Kumpul IV Perkuat Jejaring Seni Visual Sumatera di Medan

Selasa, 12/05/2026 18:19 WIB
Kumpul 3 audiens

Kumpul 3 audiens

Medan, sumbarsatu.com — Kumpul IV menjadi penanda keberlanjutan ruang seni yang diinisiasi GUA lokal dalam mempertemukan praktik seni visual lintas wilayah di Sumatera.

Berangkat dari penyelenggaraan Kumpul III pada 2025, ruang ini terus berkembang sebagai wadah perjumpaan seniman dan audiens untuk mengembangkan karya serta gagasan melalui pertukaran apresiasi, kritik, dan diskusi.

Kumpul IV akan berlangsung pada 5 Juni hingga 7 Juli 2026 di Kota Medan, Sumatera Utara. Program ini dirancang dalam tiga rangkaian utama, yakni Open Call, Ruang Temu, dan Simpul, yang merupakan pameran kelompok Kumpul edisi keempat. Ketiga rangkaian tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem seni visual di Sumatera.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Open Call pada April–Mei 2026 yang mengundang pegiat seni berdomisili di Sumatera untuk berpartisipasi dalam Ruang Temu Kumpul IV.

Undangan ini terbuka bagi berbagai praktik seni visual, mulai dari gambar, lukisan, seni digital, karya tiga dimensi, fotografi, film, grafiti, instalasi, seni konseptual, hingga performance art.

Peserta Ruang Temu akan diumumkan melalui akun Instagram @gua_lokal pada 20 Mei 2026. Selanjutnya, mereka akan mempresentasikan karya pada 6 Juni 2026 di Clapham Collective.

Forum tersebut dirancang sebagai ruang diskusi interaktif yang mempertemukan seniman, audiens, sekaligus memperluas jejaring kreatif di Medan dan sekitarnya.

Selain itu, Kumpul IV juga menghadirkan Simpul, pameran kelompok yang menampilkan karya seniman dari berbagai wilayah di Sumatera, seperti Medan, Padang Panjang, Bengkulu, dan Aceh.

Pameran ini memperlihatkan keberagaman praktik seni sekaligus membuka kemungkinan pembacaan lintas konteks, baik secara geografis maupun generasional.

Delapan seniman terlibat dalam Simpul, yakni Yulfa Haris Saputra dari Aceh; Ai, Simu Anugrah, dan Winarto Kartupat dari Medan; Rara Almada Mutiara dari Bengkulu; serta Imam Teguh Sy, Jimmi Kartolo, dan Nanda Pradinhe dari Padang. Mereka menghadirkan beragam medium karya dengan konsistensi praktik berkesenian masing-masing.

Sejak Maret hingga Mei 2026, para seniman menjalani diskusi kekaryaan bersama tim GUA lokal untuk membedah sekaligus mempresentasikan karya mereka. Proses ini membuka ruang pertukaran pengetahuan dari beragam pengalaman, bahasa visual, dan cara membaca karya.

Diskusi tersebut tidak hanya memperkuat karya para seniman, tetapi juga mendorong lahirnya perspektif baru dalam memahami praktik seni rupa di Sumatera.

Melalui Kumpul IV, GUA lokal menegaskan posisinya sebagai ruang yang tidak hanya memfasilitasi presentasi karya, tetapi juga memediasi perjumpaan dan percakapan dalam praktik seni rupa.

“Kumpul tidak kami bayangkan sebagai ruang pamer yang selesai, tetapi sebagai situasi yang terus bergerak, di mana karya, seniman, dan audiens saling menguji dan membentuk satu sama lain,” ujar Jernih, perwakilan GUA lokal dalam relisnya yang diterima sumbarsatu, Selasa (12/5/2026).

Ia menambahkan, Kumpul tidak berangkat dari keseragaman bentuk maupun tema, melainkan dari kemungkinan perbedaan yang dapat saling berbicara, bahkan bertabrakan, untuk membuka pembacaan baru terhadap praktik seni hari ini.

Dalam konteks tersebut, seni dipandang bukan sebagai sesuatu yang selesai, melainkan proses yang terus dinegosiasikan melalui interaksi antara seniman, audiens, dan konteks sosial yang melingkupinya.

"Dari proses itulah, praktik seni berkembang tidak hanya sebagai karya, tetapi juga sebagai ruang pertukaran gagasan yang melahirkan pembacaan baru," jelasnya.

Informasi lebih lanjut mengenai persyaratan dan mekanisme pengiriman karya dapat diakses melalui akun Instagram @gua_lokal serta situs resmi gualokal.com.ssc/rel



BACA JUGA