Doktor Baru ISI Padang Panjang, Rozalvino Perkuat Pengembangan Musik dan Penelitian Artistik

Senin, 15/06/2026 20:40 WIB

Surakarta, sumbarsatu.com – Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan tinggi seni Indonesia. Dosen Program Studi Seni Musik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padang Panjang, Rozalvino, S.Sn., M.Sn., berhasil meraih gelar Doktor Seni setelah dinyatakan lulus dalam Ujian Terbuka Pertanggungjawaban Karya Seni Program Doktor Penciptaan Seni Pascasarjana ISI Surakarta.

Dalam ujian yang berlangsung di Teater Besar Gendhon Humardhani ISI Surakarta pada Jumat (5/6/2026), Rozalvino dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94.

Disertasi karya seni yang dipertanggungjawabkan berjudul “Saluak Sang Sako: Interpretasi Multi-Pentatonis dalam Komposisi Musik”. Karya tersebut merupakan hasil penelitian artistik yang mengembangkan sistem penciptaan komposisi musik berbasis pengetahuan budaya Minangkabau, khususnya yang berkaitan dengan relasi kekerabatan, sistem komunikasi adat, serta nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat Minangkabau.

Sidang ujian dipimpin oleh Dr. Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn. sebagai Ketua Penguji dan Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn., M.Sn. sebagai Sekretaris. Tim promotor terdiri atas Prof. Dr. Bambang Sunarto, S.Kar., M.Sn. sebagai Promotor, Prof. Dr. Andar Indrasastra, S.Kar., M.Hum. sebagai Ko-Promotor I, dan Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si. sebagai Ko-Promotor II.

Adapun tim penguji terdiri atas Dr. Asep Saeful Haris, S.Sn., M.Sn., Dr. Agastya Rama Listya, MSM., Ph.D., Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum., dan Dr. Aloysius Suwardi, S.Kar., M.A.

Keberhasilan tersebut menandai berakhirnya perjalanan pendidikan doktoral yang panjang sekaligus membuka babak baru bagi pengembangan seni musik, penelitian artistik, dan pendidikan tinggi seni di Indonesia, khususnya di lingkungan ISI Padang Panjang.

Berangkat dari Tradisi Menuju Inovasi Artistik

Pencapaian Rozalvino merupakan hasil dari perjalanan panjang sebagai akademisi, peneliti, dan seniman musik yang selama bertahun-tahun menjadikan kebudayaan Minangkabau sebagai sumber utama eksplorasi artistiknya.

Selama mengabdi di Program Studi Seni Musik ISI Padangpanjang, ia dikenal aktif mengembangkan berbagai kajian dan praktik penciptaan musik yang berangkat dari tradisi lokal.

Perhatiannya tidak hanya tertuju pada pelestarian bentuk-bentuk musikal tradisional, tetapi juga pada upaya menemukan kemungkinan-kemungkinan baru yang menghubungkan warisan budaya dengan perkembangan seni kontemporer.

Pandangan tersebut menjadi fondasi utama dalam pengembangan disertasi karya seni Saluak Sang Sako. Melalui proses pendidikan doktoralnya, Rozalvino tidak hanya menghasilkan sebuah karya pertunjukan musik, tetapi juga merumuskan model konseptual baru mengenai hubungan antara budaya lokal dan praktik penciptaan musik kontemporer.

Salah satu kontribusi penting penelitian ini adalah keberhasilannya menempatkan budaya Minangkabau sebagai sumber pengetahuan dalam penciptaan musik.

Berbeda dengan pendekatan yang menjadikan unsur-unsur tradisi sekadar sebagai materi artistik, penelitian ini berupaya memahami bagaimana sistem pengetahuan yang hidup dalam masyarakat Minangkabau dapat diterjemahkan menjadi logika komposisi musik.

Perhatian utama diarahkan pada dinamika relasi kekerabatan Minangkabau, khususnya posisi sumando yang dimetaforakan melalui ungkapan abu di ateh tunggua.

Selain itu, penelitian juga mengkaji sistem komunikasi adat kato nan ampek dan praktik kato malereng sebagai prinsip relasional yang dapat diterapkan dalam penyusunan struktur musikal.

