Seorang penumpang di atas kapal pesiar MV Hondius, yang terdampak wabah hantavirus. ( Reuters: Hannah McKay )
Perth, sumbarsatu.com— Pemerintah Australia tengah menyelesaikan rencana pemulangan enam penumpang kapal pesiar MV Hondius yang terdampak wabah hantavirus mematikan. Proses evakuasi dan karantina diperkirakan rampung dalam waktu 48 jam.
Dikutip dari abc.net.au, Menteri Kesehatan Australia, Mark Butler mengatakan, lima warga Australia dan satu warga Selandia Baru yang berada di kapal tersebut saat ini dalam kondisi sehat dan tetap berada dalam pengawasan medis ketat di Belanda.
“Mereka dalam keadaan sehat dan relatif bersemangat meski baru saja melewati pengalaman berat,” ujar Butler, Selasa (12/5/2026)/
Wabah hantavirus di kapal pesiar ekspedisi MV Hondius sebelumnya menewaskan tiga penumpang, sementara seorang warga negara Prancis dilaporkan dalam kondisi kritis di rumah sakit.
Para penumpang yang dipulangkan akan diterbangkan menggunakan pesawat sewaan menuju pangkalan militer Angkatan Udara Australia di Perth sebelum dipindahkan ke fasilitas karantina Bullsbrook, Australia Barat.
Pemerintah Australia menyiapkan masa isolasi minimal tiga minggu dengan pengawasan tenaga medis khusus dari National Critical Care and Trauma Response Centre di Darwin.
Hantavirus merupakan penyakit langka yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama lewat urin, air liur, atau kotoran tikus. Gejala awal menyerupai flu, namun dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan dan gagal ginjal yang mematikan.
Meski otoritas kesehatan menyebut risiko wabah global masih rendah, penyelidikan terus dilakukan untuk mengetahui bagaimana virus menyebar di kapal pesiar tersebut.
Butler menegaskan Australia menerapkan langkah karantina paling ketat dibanding negara lain yang juga memulangkan penumpang kapal itu.
“Kami ingin memastikan tidak ada risiko bagi masyarakat Australia akibat tragedi kesehatan yang terjadi di belahan dunia lain ini,” katanya.
Australia sendiri memiliki empat pusat karantina nasional yang dibangun pascapandemi COVID-19 untuk menghadapi ancaman wabah penyakit menular di masa depan.ssc/mn