Karya teater Bala Bhumi sutradara Afrizal Harun dari Komunitas Seni Hitam Putih saat proses latihan menyoroti kerusakan lingkungan dan bencana ekologis dipentaskan pada Rabu, 2 September 2026 di Taman Budaya Sumbar. Setelah pementasan dilanjutkan diskusi publik yang dipantik Khalid Saifullah (aktivis lingkungan). Foto Denny Cidaik.
Padang Panjang, sumbarsatu.com — Komunitas Seni Hitam-Putih Sumatera Barat menghadirkan pertunjukan teater kontemporer Bala Bhumi, karya naskah sekaligus sutradara Afrizal Harun, yang mengangkat persoalan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi alam dan keserakahan manusia.
Pertunjukan tersebut dijadwalkan berlangsung Rabu, 2 September 2026, di lantai dasar Gedung Dinas Kebudayaan Sumatera Barat. Setelah pementasan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi seni dan ekologis bertajuk “Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis” yang menghadirkan aktivis lingkungan dan penanggulangan bencana, Khalid Saifullah, dari Forum Penanggulangan Risiko Bencana Sumatera Barat.
Bala Bhumi menjadikan persoalan ekologis sebagai sumber penciptaan sekaligus ruang refleksi. Kerusakan hutan, pencemaran laut dan udara, eksploitasi sumber daya alam, hingga bencana yang berkaitan dengan ulah manusia diterjemahkan ke dalam bahasa tubuh, bunyi, visual, narasi, koreografi, serta teknologi multimedia.
Sutradara Bala Bhumi, Afrizal Harun, mengatakan gagasan pertunjukan berangkat dari kegelisahannya melihat persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Menurut dia, persoalan tersebut tidak cukup dipahami hanya sebagai isu ekologis, tetapi juga sebagai persoalan kemanusiaan yang perlu direspons melalui berbagai medium seni.
“Kondisi ini menggambarkan ancaman lingkungan menjadi risiko yang sangat besar karena efeknya sangat luas dan langsung terasa di seluruh lapisan masyarakat,” kata Afrizal Harun menjelaskan konsep penciptaan Bala Bhumi pada, Jumat (28/8/2026).
Ia kemudian memilih teater kontemporer berbasis teater tubuh sebagai medium utama. Pertunjukan tidak hanya mengandalkan dialog dan cerita konvensional, tetapi menggabungkan potensi ketubuhan performer dengan visual art, musik, narasi, koreografi, pencahayaan, serta multimedia.
Menurut Afrizal, Bala Bhumi dibangun dengan memadukan konsep pamenan Minangkabau—pamenan kato, pamenan mato, dan pamenan talingo—dengan praktik dramaturgi teater pascadramatik (postdramatic theatre) yang dikembangkan Hans-Thies Lehmann. Pendekatan tersebut memungkinkan pertunjukan tidak bertumpu pada teks dramatik konvensional sebagai satu-satunya dasar penciptaan.
“Bala Bhumi dibangun bukan atas dasar teks dramatik sebagai partitur pertunjukan, tetapi dibangun melalui teks pertunjukan sebagai panduan kreatif bagi performer untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan potensi ketubuhan, cara mengungkapkan teks narasi, properti, musik, termasuk eksplorasi visual art,” jelas Afrizal Harun.
Pendekatan tersebut membuat tubuh performer menjadi salah satu elemen dramaturgis utama. Para performer mengeksplorasi gerak yang bersumber dari animal movement atau animal body, antara lain dengan menghadirkan karakteristik gerak orang utan, gorila, simpanse, harimau, dan burung.
Eksplorasi ketubuhan itu kemudian dipadukan dengan pola koreografi teatrikal yang mengambil inspirasi dari tubuh orangutan, spirit tari tradisional Minangkabau Ulu Ambek, serta Haka dari suku Maori di Selandia Baru. Dalam konteks pertunjukan, koreografi tersebut ditempatkan sebagai simbol perlawanan dan perjuangan menghadapi kerusakan lingkungan.

