Sanggar Kilau Aksara dan BP Kebudayaan Sumbar Dorong Gen Z Hidupkan Kembali Cerita Rakyat Minangkabau

Minggu, 21/06/2026 23:31 WIB

Workshop yang digelar di Sanggar Kilau Aksara, Jalan Griya Mawar Sembada A/7, Lapai, Kota Padang, menghadirkan dua sastrawan Sumatera Barat, Yusrizal KW dan Gus tf Sakai, sebagai narasumber utama.

Workshop yang digelar di Sanggar Kilau Aksara, Jalan Griya Mawar Sembada A/7, Lapai, Kota Padang, menghadirkan dua sastrawan Sumatera Barat, Yusrizal KW dan Gus tf Sakai, sebagai narasumber utama.

Padang, sumbarsatu.com— Sanggar Kilau Aksara bekerja sama dengan Balai Pelestarian (BP) Kebudayaan Sumatera Barat menyelenggarakan workshop penulisan bertajuk “Revitalisasi Cerita Rakyat Minangkabau melalui Penulisan Ulang Berbasis Prosa Sastra untuk Penguatan Ekosistem Literasi Budaya”.

Kegiatan yang berlangsung pada 20–21 Juni 2026 ini diikuti 15 peserta dari berbagai daerah di Sumatera Barat yang memiliki minat terhadap sastra dan budaya Minangkabau.

Workshop yang digelar di Sanggar Kilau Aksara, Jalan Griya Mawar Sembada A/7, Lapai, Kota Padang, menghadirkan dua sastrawan Sumatera Barat, Yusrizal KW dan Gus tf Sakai, sebagai narasumber utama. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian sekaligus pengembangan cerita rakyat Minangkabau agar tetap hidup, relevan, dan dekat dengan generasi muda.

Pada hari pertama, Yusrizal KW mengajak peserta memahami kembali kekayaan cerita rakyat Minangkabau yang tersebar di berbagai daerah. Menurutnya, generasi muda saat ini lebih akrab dengan konten digital yang singkat dan menarik, sementara banyak cerita rakyat disajikan dalam bentuk yang kurang mampu menjangkau minat mereka.

“Saat ini Gen Z sangat terpapar oleh konten TikTok yang menarik dan menggunakan bahasa yang dekat dengan mereka. Sementara itu, banyak cerita rakyat hanya disajikan dalam bentuk ringkasan dengan bahasa yang kurang menarik bagi generasi muda,” ujar Yusrizal KW.

Ia menambahkan, tradisi bertutur yang dahulu diwariskan oleh orang tua dan kakek-nenek kini semakin jarang ditemukan. Karena itu, cerita rakyat perlu diceritakan kembali dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan karakter generasi masa kini, tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Dalam sesi pendampingan, peserta diajak menelusuri kembali cerita rakyat yang hidup di lingkungan masing-masing. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Sijunjung, Pesisir Selatan, Solok Selatan, Payakumbuh, Batusangkar, dan Lima Puluh Kota.

“Dasar penulisan ulang cerita rakyat adalah cerita yang pernah didengar peserta dari daerah asalnya. Dari situlah mereka dapat mengembangkan kembali kisah tersebut dengan perspektif dan gaya bahasa mereka sendiri,” katanya.

Yusrizal KW juga menyoroti banyaknya cerita rakyat Minangkabau yang belum dikenal luas oleh masyarakat. Selama ini publik cenderung hanya mengenal cerita-cerita populer seperti Malin Kundang. Padahal, masih banyak kisah yang hidup dalam ingatan masyarakat di berbagai nagari dan kampung yang belum terdokumentasikan dengan baik.

Pada hari kedua, peserta mendapatkan pendalaman materi dan pendampingan penulisan bersama Gus tf Sakai. Ia menegaskan bahwa cerita rakyat tidak semestinya dipandang hanya sebagai dongeng untuk anak-anak.

“Cerita rakyat adalah milik semua kalangan. Karena itu, kisah-kisah tersebut perlu ditulis ulang dengan cara yang lebih menarik agar tetap dapat dinikmati oleh pembaca dari berbagai usia,” kata Gus tf Sakai.

Salah seorang peserta, Nada Aprila Kurnia, mengaku workshop tersebut membuka perspektif baru tentang fungsi dan makna cerita rakyat.

“Setelah mendengar paparan dari Om KW dan Om Gus tf, saya kembali teringat cerita rakyat yang pernah diceritakan nenek di kampung saya. Cerita itulah yang akan saya tuliskan sebagai luaran workshop ini. Saya juga dibimbing untuk menuliskannya kembali dengan bahasa saya sendiri sebagai Gen Z,” ujar mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas tersebut.

Ketua Pelaksana kegiatan, Ria Febrina, mengatakan revitalisasi cerita rakyat merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya takbenda Minangkabau.

“Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan nyawa baru bagi cerita rakyat Minangkabau, terutama cerita-cerita yang langka dan belum banyak dikenal masyarakat. Dengan begitu, kekayaan budaya lokal dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Ria Febrina menambahkan, workshop ini merupakan bentuk komitmen Sanggar Kilau Aksara bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat dalam mendorong generasi muda mendokumentasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan cerita rakyat Minangkabau melalui pendekatan yang sesuai dengan zamannya.

Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya belajar menulis ulang cerita rakyat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan memori budaya Minangkabau agar tetap hidup di tengah arus perubahan dan perkembangan teknologi digital.ssc/rel



BACA JUGA