Orang Indonesia Suka Korea

-

Minggu, 10/09/2023 18:19 WIB
Berbagai alasan mahasiswa memilih Jurusan Penerjemahan Bahasa Melayu-Indonesia ini, salah satu alasannya karena orang Indonesia menyukai Korea.>foto ivan adilla

Berbagai alasan mahasiswa memilih Jurusan Penerjemahan Bahasa Melayu-Indonesia ini, salah satu alasannya karena orang Indonesia menyukai Korea.>foto ivan adilla

OLEH Ivan Adilla (Dosen Sastra Indonesia, FIB Unand)

Berbagai alasan mahasiswa memilih Jurusan Penerjemahan Bahasa Melayu-Indonesia ini.

“Saya memilih jurusan ini karena disarankan ayah saya,” terang Sooyeon Cho, mahasiswa semester tiga.

Setelah belajar satu semester, ia jadi suka belajar bahasa dan budaya Indonesia.

“Jadi saya ingin pergi ke Indonesia untuk mengalami secara langsung kehidupan di negara yang jadi jurusan saya. Saya akhirnya pergi Indonesia untuk belajar selama empat minggu. Saya mengunjunggi Makassar untuk belajar, dan ke Bali untuk beristirahat di Indonesia,” tulisnya saat diminta memberikan alasan memilih jurusan ini.   

Setelah mengunjungi Indonesia, Sooyeon Cho menyimpulkan: “…jurusan saya adalah pilihan yang paling bagus. Itu ada banyak alasannya. Pertama, orang Indonesia suka orang Korea. Jadi mereka menerima kami dengan hangat. Kedua, karena di Indonesia ada banyak tempat yang sangat indah. Kemudian, bahasa ini lebih mudah daripada bahasa yang lain.”

Beberapa mahasiswa di kelas saya ada yang telah cukup lama tinggal di luar negeri mengikuti orang tua mereka. Begitu masuk SMA atau kuliah, si anak diminta balik ke Korea. Sedikit banyaknya mereka sudah punya bekal pengetahuan dan kemampuan berbahasa Melayu atau Indonesia saat melanjutkan studinya. 

Si Hyeon, misalnya, tinggal selama lima tahun di Kuala Lumpur mengikuti orang tuanya. Pengalaman tinggal di Malaysia adalah hal paling mengesankan bagai Si Hyeon. 

“Ada banyak restoran yang menual makanan di jalan, dan orang Malaysia makan nasi dengan tanganya. Makanan Malaysia yang saya paling suka adalah nasi goreng dan sate ayam. Rasa susu sangan berbeda dengan rasa susu Korea, jadi saya sakit perut ketika saya minum susu Malaysia pertama kali,” tulisnya ketika saya minta menuliskan kesan tentang Malaysia.

Tidak hanya mahasiswa dari Jurusan Penerjemahan Bahasa Melayu-Indonesia yang bisa belajar di kelas kami. Di Korea, selain jurusan utama, mahasiswa dibolehkan untuk mengambil mata kuliah jurusan lain yang disukainya.  Di kelas saya ada saja mahasiswa dari jurusan lain yang mengambil Bahasa Indonesia sebagai pilihan.

Ryun Hyun Seok, misalnya, berasal dari Jurusan Elektronika Industri dengan fokus pada pembuatan chip. Dia belajar Bahasa Indonesia karena ingin bekerja di perusahaan Korea yang ada di Indonesia.

Tapi menjelang tamat, ia justru diterima bekerja di sebuah produsen chip di Korea. Apakah kemampuan Bahasa Indonesia Anda menjadi sia-sia Hyun Seok?

“Tentu saja tidak, Bapak. Saya akan terus belajar. Mana tahu nanti, pabrik kami ada pameran atau menjual chip ke Indonesia. Saya tentu bisa membantu…” terang Ryun Hyun Seok.

Pak Yu Jeong, mahasiswa dari Jurusan Manajemen, memiliki alasan agak unik. 

“Saya lihat di Indonesia sering terjadi banjir pada musim hujan. Dan pada musim kemarau banyak kekeringan,” terangnya.

“Benar. Tapi apa hubungannya dengan jurusan utama Anda?” tanya saya lagi dengan nada penasaran.

“Saya memilih bidang manajemen pengairan. Pengetahuan saya dalam manajemen pengairan akan dapat membantu orang Indonesia mengelola air. Ya, agar pada musim hujan, banjir tidak membahayakan. Atau menyimpannya untuk musim kemarau agar penduduk tidak kesulitan air,” paparnya memberi alasan. 

Agak lama juga saya terlongo mendengar jawaban itu. Sebagai orang Indonesia, saya terbiasa pasrah pada alam; banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Kalau ada korban, maka itu adalah kesalahan alam sehingga disebut bencana alam. Tapi orang Korea tak menyalahkan alam. Mereka percaya bahwa manusia diberi kemampuan untuk mengatasi banjir dan kekeringan. (ivan adilla)   



BACA JUGA