Gagasan Provinsi DIM Wajar, 15 Februari Layak sebagai Hari Otonomi Daerah

PROF DRS RUSDI MUCHTAR, MA, APU

Sabtu, 18/01/2020 07:51 WIB
Rusdi Muchtar

Rusdi Muchtar

sumbarsatu membuka rubrik JANO, dalam bahasa Minangkabau berarti pikiran, pangana seseorang tentang sesuatu yang didalaminya,atau profesinya. Rubrik ini membentangkan secara panjang lebar dan mendalam jano seseorang sesuai dengan latar dan kompetensinya. Penulisannya bisa dengan bentuk wawancara atau deskripsi-naratif. Kehadiran sosok yang ditampilkan tidak berkala. Ia bisa hadir kapan saja. Yang ditonjolkan kepermukaan ialah pikiran atau janonya.

JANO kali menghadirkan sosok ilmuwan Rusdi Muchtar, urang awak kelahiran 10 Juni 1949 di Nagari Pangian, Lintau Buo, Tanah Datar, dari ayah H. Muchtar Rasyid (mantan Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi) dan ibu Syamsiar (mantan Kepala SD 14, Jambi). 

Rusdi mengisi masa kecil bersama kakek dan neneknya di kampung halamannya Pangian. Sekolah Rakyat diselesaikan di SR Buo 1 pada 1961, SMP Negeri Buo pada (1964), dan tamat di SMA Negeri I Jurusan Budaya di Payakumbuh pada 1967. Kini, setelah pensiun di LIPI, aktivitas keilmuannya mengajar di perguruan tinggi di pelbagai kota di Indonesia. REDAKSI  

---------------------------------------------------------------------------------

“Saya mengusulkan agar “Hari Proklamasi PRRI” pada 15 Februari 1958 yang didengungkan kala itu dijadikan Hari Otonomi Daerah. Gagasan Provinsi DIM sebagai ganti Provinsi Sumatra Barat dinilainya wajar dan  normal.

Sosok sederhana dari Nagari Pangian, di tengah kesibukannya mengajar di pelbagai perguruan tinggi di Indonesia, masih sempat mengikuti perkembangan mutakhir wacana dan isu-isu yang terjadi di Sumatra Barat, Minangkabau. Bukan hanya mengikuti tapi sekalgus merespons dan member penilainnya terhadap wacana yang menjadi perbincangan masyarakat.

Salah satu wacana itu ialah rencana dan gagasan pendirian Provinsi Istimewa Minangkabau (DIM). Gagasan DIM yang dicetuskan oleh Prof Mochtar Naim empat tahun lalu itu, ia nilai sesuatu yang sebetulnya normal dan memang sudah sewajarnya.

“Keistimewaan itu layak diterima Minangkabau. Artinya, orang Minangkabau pantas daerahnya mendapat keistimewaan karena baik secara sejarah, maupun secara sosial budaya, banyak unsur dan kontribusi yang menonjol pada orang Minangkabau yang diberikan kepada bangsa ini. Maka Sumatra Barat menjadi Provinsi Daerah Istimewa Minangkabau sangat pantas disematkan,” kata Prof Drs Rusdi Muchtar, MA, APU,  Antoropolog dan Ahli Komunikasi serta peneliti LIPI ini saat awal bincang kami di media sosial beberapa waktu lalu.

Setelah pensiun di LIPI beberapa pada tahun 2014 lalu, kesibukannya tak berkurang. Ia kini banyak mengampu mata kuliah komunikasi, antropologi, dan budaya sosial di pelbagai perguruan tinggi di Tanah Air, antara lain di Universitas Islam Kalimantan (Banjarmasin), Universitas Darma Agung (Medan), Universitas Hang Tuah (Surabaya), Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Jayabaya (Jakarta), STIAMI (Jakarta) dan Universitas Indonesia (Jakarta).

DIM Keniscayaan

Sekaitan dengan keinginan beberapa tokoh Minangkabau untuk merealisasikan Provini DIM, menurutnya perlu didukung bersama-sama.

