaja 15 Tahun Kehilangan Tangan akibat Ledakan Granat Polisi

Selasa, 06/10/2026 10:33 WIB
Seorang demonstran meluncurkan kembang api saat bentrokan dengan polisi di jalan-jalan dekat Paris, di tengah protes atas sekolah dan ruang kelas yang bobrok. ( Reuters: Luc Auffret )

Seorang demonstran meluncurkan kembang api saat bentrokan dengan polisi di jalan-jalan dekat Paris, di tengah protes atas sekolah dan ruang kelas yang bobrok. ( Reuters: Luc Auffret )

Paris, sumbarsatu.com-- Protes nasional terkait buruknya kondisi sekolah dan kekurangan tenaga pengajar di Prancis berubah menjadi kekerasan. Seorang remaja berusia 15 tahun dilaporkan kehilangan satu tangannya setelah granat kejut yang diduga diambil dari polisi anti huru-hara meledak ketika berada di tangannya di Kota Lens, Prancis utara, Senin (5/10/2026).

Insiden tersebut terjadi ketika aksi demonstrasi yang telah mengganggu kegiatan belajar mengajar di ratusan sekolah sejak pekan lalu terus meluas. Sumber dari serikat polisi mengatakan, remaja itu tampaknya mengambil granat kejut yang ditembakkan polisi anti huru-hara sebelum benda tersebut meledak.

Prefek setempat, François-Xavier Lauch, mengatakan penyelidikan telah dibuka untuk mengusut insiden tersebut.

Kerusuhan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dalam demonstrasi yang awalnya dipicu persoalan kekurangan guru dan buruknya kondisi ruang kelas. Aksi yang bermula pada akhir September di sebuah sekolah menengah di pinggiran Paris kemudian menyebar ke berbagai wilayah Prancis.

Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray mengatakan, sebanyak 24 sekolah telah dibakar atau dijarah dan 78 staf pengajar mengalami luka sejak demonstrasi dimulai.

Pada Senin (5/10/2026), bentrokan antara polisi dan mahasiswa dilaporkan terjadi di Lille. Polisi juga menggunakan gas air mata di Toulouse, sementara kebakaran terjadi ketika massa berupaya menerobos sebuah sekolah di pusat Kota Paris.

Carole Zerbib, kepala sekolah Lycée Vauquelin di distrik ke-13 Paris, mengatakan sekolahnya diserang sekelompok orang yang mengenakan tudung dan topeng. Menurutnya, kelompok tersebut berupaya menerobos pintu masuk sekolah sebelum membakarnya.

Polisi dan petugas pemadam kebakaran segera memadamkan api. Sekolah kemudian dievakuasi dan kegiatan belajar mengajar dihentikan.

"Itu sangat mengerikan bagi para siswa yang menyaksikan ledakan kekerasan ini," kata Zerbib. Ia menambahkan, orang-orang yang menyerang sekolahnya bukan merupakan siswa sekolah tersebut.

Sejak Senin sebelumnya, sekitar 5.000 orang, sebagian besar remaja, telah ditangkap di seluruh Prancis. Puluhan orang lainnya dilaporkan terluka. Sejumlah guru dan anggota masyarakat juga menjadi korban serangan, sementara kerusakan properti diperkirakan mencapai puluhan juta euro.

Pemerintah Prancis berupaya merespons eskalasi tersebut. Juru bicara pemerintah Maud Bregeon mengatakan pada Senin bahwa prioritas pemerintah adalah memulihkan ketertiban.

Pemerintah juga berencana mempercepat proses pengesahan rancangan undang-undang di parlemen pada 27 Oktober. Aturan tersebut akan membuat orang yang terbukti merusak properti selama demonstrasi bertanggung jawab secara finansial atas kerusakan yang ditimbulkannya.

Kepala Kepolisian Paris Patrice Faure, melalui surat terbuka yang diterbitkan di X pada Sabtu, mengatakan para pelaku aksi kekerasan tidak lagi mengendalikan jalannya protes. Ia menyerukan kepada mahasiswa untuk menghentikan blokade dan beralih ke aksi demonstrasi damai.

Namun, serikat mahasiswa tetap menyerukan demonstrasi nasional pada Selasa. Aksi tersebut diperkirakan menjadi ujian baru bagi pemerintah Prancis setelah lebih dari sepekan demonstrasi yang diwarnai bentrokan, kebakaran, kerusakan sekolah, dan korban luka.

Para pejabat keamanan memperingatkan kemungkinan terjadinya kekerasan lebih lanjut, khususnya dalam demonstrasi yang berlangsung di pusat Paris. Mereka juga mengkhawatirkan kemungkinan kelompok sayap kiri dan anarkis mengambil alih aksi yang semula dipicu persoalan pendidikan.

Ketua serikat pekerja CGT, Sophie Binet, mengatakan anggota serikat pekerja akan menghadiri demonstrasi Selasa untuk melindungi siswa sekolah menengah.

"Kami sangat terkejut dengan apa yang telah kami lihat selama 10 hari terakhir dan dengan tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilakukan pemerintah terhadap protes yang dilakukan oleh siswa sekolah menengah," kata Binet.

Kasus remaja 15 tahun yang kehilangan tangannya kini menjadi salah satu titik paling serius dalam eskalasi demonstrasi pendidikan di Prancis. Penyelidikan terhadap ledakan di Lens masih berlangsung, sementara aksi nasional yang lebih besar dijadwalkan berlangsung pada Selasa. ssc/abc.net.au



BACA JUGA