Pendekatan tersebut menghasilkan sistem komposisi yang menempatkan hubungan antarbunyi sebagai pusat perhatian. Bunyi tidak lagi bergerak secara hierarkis berdasarkan satu pusat tonal, tetapi membangun relasi yang lebih cair, dialogis, dan saling bernegosiasi sebagaimana relasi sosial yang menjadi sumber inspirasinya.

Saluak Sang Sako, Konsep Budaya dan Komposisi Musik

Karya Saluak Sang Sako diwujudkan dalam bentuk komposisi musik pertunjukan yang terdiri atas tiga bagian, yakni Sako, Sang, dan Saluak. Ketiga bagian tersebut merepresentasikan tahapan relasi kekerabatan yang terus bergerak melalui proses interaksi, adaptasi, ketegangan, hingga pembentukan makna baru.

Secara artistik, sistem komposisi dibangun melalui penggunaan empat nada tanpa penegasan pusat tonal yang dominan. Konstruksi harmoni mikrotonal, teknik interlocking lintas sukat, serta penggunaan notasi grafis menjadi perangkat utama dalam membangun struktur karya.

Prinsip-prinsip tersebut lahir dari interpretasi terhadap sistem komunikasi adat Minangkabau yang kemudian ditransformasikan ke dalam bahasa musikal. Dengan demikian, budaya tidak hadir sebagai dekorasi artistik, melainkan sebagai sumber logika penciptaan yang membentuk keseluruhan struktur karya.

Penelitian Rozalvino menawarkan kontribusi penting bagi pengembangan musik kontemporer Indonesia di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.

Karya Saluak Sang Sako menunjukkan bahwa tradisi budaya Nusantara masih menyimpan potensi besar sebagai sumber inovasi artistik. Tradisi tidak perlu dipertentangkan dengan modernitas, melainkan dapat menjadi sumber metodologi yang melahirkan bentuk-bentuk penciptaan baru.

Temuan tersebut sekaligus memperkuat posisi practice-based research sebagai salah satu pendekatan penting dalam pendidikan tinggi seni, yakni bahwa pengetahuan tidak hanya lahir melalui analisis terhadap objek yang telah ada, tetapi juga melalui proses penciptaan yang menghasilkan pengalaman artistik baru.

Makna Strategis bagi ISI Padang Panjang

Keberhasilan Rozalvino meraih gelar doktor bukan hanya capaian personal, melainkan juga memiliki arti strategis bagi pengembangan ISI Padang Panjang.

Kembalinya Rozalvino ke Program Studi Seni Musik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padangpanjang diharapkan dapat memperkuat kapasitas akademik institusi, memperkaya proses pembelajaran, meningkatkan kualitas penelitian, serta memperluas jejaring akademik di tingkat nasional maupun internasional.

Pengalaman akademik yang diperoleh selama menempuh pendidikan doktoral diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kurikulum, pembimbingan mahasiswa, penciptaan karya seni, publikasi ilmiah, serta penguatan ekosistem pendidikan seni yang unggul dan berdaya saing.

Pencapaian Rozalvino memperlihatkan bahwa kebudayaan lokal masih memiliki ruang yang sangat luas untuk dikembangkan sebagai sumber inovasi akademik dan artistik.

Karya Saluak Sang Sako menjadi contoh bagaimana sistem pengetahuan yang hidup dalam masyarakat dapat diterjemahkan menjadi praktik penciptaan seni yang relevan dengan perkembangan zaman.

Pendekatan ini tidak hanya memperkaya khazanah musik kontemporer Indonesia, tetapi juga memperkuat posisi budaya Nusantara dalam percakapan seni global.

Kelulusan Rozalvino sebagai Doktor Seni dari ISI Surakarta menandai berakhirnya satu perjalanan akademik sekaligus membuka perjalanan baru dalam pengembangan pendidikan seni, penelitian artistik, dan penciptaan musik berbasis budaya Indonesia.

ISI Padang Panjang menyambut kembali Rozalvino dengan harapan bahwa pengalaman, pengetahuan, dan capaian akademik yang diraih selama studi doktoral akan memberikan kontribusi nyata bagi penguatan pendidikan seni, pengembangan riset artistik, serta kemajuan kebudayaan Indonesia pada masa mendatang.ssc/rel



BACA JUGA