Dari sisi dramaturgi, Bala Bhumi dibagi ke dalam enam bagian, yakni “Mula Bala”, “Inkubasi Bhumi”, “Jahit Bhumi”, “Infus Bhumi”, “Leleh Waktu”, dan “Bala tak Usai”. Keenam bagian tersebut menjadi struktur perjalanan pertunjukan dalam membaca relasi manusia, bumi, eksploitasi, kerusakan, serta konsekuensi ekologis yang ditimbulkannya.
Dalam konsep pamenan kato, kekuatan bahasa diwujudkan melalui teks narasi yang bersifat puitik dan metaforis. Sementara pamenan mato hadir melalui tubuh performer, tata cahaya, properti, dan visual eksperimental. Adapun pamenan talingo dibangun melalui musik ilustrasi, efek bunyi, dendang, dan bunyi yang dihasilkan performer.
Dengan demikian, Bala Bhumi tidak menempatkan lingkungan sekadar sebagai latar cerita. Alam justru menjadi persoalan utama yang menggerakkan seluruh perangkat artistik pertunjukan.
Dalam sinopsisnya, Afrizal menggambarkan bumi berada “di ujung tanduk” karena alam dikeruk, laut dirusak, dan udara tercemar. Bencana kemudian dipandang bukan sekadar metafora, tetapi sebagai akibat nyata dari tindakan manusia. “Bala, ulah manusia. Maka, manusia pula yang menanggung akibatnya,” demikian gagasan dasar pertunjukan tersebut.
Dukungan Pemerintah
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Syaiful Bahri, mengatakan pemerintah daerah terbuka terhadap kerja kolaborasi dengan komunitas seni maupun seniman secara personal. Menurut dia, kolaborasi tersebut penting untuk memastikan kawasan seni dan budaya dapat terus hidup sebagai ruang publik masyarakat.
“Kita merespons dan mengapresiasi kerja-kerja sama seperti yang sedang kita lakukan dengan komunitas seni Hitam Putih,” kata Syaiful Bahri.
Ia menilai kerja kesenian tidak semestinya berjalan sendiri. Dukungan dari pemerintah, komunitas, lembaga kebudayaan, maupun pihak lain diperlukan agar proses kreatif dapat berkembang dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Bala Bhumi merupakan salah satu karya yang mendapatkan dukungan melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2026 yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat, Kementerian Kebudayaan.
Selain itu, produksi tersebut mendapat dukungan Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat melalui UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang Panjang, serta Rumah Kreatif Affan.
Kepala Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, mengatakan ruang kebudayaan semestinya tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga ruang pertemuan berbagai gagasan mengenai persoalan sosial, lingkungan, dan kebudayaan.
Menurutnya, kehadiran Bala Bhumi memperlihatkan bagaimana seni pertunjukan dapat merespons persoalan aktual di tengah masyarakat. Karena itu, Taman Budaya tidak hanya memfasilitasi tempat pertunjukan, tetapi juga mendukung kebutuhan teknis seperti pencahayaan dan tata suara, promosi, serta kegiatan diskusi setelah pertunjukan.
“Kesenian tidak hanya membahas masalah estetika, tetapi juga merespons isu-isu lingkungan,” kata M. Devid.
Menurutnya, ruang kebudayaan memiliki posisi strategis untuk mempertemukan seniman, komunitas, akademisi, aktivis, dan masyarakat dalam membicarakan persoalan yang lebih luas. Dengan pendekatan tersebut, Taman Budaya dapat berfungsi sebagai ruang publik yang mempertemukan ekspresi artistik dengan persoalan sosial dan lingkungan.
Diskusi Ekologi dan Lingkungan
Kehadiran Khalid Saifullah sebagai pemantik diskusi setelah pementasan Bala Bhumi bukan tanpa alasan. Ia merupakan salah satu aktivis lingkungan di Sumatera Barat yang memiliki rekam jejak panjang dalam mengadvokasi persoalan lingkungan hidup, kerusakan sumber daya alam, serta risiko bencana ekologis.
Khalid pernah dipercaya menjadi Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat pada periode 2007–2010 dan kembali memimpin organisasi tersebut untuk periode 2010–2014. Dalam perjalanan advokasinya bersama WALHI, isu hutan, konflik sumber daya alam, pencemaran, dan ancaman bencana ekologis menjadi bagian dari perhatian yang terus disuarakannya.