“Panitia telah bekerja keras bersama-sama agar gagasan Provinsi DIM bisa terwujud. Untuk itu telah dilakukan beberapa kali diskusi kelompok terpumpun (DKT) untuk pematangan konsep ini. DKT beberapa waktu lalu dilakukan di Universitas Yarsi, Jakarta. Sebelumnya dilalukan di Kota Padang. Ini sesuatu yang serius,” katanya.

Ia menyebutkan, Naskah Akademik untuk RUU DIM dan alasan untuk membentuk Provinsi DIM sudah dibuat dan didiskusikan secara intensif baik di Ranah Minangkabau maupun di rantau.  

“Saat digelar diskusi terfokus DIM Jakarta beberapa hari yang lalu itu, para peserta cenderung makin bulat tekad untuk segera mewujudkannya. Walaupun mungkin ada yang belum setuju dengan berbagai alasan yang juga logis,” terang sosok sederhana yang mengawali karier di LRKN-LIPI sejak 1971 sebagai asisten peneliti.

Hari Otonomi Daerah

Sementara itu, ketika disinggung soal peristiwa pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dinilai pemerintah pusat sebagai manifestasi pemberontakan terhadap jalannya pemerintahan yang sah, Rusdi Muchtar mengatakan, yang jelas dewasa ini perasaan rendah diri orang Minangkabau sejak tahun 1950-an sudah hilang.

“Orang Minangkabau yang terkesan introver dan rendah diri pasca-PRRI, sudah tak ada lagi seiring waktu berjalan. Tentang peristiwa PRRI ini menurut saya, mestinya orang Minangkabau bangga karena ide otonomi daerah yang dulu dijadikan tema utama PRRI tapi bagi Sukarno dianggap tabu karena pemerintah terpusat, sekarang sudah menjadi sistem pemerintahan di NKRI.

“Saya malah pingin usul agar Hari Proklamasi PRRI tahun pada 15 Februari 1958 yang didengungkan kala itu dijadikan Hari Otonomi Daerah,” kata Rusdi Muchtar.

Rusdi Muchtar menyelesaikan Sarjana di Fakultas Sastara Jurusan Sastra Inggris di Universitas Indonesia. Selanjutnya pascasarjana bidang komunikasi di University of Hawaii di Honolulu, USA, pada 1984 dan doktor di Murdoch University, Perth, Australia pada 1988.

Ia menjelaskan, secara umum perkembangan sosial budaya Minangkabau memang agak terasa lambat. Dalam diskusi di DIM lalu di Universutas Yarsi, terbesit bahwa posisi perkembangan social budaya orang Minangkabau (Provinsi Sumatera Barat), berada di urutan ketiga dari bawah. Jauh tertinggal dari provinsi2 lain. 

Ini sangat disayangkan karena penggerak kemajuan orang Minangkabau umum berada di luar ranah Minangkabau. Selain itu, di ranah Minangkabau sendiri pranata adat, seperti adatistiadat, tradisi kurang berperan lagi sebagai acuan tingkah laku kesehariannya.  

Orientasi Orang Minangkabau

Orientasi orang Minangkabau sekarang lebih banyak keluar wilayah adatnya. Mereka merasa orang luar lebih maju ketimbang masyarakat dalam mereka.

Lebih jauh dikatakan Profesor Riset ini, pranata sosial budaya Minangkabau dewasa ini sesuai dengan perkembangan zaman memang ada yang sudah tidak berfungsi, tapi sebagian lain masih ada yang berfungsi pada waktu waktu tertentu. Pranata adat istiadat seperti warisan adat, tata cara kegiatan lifecycle (upacara bayi lahir, sunatan, perkawinan, sampai meninggal) masih tetap ada walaupun ada yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dimana acara itu dilakukan. 

Tokoh adat di setiap nagari tetap ada walaupun fungsinya tidak lagi terlalu rigit seperti zaman dulu. Selain itu, yang membua pranata adat budaya Minangkabau tak berfungsi lagi berawal dari perilaku tokoh-tokoh adat di nagari-nagari. Banyak tokoh adat di nagari yang mengambil harta adat untuk keluarga batihnya.

“Dan ini menjadi sumber gosip yang luar biasa dalam nagari jika ada kasus tersebut,” tuturnya.

