Memilih Rektor ISI Padang Panjang: Mencari Dirigen Solusi atau Sekadar “Jual Bual”?

JELANG "PEMILU" REKTOR

Rabu, 10/06/2026 14:48 WIB

OLEH Kurniasih Zaitun (Perempuan Sutradara)

“SAAT  politik kekuasaan menjadi liar karena kehilangan visi masa depan, maka seni harus tampil ke depan untuk menjinakkannya.”

Statemen kuat tersebut disampaikan oleh Buya Ahmad Syafi’i Maarif pada 16 Maret 2015 saat memberikan kuliah umum di ISI Padang Panjang. Menurut Buya Syafi’i, seni sejatinya adalah penjaga nurani bangsa. Pesan mendalam ini tentu bukan sekadar pidato normatif yang berlalu seiring wafatnya beliau. Ini adalah amanah besar bagi perguruan tinggi seni agar mengambil peran penting dan konkret di tengah kondisi bangsa yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.

Kalimat tersebut harus menjadi kata kunci sekaligus kompas bagi calon pemimpin ISI Padang Panjang yang akan dipilih pada tahun ini. Perguruan tinggi seni memegang peran krusial sebagai episentrum intelektual dan kreatif yang melampaui kesadaran akademik sektoral ala “Menara Gading”.

Saat ini, institusi seni di berbagai wilayah Indonesia justru sangat diharapkan menjadi lokomotif perubahan di tengah dinamisnya arus ekonomi kreatif dan lompatan teknologi kecerdasan buatan (AI). Institusi seni harus hadir menjawab tantangan nyata yang dihadapi masyarakat di berbagai pelosok negeri.

Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, sebagai salah satu perguruan tinggi seni tertua di wilayah barat Indonesia selain Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, selama ini kerap dianggap hanya berfungsi melengkapi kebutuhan batin masyarakat dalam hal hiburan. Padahal, publik hari ini tidak sekadar membutuhkan hiburan semata. Mereka membutuhkan institusi yang mampu menjawab tantangan riil seputar transformasi ekonomi kreatif dan pemanfaatan teknologi yang tepat guna dalam pengembangan ide-ide inovatif.

Lebih jauh lagi, publik membutuhkan seni yang hadir sebagai instrumen kritik sosial yang sehat, sekaligus menjadi media terapi terhadap maraknya gejala gangguan kesehatan mental masyarakat hari ini. Seni bahkan harus menjadi alat advokasi bagi kelompok marjinal yang sering dikorbankan melalui fenomena perundungan (bullying), dampak inflasi akibat kenaikan kurs dolar, hingga pemenuhan kebutuhan pangan yang memaksa masyarakat berpikir ekstra kreatif untuk bertahan hidup. Kompleksnya masalah sosial inilah yang menjadikan seni sangat berperan penting dalam menghadirkan solusi konkret ke depan.

Masyarakat saat ini juga sangat membutuhkan pendampingan mengenai bagaimana kekayaan budaya lokal dapat terus dijaga di tengah gempuran teknologi dan globalisasi tanpa kehilangan esensi aslinya. Di sinilah peran ISI Padang Panjang sebagai pionir dalam membentuk ekosistem kolaboratif harus dijalankan secara optimal. Kampus sangat membutuhkan jejaring Hexahelix sebagai motor penggerak terintegrasi. Kolaborasi yang melibatkan akademisi, praktisi industri kreatif atau komunitas, pemerintah (daerah maupun pusat), media, pelaku bisnis, hingga agregator sebagai sistem yang mengorganisir produk, informasi, dan layanan (ICCN, 2021: 52) harus mampu dirangkul dengan baik. Tujuannya adalah menghidupkan masyarakat dan kota agar menjadi lebih kreatif serta mandiri melalui potensi khas di masing-masing wilayah.

Seluruh perguruan tinggi seni di Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkan hal tersebut, tak terkecuali ISI Padang Panjang. Kerja kolaboratif berbasis jejaring Hexahelix inilah yang akan membuktikan apakah calon pemimpin ISI Padang Panjang mampu memberikan kontribusi berarti dalam menempatkan seni budaya agar dirasakan manfaatnya oleh semua lapisan masyarakat.

