BBM
Jakarta, sumbarsatu.com— Lanskap ekonomi domestik tengah berada dalam fase krusial. Kebijakan PT Pertamina (Persero) yang mengerek harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green memicu efek domino yang diprediksi bakal menekan daya beli masyarakat kelas menengah, memicu migrasi konsumsi ke BBM bersubsidi, hingga membayangi optimisme konsumen nasional.
Meskipun demikian, di sektor keuangan, nilai tukar Rupiah menunjukkan taringnya dengan berhasil menembus kembali ke bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS berkat respons positif terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia.
PT Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga untuk dua jenis BBM nonsubsidi. Harga Pertamax melonjak tajam dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter (naik sekitar 32%). Sementara itu, Pertamax Green juga terkerek dari Rp12.900/liter menjadi Rp17.000/liter.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi lainnya serta BBM bersubsidi dipastikan tetap:
Tabel Perbandingan Harga BBM Terbaru
| Jenis BBM | Harga Lama (per Liter) | Harga Baru (per Liter) | Status |
| Pertamax | Rp 12.300 | Rp 16.250 | Naik |
| Pertamax Green | Rp 12.900 | Rp 17.000 | Naik |
| Pertamax Turbo (RON 98) | Rp 20.750 | Rp 20.750 | Tetap |
| Dexlite (CN 51) | Rp 23.000 | Rp 23.000 | Tetap |
| Pertamax Dex (CN 53) | Rp 24.800 | Rp 24.800 | Tetap |
| Pertalite (Subsidi) | Rp 10.000 | Rp 10.000 | Tetap |
| Biosolar (Subsidi) | Rp 6.800 | Rp 6.800 | Tetap |
Menteri Keuangan Purbaya meyakini kebijakan ini hanya akan berdampak minim terhadap inflasi lantaran mayoritas pengguna Pertamax adalah kendaraan pribadi, bukan angkutan umum atau barang. Perihal risiko jebolnya kuota Pertalite akibat migrasi konsumen, Menkeu menyerahkan kebijakan mitigasinya kepada Menteri ESDM.
Namun, pandangan optimistis tersebut ditepis oleh para pengamat dan DPR:
Pakar energi dari UGM, Fahmy Radhi, memprediksi kuota Pertalite tahun ini sebesar 29,26 juta kiloliter (kl) dipastikan bakal jebol. Selisih harga yang melebar hingga Rp 6.250/liter akan memaksa masyarakat bermigrasi ke Pertalite, memicu antrean panjang, dan berujung pada pembengkakan beban anggaran subsidi negara.
Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyu Askar, mengingatkan bahwa konsumen Pertamax juga mencakup ojek online, guru, dan aspiring middle class (menuju kelas menengah). Kenaikan ini dinilai dapat merosotkan daya beli, meningkatkan jumlah penduduk rentan miskin, menaikkan harga pangan, hingga mempercepat PHK pada kuartal III.
Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, membenarkan potensi migrasi massal tersebut. Ia menyatakan bahwa DPR bersama pemerintah saat ini sedang menggodok skema stimulus baru untuk melindungi masyarakat.
Optimisme Konsumen Mulai Goyah, IKK Mei 2026 Anjlok
Sejalan dengan tingginya tekanan ekonomi, Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2026 merosot ke level 120,9, turun cukup dalam dari bulan sebelumnya yang berada di posisi 123,0.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan penurunan ini utamanya didorong oleh melemahnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang jatuh ke level 112,2 (dari sebelumnya 116,5).
Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK): Turun ke level 105,0. Sedangkan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG): Menjadi 108,3 dan selanjutnya Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI): Melemah ke posisi 123,2.
Sebaliknya, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) atau pandangan ke depan justru naik tipis menjadi 129,7. Hal ini ditopang oleh kenaikan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (124,5) dan Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (128,1), meskipun Indeks Ekspektasi Penghasilan masyarakat justru terpantau turun ke level 136,5.
Menghadapi potensi guncangan ekonomi, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut B. Pandjaitan mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan bantalan sosial baru. Skema penyaluran bantuan sosial (bansos) akan dirombak dan dialihkan menjadi Bantuan Tunai Langsung (BLT) dengan nilai rata-rata Rp 5,4 juta per orang.
Guna memastikan bantuan tepat sasaran, sistem penyaluran akan diintegrasikan dengan infrastruktur Digital Single ID yang berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Sistem mutakhir ini ditargetkan mulai beroperasi pada awal tahun depan dan akan digunakan pula untuk penyaluran kredit UMKM.
Pasar Keuangan: Rupiah Perkasa Tinggalkan Level Rp 18.000/USD
Di tengah dinamika sektor riil, kabar positif datang dari pasar valuta asing. Mata uang Rupiah tampil perkasa dan ditutup menguat 0,55% ke level Rp 17.950/USD berdasarkan data Refinitiv. Performa ini sukses membawa mata uang Garuda keluar dari zona psikologis kekhawatiran di atas Rp 18.000/USD.
Rupiah sempat dibuka menguat tajam 0,97% di level Rp 17.875/USD, dan meskipun sempat berfluktuasi kembali ke angka Rp 18.000, tekanan berhasil diredam. Penguatan ini terjadi di tengah pelemahan tipis indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,03% ke level 99,882.
Skeptisisme pasar mereda sebagai respons atas langkah berani BI menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,50%. Namun, tantangan dinilai belum usai.
Ekonom Senior DBS Bank, Radhika Rao, memproyeksikan bahwa ruang bagi BI untuk mengerek suku bunga masih terbuka lebar hingga akhir kuartal III-2026 guna menahan potensi tekanan eksternal. Rao memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali lagi hingga menyentuh 6% di akhir tahun.
Terkait potensi kenaikan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan pada 17-18 Juni mendatang, pihak internal Bank Indonesia masih bersikap hati-hati. Ramdan Denny Prakoso menyatakan BI akan terus melakukan evaluasi berkala, senada dengan Gubernur BI Perry Warjiyo yang masih enggan memberikan sinyal kepastian terkait arah kebijakan moneter pada RDG tersebut.ssc