“Hamka dalam buku Minangkabau Menghadapi Revolusi mengatakan telah terjadi perubahan sosial di Minangkabau. Tapi menurut saya kontrol serta konservasi budaya secara adat serta tokoh perempuan (ibu-ibu) adalah merupakan benteng kuat untuk budaya Minangkabau tetap eksis,”  paparnya.

Lebih jauh dikatakannya, budaya Minangkabau memiliki modal sosial dan budaya yang masih bisa diandalkan. Modal sosial orang Minangkabau yang paling utama adalah kemampuan budaya mereka untuk bisa berkembang dan bertahan sampai sekarang. Peranan ibu-ibu alias bundo kandung adalah modal sosial yang efektif untuk menjaga budaya dan meneruskan unsur budaya pada generas berikutnya. 

“Kemampuan orang Minangkabau untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya yang mereka datangi (umpamanya bagi perantau) itu adalah modal sosial yang besar,” ujarnya.

Peneliti

Sekaitan dengan kariernya sebagai peneliti di LIPI, ia ceritakan begini. Mula-mula ia diajak seorang dosen yang bekerja di LRKN-LIPI sebagai asisten peneliti. “Bapak dosen itu almarhum Dr EKM Masinambow. “Lalu saya ke Leknas LIPI. Selama menjadi peneliti di LIPI sejak tahun 1976 sampai tahun 2014, berbagai penelitian komunikasi dan sosial budaya yang sudah saya lakukan, yang fenomenal ialah dampak satelit terhadap perilaku manusia,” kisahnya.

Dikatakannya, salah satu penelitiannya yang paling fenomenal tentang dampak sosial budaya komunikasi Satelit Palapa.

“Penelitian dilakukan selama enam tahun (1976-1982). Penelitian ini yang paling menarik dibanding penelitian-penelitian lain karena longitudinal research yang melibatkan Departemen Penerangan RI, The East West Center, Honolulu Hawaii lembaga penelitian di AS. Dengan kerja sama itu saya berkenalan dan pernah dibimbing oleh tokoh ilmuwan komunikasi Amerika yang terkenal, yaitu Prof  Wilbur Schramm, Dr Jack Lyle, Dr Godwin Chu, dan lainnya,” terangnya.

Selain itu, ada juga riset yang cukup menarik tentang profil orang muda Indonesia. Konsultannya Dr Astrid Susanti (Doktor Komunikasi pertama Indonesia di Eropa) dan Dr Alwi Dahlan (Doktor Komunikasi pertama orang Indonesia di Amerika Serikat). “Penelitian ini melihat bagaimana aspek komunikasi orang muda di Indonesia setelah kehadiran Satelit Palapa,” katanya.

Riset Dampak Satelit

Dalam kegiatan di Leknas LIPI, ada kerja sama antara Departemen Penerangan RI meneliti tentang media massa. Kebetulan waktu itu tahun 1976, Satelit Palapa baru diluncurkan dan Indonesia bisa menikmati siaran televisi (TVRI) secara nasional. Karena fenomena sistem komunikasi satelit domestik (SKSD), The East West Center di Honolulu, Hawaii, USA punya proyek yang disebut Social Effect of Satellite. Leknas LIPI menunjuk Dr Alfian dan Dr Budhisantoso (Antropologi UI) dan Drs F. Rachmadi (Litbang Deppen RI) sebagai Ketua dan Wakil Ketua Tim Penelitian.

Penelitian dampak satelit Palapa di Indonesia dilakukan pada 5 provinsi di Indonesia yaitu Aceh, Kalbar, Bali, Sulut dan Sulsel. Lima wilayah ini dianggap mewakili budaya masyarakat Indonesia. Jawa tidak diteliti karena sudah menikmati TV sejak tahun 1962.

“Dalam Tim tersebut saya disertakan sebagai anggota tim bersama anggota lain yaitu Dr Maswadi Rauf (UI), Dr Paulus Tangdilintin (UI), Dr Ramzy Tajuddin (UI), Drs F. Rachmadi (Litbang Deppen) dan Drs Sugeng Suprayanto (Deppen). Sebagai anggota tim penelitian tersebut banyak hasil penelitian yang ditulis dan malah ada yang sudah dibukukan.  Saya mendapat kesempatan menjadi penelitian di East West Center, Honolulu, Hawaii USA tahun 1979-80. Sementara itu saya melamar di Jurusan Komunikasi University of Hawaii, Honolulu. Saya kuliah pascasarjana di Dept of Communication University of Hawaii, Honolulu tahun 1982-84,” terang sosok yang pernah menjabat sebagai Profesor Riset Bidang Komunikasi di Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB)-LIPI ini.