Langkah ini sekaligus menempatkan ISI Padang Panjang pada posisi tawar yang strategis dalam menentukan roda perekonomian masyarakat. Seni tidak lagi sekadar urusan kesenangan, tetapi memiliki nilai ekonomi yang mandiri. Kemandirian inilah yang menjadi terapi bagi masyarakat dan bangsa Indonesia agar tidak terus-menerus bergantung pada negara lain.

Pemimpin perguruan tinggi seni masa kini harus bertindak lebih dari sekadar administrator birokrasi. Mereka adalah dirigen ekosistem kreatif, kurator visi, sekaligus jembatan yang menghubungkan visi artistik-praktis dengan kebutuhan riil pemerintah daerah maupun pusat.

Pemimpin ISI Padang Panjang ke depan harus mengarahkan program penelitian dan pengabdian masyarakat pada potensi kearifan lokal (local genius) yang dimiliki daerah. Kota Padang Panjang dan Sumatra Barat sebagai homebase kampus—serta wilayah barat Indonesia secara luas—harus menjadi fokus utama dalam program-program strategis ke depan.

Begitu pula dengan kurikulum pembelajaran yang memerlukan transformasi adaptif. Orientasi “seni untuk kehidupan” sudah sepatutnya menjadi pilihan utama. Proses studi harus menghadirkan mata kuliah yang mampu mencetak mahasiswa sebagai calon lulusan yang siap menjawab kebutuhan industri kreatif di daerah asal atau daerah tujuan mereka pascastudi.

Dengan demikian, para lulusan dapat langsung menjadi eksekutor andal di lapangan dalam melaksanakan kerja-kerja industri kreatif yang dibutuhkan masyarakat secara langsung. Dalam memimpin ISI Padang Panjang, pekerjaan rumah (PR) dan tantangan utama para kandidat rektor adalah kemampuan membangun pusat kreatif sebagai ruang kolaborasi (laboratorium publik) yang inklusif dan dapat diakses masyarakat. Ruang ini sekaligus menjadi titik temu antara mahasiswa, seniman lokal, pengusaha, media, pemerintah daerah, dan agregator melalui platform digital terintegrasi yang bisa diakses publik secara luas.

Peran nyata kampus ke depan akan menjadi cerminan sekaligus parameter utama dari kinerja dan kompetensi pemimpinnya. Menjawab kebutuhan masyarakat saat ini, kehadiran lulusan dan sivitas akademika ISI Padang Panjang sangat mutlak diperlukan.

Oleh karena itu, matriks solusi yang taktis harus dirumuskan secara sangat serius agar visi-misi yang ditawarkan tidak sekadar menjadi ajang “jual bual” atau pemanis komoditas politik pada kampanye pemilihan rektor nanti.

Pemimpin baru harus mampu menjawab kebutuhan daerah dengan solusi institusional yang nyata. Caranya adalah dengan menggelar program penelitian dan pengabdian masyarakat yang mampu mengurai krisis identitas budaya, serta menekan angka pengangguran lulusan melalui strategi kemitraan strategis dengan pihak industri, media, pemerintah, maupun swasta.

Selain itu, program-program branding institusi juga harus dioptimalkan demi menaikkan nilai jual produk kreatif yang diciptakan masyarakat, serta mendukung berbagai kepentingan sektoral lainnya.

Pemimpin perguruan tinggi seni yang berhasil adalah mereka yang mampu mentransformasikan kampusnya menjadi sebuah “laboratorium solusi”. Pada titik ini, seni tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai pajangan estetika yang pasif, melainkan bermutasi menjadi motor penggerak kualitas hidup dan roda ekonomi wilayah.

Tugas pemimpin baru bukan hanya sekadar menaikkan target inkubasi bisnis di dalam internal kampus, melainkan juga mengangkat derajat kehidupan masyarakat luas agar mampu menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang hidup, mandiri, dan berkesinambungan bagi kota dan masyarakatnya.*



BACA JUGA