Khalid juga pernah mengingatkan mengenai potensi bencana ekologis di Sumatera Barat yang berkaitan dengan pembalakan liar, pembukaan lahan perkebunan, dan aktivitas pertambangan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan. Peringatan tersebut menunjukkan konsistensinya dalam melihat bencana melalui perspektif ekologis, bukan sekadar sebagai persoalan tanggap darurat setelah bencana terjadi.
Perspektif tersebut menjadi relevan dengan gagasan yang dibawa Bala Bhumi. Pertunjukan karya Afrizal Harun memang tidak sedang menghadirkan sebuah kuliah tentang lingkungan.
Ia menggunakan tubuh, bunyi, visual, koreografi, cahaya, dan multimedia untuk menghadirkan pengalaman artistik tentang bumi yang mengalami tekanan akibat aktivitas manusia. Karena itu, kehadiran aktivis lingkungan dalam forum setelah pertunjukan membuka kemungkinan terjadinya dialog antara bahasa artistik dan realitas ekologis.
Dengan latar belakang tersebut, diskusi bersama Khalid setelah pementasan Bala Bhumi menjadi penting untuk mempertemukan dua cara membaca krisis ekologis: bahasa seni dan pengalaman advokasi di lapangan. Apa yang dihadirkan performer melalui tubuh dan visual dapat dibaca kembali melalui fakta-fakta ekologis yang dihadapi masyarakat Sumatera Barat.
Di titik inilah pertunjukan Bala Bhumi berpotensi bergerak melampaui batas panggung. Kerusakan hutan, pencemaran sungai dan laut, eksploitasi sumber daya alam, perubahan bentang alam, serta meningkatnya risiko banjir dan longsor tidak lagi hanya menjadi materi artistik, tetapi dapat dibicarakan sebagai persoalan nyata yang membutuhkan kesadaran dan tindakan bersama.
Diskusi tersebut juga memperlihatkan bahwa seni pertunjukan dapat menjadi ruang temu berbagai disiplin. Seniman membawa pengalaman artistik, aktivis membawa pengalaman advokasi dan pengetahuan lapangan, sementara masyarakat membawa pengalaman langsung menghadapi perubahan lingkungan dan bencana.
Pertemuan antara karya Afrizal Harun dan pengalaman panjang Khalid dalam membaca persoalan ekologis Sumatera Barat pada akhirnya membuka pertanyaan yang lebih besar: apakah manusia masih melihat alam sebagai ruang kehidupan yang harus dirawat, atau terus memperlakukannya semata-mata sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi?
Pertanyaan itu menjadi penting karena Bala Bhumi sejak awal menempatkan bencana sebagai konsekuensi dari tindakan manusia. Dalam kerangka tersebut, panggung bukan hanya tempat mempertontonkan kerusakan bumi, tetapi juga ruang untuk mengingatkan bahwa masa depan lingkungan pada akhirnya sangat ditentukan oleh pilihan manusia sendiri.
Pendukung Bala Bhumi
Produksi Bala Bhumi digerakkan oleh tim lintas bidang. Afrizal Harun bertindak sebagai sutradara, dengan performer Ahmad Ridwan, Fadjri, Alsafitro, Trisiyah Wahyuni, Achmad Ghozali Idham Muttakin, Reza Maulidil Akbar, M. Andreanda Dwi Putra, Dewi Safitri, Leoni Intan Sari, dan Zivara In Remazaya.
Sementara itu, Yusril Katil menangani artistik, Avant Garde Dewa Gugat sebagai komposer, Dedi Darmadi sebagai penata cahaya, serta Renaldis Fazriansyah, Denny Cidaik, dan Yudhi Prima sebagai desainer seni video dan dokumentasi foto dan video. Produksi dipimpin Kurniasih Zaitun dengan Ali Sukri sebagai asisten produksi dan Sahrul N sebagai supervisor, juga didukung Komunitas Seni Nan Tumpah dan Payung Sumatera. ssc/mn