Ketika ditanyakan dampak teknologi informasi yang demikian pasa pesat saat ini, ia menilai, cara berkomunikasi dewasa ini jelas jauh lebih maju dibandingkan tahun-tahun diawal kemerdekaan (Pemilu 1955).

Sejak tahun 2000-an media komunikasi lebih kompleks. Selain media konvensional seperti media cetak (suratkabar/majalah dan brosur), media elektronik (radio dan televisi) sekarang ada media informasi digital yang maju baik itu sifat massa maupun individual (medsos).

Fenomena teknologi informasi sekarang jelas maju dan memudahkan orang untuk mencapai seluruh lapisan masyarakat. Memang ada kecenderungan sebagian masyarakat kita menggunakan media sosial itu secara tidak sesuai dengan norma sosial.  Ada konten yang negatif dan cenderung mungkin tidak menggambarkan perkembangan sosial yang seharusnya juga maju.

“Masyarakat kita ini masih banyak yang punya nilai budaya (value system) yang berorietansi pada masa lalu dan mau menang sendiri alias egoism.  Hal itu tercermin dari berbagai konten medsos yang tidak sejalan dengan norma sosial yang positif. 

“Dengan kata lain sampai 17 April ini semua orang terkait dengan masing-masing idola politiknya itu aktif untuk menonjolkan tokoh maupun parpolnya/anggota legislatif idola mereka untuk bisa memenangkan pemilu nanti. Sebagai negara demokrasi, maka hal itu adalah lumrah. Kampanye serta berbagai  berbagai upaya/strategi untuk memenangkan calonnya dilakukan orang, termasuk dengan memunculkan hoaks di berbagai media sosial.

“Secara komunikasi politik upaya itu tentu saja sah karena berbagai cara dan strategi dilakukan orang. Cuma sayangnya etika berpolitik dan berkomunikasi mungkin belum sepenuhnya dimiliki oleh masyarakat kita.  Kematangan secara berpolitik adalah harusnya  berupaya untuk menang dengan menggunakan segala media dan cara, tetapi tetap dalam batas-batas hubungan sosial yang normal,” analisisnya.

Kendati begitu, menurutnya, peran tokoh Minangkabau dewasa ini tidak terlalu tampak karena sekarang publik sudah memiliki media  yang komplek dan luas. Dan masing-masing daerah juga telah memiliki tokoh yang juga menonjol. Namun demikian, tokoh cendekiawan zaman sekarang cenderung memiliki kelebihan sesuai dengan bidang disiplin masing masing.  

Ahli Dampak SKSD Palapa

Rusdi Muchtar masuk SMA Negeri Payakumbuh (kini SMA 1) tahun 1964. Setelah lulus dari SMP Negeri Buo di Pangian, Lintau Buo. “Saya pilih SMA Negeri Payakumbuh karena alasan praktis saja karena jalan mobil Lintau-Batusangkar waktu itu (tahun-tahun pasca-PRRI sampai akhir tahun 1960-an) jelek sekali. Jarak Lintau ke Batusngkar cuma 30-an km tapi ditempuh dalam waktu lebih dari 3 jam. Sedangkan ke Payakumbuh dari Lintau jalan cukup bagus dan transportasi juga agak lancar.”

Rusdi Muchtar tamat SMA Negeri Payakumbuh pada 1967.  Saat itu, inilah satu-satunya SMA Negeri di Payakumbuh. Baru tahun 1967 ada SMA Negeri 2 Payakumbuh yang asal dari SMA Sore Payakumbuh. SMA Negeri Payakumbuh Jurusan Budaya. Jurusan yang umumnya tidak disukai oleh banyak pelajar karena dianggap ilmu yang tidak pasti masa depannya. “Saya pilih naik kelas 2 Budaya sampai tamat kelas 3 Budaya dengan nulai selalu tinggi dan terbaik di kelas.” 

