Orang Kaya Buku Bincangkan "Sentrum Warsito"

-

Minggu, 08/10/2017 18:50 WIB
Bincang buku

Bincang buku "Sentrum Warsito: Kisah di Balik Penemuan Rompi Anti-Kanker" ditulis Fenty Effendy yang diapresiasi tiga orang pembaca buku: Indra Sakti Nauli, Zurmailis, dan Arlin Teguh, serta janang bincang-bincang Yusrizal KW, Minggu (8/10/2017)

Padang, sumbasatu.com--"Saya belum pernah melihat sepanjang karier saya, pembicara kunci seumur Anda, setidaknya pembicara kunci termuda dalam dua puluh tahun terakhir. Saya tertarik dengan presentasi Anda."

Demikian dikatakan Prof Liang-Shih Fan, dari Ohio State University Amerika Serikat, usai mendengar paparan riset dan penelitian Warsito pada 1999. Prof Fan, kebangsaan Taiwan yang pindah kewarganegaraan ke AS, yang saat itu menjabat sebagai ketua konsorsium perusahaan riset perminyakan di AS.

Profesor Fan mengajak Warsito yang bernama lengkap Warsito Purwo Taruno, ke Ohio State University dan memintanya untuk melakukan penelitian dan riset cara melihat tembus ke dalam reaktor dari kondisi kosong sampai betul-betul penuh cairan, partikel padat, dan gelembung gas.

"Gelombang ultrasonik tidak bisa mengatasi persoalan itu, tapi medan listrik statis mungkin bisa. Hanya saja algoritmanya harus ketemu dulu. Kasih saya waktu tiga tahun. Kalau tidak berhasil, berarti memang tidak ada orang yang bisa,” kata Warsito, yang mengantarkannya masuk dalam daftar “100 Ilmuwan Teknik Kimia Paling Berpengaruh di Abad 20”.

Dalam waktu 8 bulan, tidak sampai 3 tahun, Warsito berhasil menyusun algoritma cerdas NN-MOIRT untuk “membaca” fringing effects atau efek menyamping dari energi listrik yang sangat kaya data tapi selama ini tersia-sia karena tak ada yang bisa “membacanya”.

Warsito, anak petani kelahiran Ploso Lor, Karanganyar, Solo, 15 Mei 1967, meraih gelar doktor berkat penelitian tentang gelombang ultrasonik sebagai sumber energi untuk melihat tembus ke dalam reaktor multi-fasa (berisi cairan, partikel padat, dan gelembung gas) tanpa harus melubanginya atau memasukkan alat apa pun.

Dengan kata lain, ia sedang menggeluti tomografi, salah satu "state of art" teknologi instrumentasi yang menuntut penguasaan ilmu kimia, fisika, fisika instrumentasi, matematika, dan komputer.

Itulah bagian kisah perjalanan hidup Warsito yang ditulis secara apik dan enak dibaca, di buku yang inspiartif "Sentrum Warsito: Kisah di Balik Penemuan Rompi Anti-Kanker", Fenty Effendy, seorang jurnalis senior di Jakarta. Buku setebal 325 halaman yang diterbitkan Noura (Kelompok Mizan Publika) pada Mei 2017, dipaparbentangkan dalam bincang-bincang buku yang digawe Komunitas Orang Kaya Buku (OKB) bekerja sama dengan Up Co Working Space, Minggu (8/10/2017) di Padang.

Bincang buku yang merupakan program reguler OKB, sebuah komunitas menulis dan fasilitator untuk donasi buku yang kedua kalinya dilakukan yang sebelumnya novel "Anak Rantau" karya Ahmad Fuadi.

"Ini salah satu program rutin dan utama bagi Orang Kaya Buku. Selama ini kita kurang punya ruang membincangkan buku-buku yang terbit. OKB membuka seluas-luasnya," kata Yusrizal KW, Ketua Orang Kaya Buku, saat memberi pengantar kegiatan ini.

Jika sebelumnya bincang buku novel "Anak Rantau" tak dihadiri penulisnya tapi kali ini buku "Sentrum Warsito: Kisah di Balik Penemuan Rompi Anti-Kanker" langsung penulisnya. Kegiatan ini dihadiri 30-an para pencinta buku dan gerakan membaca di Sumbar.

Selain penulisnya, buku "Sentrum Warsito: Kisah di Balik Penemuan Rompi Anti-Kanker" juga diapresiasi tiga orang pembaca buku, yakni Indra Sakti Nauli (jurnalis dan pernah bersama Fenty di majalah Forum Keadilan), Zurmailis (dosen di FIB Unand), dan Arlin Teguh (seorang motivator).

