Sijunjung, sumbarsatu.com--Minangkabau, etnis mayoritas di Sumatra Barat, bukan satu-satunya suku yang menganut sistem matrilineal. Tercatat 39 masyarakat matrilineal di dunia, seperti Suku Bamenda di Kamerun, Batek di Malaysia, Bribi di Kosta Rika, Yunani di Yunani, Navajo di Amerika Serikat, dan Yahudi di Israel.
Sistem kekerabatan matrilineal yang didata di wilayah kerja BPNB Sumatra Barat adalah suku Muko-muko, suku Pekal, suku Enggano, dan suku Semende di Provinsi Bengkulu. Lalu, suku Semende, suku Semende Luwas atau Semende Ulu Luwas, suku Semende Mekakai, dan suku Semende Bayur di Provinsi Sumatra Selatan.
Sistem kekerabatan berdasarkan garis ibu itu dimaknai dan diangkat dalam Festival Matrilineal 2022 yang diselenggarakan BPNB Sumatra Barat.
Kurator Sri Setiawati mengatakan diangkatnya tema matrilineal dan berlangsung di Perkampungan Adat Sijunjungkarena Minangkabau adalah populasi terbesar matrilineal.
"Dalam tatanan adat Minangkabau, perempuanmendapat tempat yang terhormat. Ketika rumah gadang tidak ada, tidak ada perlindungan bagi perempuan. Alhamdulillah, di Perkampungan Adat (Sijunjung) ini masih ada rumah gadang," ujar Sri Setiawati saat membuka pertunjukan Festival Matrilineal di Perkampungan Adat Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Jumat (29/7/2022) malam.
Pertunjukan tersebut menyajikan 14 komunitas seni selama dua malam, Jumat-Sabtu, 29-30 Juli 2022. 12 seni pertunjukan dari Minangkabau, yang lainnya dari Muko-muko, dan Mende.
Di malam pertama, Sanggar Seni Pusako Panai menyajikan Tari Pasambahan. Komposer Rani Jambak memaknai matrilineal dari waris musikal. Sanggar Meribang menampilkan Tari Ngantat Rete. Komunitas Seni Budaya Ranah Sijunjung dengan Bakalintuang. Sanggar Parewo Limo Suku menampilkan Tari Buai-buai. Serta Sanggar Gandai Putri Selagan dengan Tari Gandai Tradisi.
Kurator Dede Pramayoza mengatakan pertunjukan yang dihadirkan bersumber atas kekayaan yang bersuku kepada ibu.
"Festival Matrilineal ini yang ketiga, sebelumnya dilangsungkan pada 2015 dan 2016. Harapannya mencintai kebudayaan kita, khususnya matrilineal," ungkap Kepala BPNB Sumatra Barat Undri.
Selain itu, kata Undri, Perkampungan Adat Sijunjung ini punya tradisi dan bagaimana itu bisa lestari. Untuk itu, tidak hanya pemerintah tapi juga diharapkan kepedulian stake holder seperti ninik mamak, alim ulama, dan cerdik pandai. Sehingga, Perkampungan Adat Sijunjung bisa diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO.
Di Perkampungan Adat Sijunjung, Tanah Bato dan Padang Ranah, saat ini terdapat 76 rumah gadang.
Sementara itu, Festival Matrilineal yang berlangsung 23-30 Juli 2022 ini juga diisi dengan Bakauah Adat yaitu tradisi masyarakat agraris di Nagari Sijunjung menentukan saat turun ke sawah secara serentak (komunal) dan wujud syukur atas hasil panen sebelumnya, pemutaran film dokumenter "Alam Takambang Jadi Guru" dan "Ngayikah", serta pameran atribut budaya berupa peralatan rumah tangga, pakaian adat, alat permainan tradisional, dan buku terbitan BPNB Sumatra Barat. SSC/Thendra