Saat itu SMA Negeri Payakumbuh yang menjadi kepala sekolah Sjamsukar Bachtiar, sosok yang komunikatif dan banyak pengetahuan.

“Cara mengajar juga enak dan saya sangat menikmati pelajaran beliau. Kampus SMA neg payakumbuh di Jalan Chatib Sulaiman di depan Makam Pahlawan Kota Payakumbuh,” katanya.

Setiap pagi ia berjalan kaki ke sekolah melewati Nunang (tempat tinggalnya) melintasi melewati Jembatan Ratapan Ibu yang terkenal itu. Selain berjalan kaki, ada juga anak sekolah yang bersepeda.

Tamat SMA Negeri Payakumbuh,  Rusdi Muchtar langsung berangkat ke Jakarta untuk ikut tes di UI dan diterima di Fakultas Sastra Jurusan Sastra Inggris. “Paman saya di Jakarta banyak membantu saya saat kuliah. Paman saya guru di SMP Muhammadiyah di Jatinegara.

Kedua orang tua Rusdi Muchtar di tinggal Jambi. Bapaknya, H. Muchtar Rasyid merupakan tokoh agama di Jambi jabatan terakhirnya Kakanwil Provinsi Kementerian Agama Provinsi Jambi. Sedangkan ibunya, Sjamsiar seorang guru SR/SD, terakhir  sebelum pensiun sebagai Kepala SD No 14 Jambi.

Tak berapa lama kuliah di Jurusan Sastra Inggris, ia pindah ke Jurusan Antropologi. “Saya merasa ilmku tak bertambah dengan kuliah di jurusan bahasa karena hanya mempelajari bahasa saja. Pindah ke Antropologi, baru merasa ada ilmu di sana.”

Di Jurusan Antropologi ada Prof Kuntjaraningrat (ahli Antropologi), Prof Harsja W Bachtiar (ahli sosiologi), Prof Parsudi Suparlan Dr Budhisantoso, dan Dr James Dananjaya (ahli Folklore Indonesia yang terkenal itu).

“Sambil kuliah saya kerja di LRKN-LIPI yang diajak oleh dosenku etno linguistik, Dr EKM Masinambow.  Jadi saya sambil kuliah kerja di LIPI. Saya tamat UI tahun 1976. terus aktif di LIPI, yaitu di Leknas LIPI,” terangnya.

Waktu Leknas LIPI banyak ilmuwan muda yang sedang bersinar antara lain Prof Taufik Abdullah, Dr Thee Kian Wie, Dr Mely G Tan, Dr Alfian, Dr Hilman Adil, dan banyak lagi.

Setelah menyelesaikan sarjana Antropologi, lalu dilanjutkan ke Master of Arts di bidang Komunikasi dari University of Hawaii, Honolulu, USA (1984). gabungan dua ilmu tersebut, yaitu Antropologi Budaya dan Komunikasi sosial menjadikan ia tertarik dengan pengetahuan tentang komunikasi  budaya dan komunikasi antarbudaya. 

Di sini ia banyak melakukan penelitian tentang komunikasi dan juga antropologi di berbagai wilayah Indonesia.

“Saya bersama tim meriset dampak sistem komunikasi satelit domestik (SKSD) Palapa yang diluncurkan. Riset selama 6 tahun, termasuk budaya Minangkabau. Budaya Minangkabau memang seperti budaya-budaya lain di Indonesia atau di dunia, pasti mengalami perubahan. Social Changes itu adalah alamiah, cuma ada yang cepat ada yang lamaa. Minangkabau termasuk perubahan yang lama karena konservasi budaya Miangkabau oleh tokoh adat-agamanya masih ketat dan selalu ada, walaupun makin lama makin lemah,” urainya tentang budaya Minangkabau dan SKSD. 

Pengaruh pendidikan serta kemajuan teknologi informasi/komunikasi pada masyarakat ini mempercepat perubahan. Dampak siaran televisi sejak tahun 1977 sampai sekarang sangat terasa. Masyarakat Minangkabau di nagari-nagari mendapat pengetahuan (yang positif maupun negatif) dari media televisi. nasrul azwar



BACA JUGA