Dari Sampah Jadi Rupiah, Pasaman Dorong Ekonomi Sirkular Berbasis Nagari

Selasa, 04/08/2026 13:21 WIB

Pasaman, sumbarsatu.com — Pengelolaan sampah mulai didorong tidak hanya sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat dan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.

Inisiatif tersebut diwujudkan melalui pelatihan pengolahan sampah organik dan anorganik di Nagari Taruang-Taruang Utara, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, Senin (3/8/2026).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi komunitas perantau Rang Rao Empowering Generation (E2RG) dan Ikatan Keluarga Kabupaten Pasaman (IKKP) bersama Universitas Tamansiswa Padang dan Universitas Mercu Buana Jakarta.

Kegiatan yang dibuka Wali Nagari Taruang-Taruang Utara, Budiman Nasution, tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah berbasis ekonomi sirkular. Pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus mendukung sektor pertanian dan peternakan.

Pelatihan menghadirkan akademisi dari berbagai bidang. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta, Dr. Henni Gusfa, M.Si., memberikan materi mengenai strategi komunikasi lingkungan, pengelolaan sampah anorganik, serta penguatan kelembagaan bank sampah sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

Materi tersebut diperkuat Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasaman, Hasrizal, yang mendorong penguatan sumber daya dan tata kelola Bank Sampah Rao untuk Membangun Negeri. Pengelolaan tersebut diharapkan dapat menjadi proyek percontohan tata kelola sampah di tingkat nagari yang bersih, mandiri, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan.

Sementara itu, Dosen Agroteknologi Universitas Tamansiswa Padang, Dr. Milda Ernita, S.Si., M.P., memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi. Di antaranya melalui pembuatan pupuk organik cair (POC) dan eco enzyme yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas pertanian masyarakat.

Dosen Peternakan Universitas Tamansiswa Padang, Halimatuddini, S.Pt., M.P., turut memberikan pendampingan mengenai budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Budidaya maggot diperkenalkan sebagai salah satu alternatif pengolahan limbah organik sekaligus sumber pakan ternak yang memiliki nilai ekonomi.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Pasaman melalui Dinas Lingkungan Hidup, Pemerintah Kecamatan Rao, serta Pemerintah Nagari Taruang-Taruang Utara.

Warga Minta Program Berkelanjutan

Antusiasme masyarakat terlihat dalam sesi diskusi. Warga berharap pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi dilanjutkan dengan pembentukan sistem pengelolaan sampah yang dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.

"Kami berharap sebelum program pengabdian ini berakhir, sudah terbentuk sistem pengolahan sampah yang benar-benar berjalan dan bisa diteruskan oleh masyarakat," ujar Yusuf, salah seorang perwakilan warga dalam sesi diskusi.

Dr. Henni Gusfa mengatakan keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada penguatan kelembagaan dan perubahan kesadaran masyarakat sejak dari tingkat rumah tangga.

"Langkah awal yang paling penting adalah memperkuat pengelolaan dari tingkat jorong hingga bank sampah. Kesadaran masyarakat ditingkatkan dari rumah tangga," ujarnya.

Menurut Henni, kegiatan tersebut juga telah didukung komunitas E2RG dan IKKP melalui sosialisasi tata kelola sampah organik dan anorganik kepada kelompok wirid Yasin se-Penghulu Pasar Rao.

Ia berharap pengelolaan sampah dapat dilakukan secara mandiri di tingkat nagari dengan prinsip bahwa sampah yang dihasilkan masyarakat tidak harus dibawa keluar nagari, tetapi dapat diolah menjadi sumber nilai ekonomi bagi nagari.

"Integrasi ini diharapkan dapat menyamakan persepsi tentang esensi lingkungan melalui pengelolaan sampah secara mandiri, yaitu sampah nagari tidak keluar dari nagari, tetapi dikelola menjadi nilai ekonomi nagari," katanya.

Dr. Milda Ernita menambahkan, limbah organik memiliki potensi ekonomi apabila dikelola dengan tepat. Produk seperti pupuk organik cair dan eco enzyme, menurutnya, tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.

"Produk seperti pupuk organik cair dan eco enzyme tidak hanya bermanfaat bagi pertanian, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat," ujarnya.

Warga Praktik Mengolah Sampah

Pelatihan tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian materi. Peserta juga mengikuti praktik langsung pengolahan sampah organik dan anorganik di kawasan Hutanauli.

Praktik pembuatan kompos, magoot, eko enzim dan kompos-foto dok

Dalam sesi praktik, masyarakat diajarkan mengolah sisa buah dan sayuran menjadi eco enzyme, membuat pupuk organik cair, kompos, serta membudidayakan maggot BSF. Berbagai praktik tersebut diarahkan untuk memberikan keterampilan yang dapat diterapkan masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat bagi pertanian dan peternakan.

Untuk sampah anorganik, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pemilahan dan pengelolaan melalui bank sampah. Skema tersebut diharapkan dapat mengubah sampah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan menjadi sumber manfaat ekonomi melalui penerapan konsep ekonomi sirkular.

Kolaborasi antara komunitas perantau, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat tersebut diharapkan menjadi langkah awal membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Pasaman.

Tidak berhenti pada persoalan kebersihan, pengelolaan sampah berbasis masyarakat juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pertanian, peternakan, dan ekonomi lokal.

Dengan demikian, sampah yang selama ini dipandang sebagai persoalan dapat diubah menjadi sumber daya yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan nagari. ssc/rel



BACA JUGA