Pertunjukan Eksperimen Performatif Hibrida Birth Code Antarpulau di ARTJOG 2026 Jadi Perbincangan

Minggu, 16/08/2026 06:17 WIB
Seniman performer Yeni Wahyuni (Aen) menampilkan Birth Code
karya pertunjukan eksperimental hibrida pada Jumat, 14 Agustus 2026 dalam perhelatan seni kontemporer ARTJOG di Yogyakarta. Foto dok

Seniman performer Yeni Wahyuni (Aen) menampilkan Birth Code karya pertunjukan eksperimental hibrida pada Jumat, 14 Agustus 2026 dalam perhelatan seni kontemporer ARTJOG di Yogyakarta. Foto dok

Yogyakarta, sumbarsatu.com— Seniman performer Yeni Wahyuni berkolaborasi dengan seniman media Rama Anggara didukung Havis Emriadi (visual) jadi perbincangan setelah sukses menghadirkan karya pertunjukan eksperimental hibrida bertajuk Birth Code dalam perhelatan seni kontemporer ARTJOG 2026 di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta, Jumat (14/8/2026).

Pertunjukan tersebut mempertemukan tubuh biologis performer di Yogyakarta dengan sistem audio-visual yang diproses dan dikirim secara real-time dari Padangpanjang, Sumatera Barat. Eksperimen itu menjadikan ruang digital bukan sekadar sarana perantara teknologi, tetapi bagian dari ruang pertunjukan itu sendiri.

Melalui Birth Code, Yeni dan Rama mengeksplorasi persoalan kehadiran, jarak geografis, teknologi, serta hubungan manusia dengan ruang digital. Panggung fisik di Yogyakarta diposisikan sebagai ruang tubuh sekaligus ruang sosiologis, sementara Padangpanjang menjadi laboratorium pengiriman dan pengolahan sinyal audio-visual.

"Tubuh saya berdiri di atas tanah Yogyakarta. Udara yang saya hirup, presisi jarak yang Anda saksikan, semuanya ada di sini di bawah hamparan atap galeri ini," kata Yeni Wahyuni dalam narasi pertunjukan.

Namun, menurut Yeni, suara dan getaran frekuensi yang diterima penonton serta lintasan cahaya pada layar tidak sepenuhnya berasal dari ruang pertunjukan di Yogyakarta. Elemen-elemen tersebut ditransmisikan secara langsung dari Padangpanjang melalui jaringan digital.

"Di sana, di Sumatera, sinyal visual dan gelombang audio ini diproses, ditarik, dan dialirkan secara real-time menuju tubuh saya di sini. Apa yang Anda lihat dan dengar malam ini adalah sebuah peretasan terhadap ruang dan jarak," ujarnya.

Eksperimen tersebut membuat tubuh performer di Yogyakarta menjadi semacam jangkar fisik, sementara artikulasi audio-visual dan kesadaran teknologis karya bergerak dari Padangpanjang. Dua lokasi yang terpisah ribuan kilometer itu kemudian diperlakukan sebagai satu kesatuan ruang performatif.

Yeni mempertanyakan kembali konsep kehadiran dalam seni pertunjukan yang selama ini identik dengan keberadaan performer, penonton, dan seluruh perangkat artistik dalam satu ruang fisik.

"Kita sering percaya bahwa kehadiran harus berada di satu titik yang utuh. Namun malam ini, pertunjukan ini bertanya: di manakah batas aktual sebuah karya seni, ketika jarak geografis ditentukan oleh sinyal, dan ruang performatif diecer ke dalam dua koordinat yang saling mengunci?" katanya.

Meretas Jarak dan Ruang Digital

Pertunjukan Birth Code juga merespons tema kuratorial ARTJOG 2026–2028, Ars Longa Trilogia, yang berangkat dari ungkapan Latin Ars Longa, Vita Brevis—seni itu panjang, hidup itu singkat.

Dalam konteks masyarakat yang semakin terintegrasi dengan teknologi digital, karya tersebut menempatkan seni sebagai ruang untuk membaca kembali perubahan hubungan manusia dengan teknologi, lingkungan, dan realitas sosial.

Pertunjukan itu melibatkan Yeni Wahyuni dan Rama Anggara sebagai pengkarya, dengan Havis Emriadi menangani aspek visual dan Rama Anggara pada unsur audio.

Eksperimen yang mereka hadirkan tidak menempatkan teknologi sebagai tujuan akhir. Teknologi justru digunakan untuk memperluas kemungkinan kehadiran tubuh dan gagasan artistik melampaui batas geografis.

Karya tersebut juga memanfaatkan instalasi benang sensorik yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen visual dan spasial. Benang diposisikan sebagai metafora garis keturunan serta memori kolektif yang menghubungkan satu ruang dengan ruang lainnya.

Secara dramaturgis, perjalanan karya bergerak dari gagasan tentang "pemberian" menuju "pencapaian", sekaligus menggambarkan proses adaptasi yang berlangsung dalam sebuah laboratorium organik.

Ketika Teknologi Tidak Selalu Stabil

Di balik eksperimen tersebut, terdapat persoalan teknis yang justru menjadi bagian penting dari pengalaman artistik Birth Code. Pertunjukan yang berlangsung secara real-time sangat bergantung pada jaringan internet sebagai infrastruktur utama transmisi data.

Fluktuasi koneksi dapat menyebabkan munculnya latensi atau keterlambatan transmisi audio dan visual. Akibatnya, gerakan tubuh Yeni di Yogyakarta tidak selalu dapat berjalan secara presisi dengan respons suara dan visual yang dikirim dari Padangpanjang.

Ketidaksinkronan tersebut memperlihatkan sisi lain dari ruang digital yang selama ini kerap dipahami sebagai ruang yang cepat, tanpa batas, dan serba terkoneksi.

Dalam pertunjukan ini, keterlambatan sinyal justru dapat dibaca sebagai bagian dari karakter ruang digital. Jeda, distorsi, keheningan, dan ketidakpastian jaringan menjadi pengalaman yang memperlihatkan bahwa teknologi tetap memiliki keterbatasan material.

Dengan demikian, kerentanan jaringan tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan teknis yang harus disembunyikan dari penonton. Ia menjadi bagian dari dramaturgi pertunjukan dan memperlihatkan negosiasi manusia dengan infrastruktur teknologi.

Melalui Birth Code, Yeni Wahyuni dan Rama Anggara mencoba menunjukkan bahwa ruang digital dapat menjadi wilayah baru bagi seni pertunjukan untuk mempertahankan artikulasi lokal, lanskap bunyi, serta memori manusia di tengah perkembangan teknologi yang semakin dominan.

Pertunjukan ini sekaligus mempertemukan dua wilayah—Yogyakarta dan Padangpanjang—dalam satu pengalaman performatif yang dibangun melalui tubuh, sinyal, suara, cahaya, dan jaringan digital.ssc/aen



BACA JUGA