Ketiga pembaca buku sepaham, bahwa buku "Sentrum Warsito: Kisah di Balik Penemuan Rompi Anti-Kanker", sangat inspiratif, menyentuh, dan membuka wawasan pengetahuan pembacanya.

"Buku ini ditulis dengan gaya seorang jurnalis murni, tak rumit, enak dibaca, dan kaya fakta. Memahaminya pun tak sulit. Semua orang bisa mengerti dengan mudah kendati buku ini bicara tentang riset dan bidang ilmu pasti," kata Indra Sakti Nauli yang mendapat giliran pertama memaparkan hasil bacaannya.

Lilik, demikian sapaan akrab Zurmailis, akademisi yang baru menyelesaikan program Doktoral di UGM, menyebutkan, perjalanan karier Warsito pada dasarnya bersentuhan dengan kapitalisme dan bisnis besar yang bakal terganggu jika apa yang dilakukan Warsito terus berkembang.

"Usaha ia menyembuhkan kanker dengan rompi atau helm anti-kanker yang telah memberikan harapan banyak penyintas kanker, tak pula diterima semua pihak. Kita tak paham apa yang bermain di sini," kata Lilik.

Arlin Teguh, yang mengaku menamatkan buku itu dalam semalam, mengatakan, apa yang ditulis dalam buku itu memberinya banyak gizi kendati dia sebelumnya buku itu terbit sudah mengikuti dari berbagai berita dan informasi tentang Warsito ini.

"Tetapi setelah saya membaca buku ini, membuka lebih banyak perspektif positif saya terhadap sosok Warsito yang bukan seorang dokter tapi mampu menjadi 'dokter kanker' bagi banyak orang," kata Arlin Teguh dengan nada yang meyakinkan.

Sementara itu, Fenty Effendy menguraikan ketertarikanya untuk menulis sosok yang sulit tersenyum ini karena apa yang dilakukan Warsito, baginya sangat penting bagi publik. Paling tidak publik tahu, bahwa kerja keras merupakan kunci untuk bisa meraih apa yang dicita-citakan.

"Warsito bukan sosok yang berada dalam hingar-bingar dunia material. Dia sosok yang humanis dan selalu menjaga kemanusiaan sosial. Warsito lebih tertarik pada usaha-usaha kerja keras ketimbang dibantu atau dimodali pihak lain. Makanya, awal Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs) Edwar Technology, yang dibangun dan dikembagkan Warsito bersama anak muda lainnya, di sebuah ruko dua lantai di Tengerang, Banten, yang jauh dari kesan mewah," terang Fenty.

Menurut Fanty, Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs) Edwar Technology, merupakan pusat riset dan produksi sistem tomografi 4D yang pertama di dunia. Lantai pertama ruko itu dijadikan warnet dan lantai ke dua adalah labs. Di ruko inilah, Dr Warsito bersama kawan-kawannya ingin mewujudkan cita-cita membangun institusi riset yang tidak kalah dengan institusi riset mana pun di dunia.

"Dari tempat itu pulalah, lahir teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT)," katanya.

Tetapi, dalam perjalanan ECVT, tambah Fenty, sebagai peneliti Warsito sempat goyah karena hasil risetnya hilang tak berbekas. Komputer kerjanya hangus terbakar tersambar petir dan laptopnya pun tiba-tiba jebol.

Riset bertahun-tahun untuk menciptakan alat pemindai empat dimensi (4D) berbasis teknologi ECVT, hilang begitu saja. Hal itu membuat Dr. Warsito menjadi stres dan bingung. Tetapi Dr. Warsito tidak mau terpuruk terlalu lama. Dia membongkar arsip dan catatan risetnya mulai dari awal. Untuk mewujudkan impiannya kembali, ia membentuk satu tim ahli dari CTECH Labs.

Kendati begitu, pada akhir 2015, Kementrian Kesehatan meminta Warsito menutup kliniknya yang telah melayani 3.200 pasien. Sebelumnya, Oktober 2013 ia dilarang tampil sebagai pembicara dalam "Workshop Deteksi Dini Kanker Payudara dengan Menggunakan Metode Nonradiasi" di Jakarta.

Kini, Warsito banyak diundang sebagai instruktur dan memberi pelatihan serta mengajar terkait bidangnya di perbagai negara. Banyak lembaga penelitian, klinik dan rumah sakit di luar negeri justru antre untuk mentransfer pengetahuan darinya di bidang terapi kanker. Pada 2016, Warsito memulai pelatihan internasional pertama untuk penanganan kanker di Warsawa, Polandia, dan pada 2017, dia membuka klinik yang sama di China.

Terlihat ikut berpatisipasi dalam bincang buku ini antara lain Yenny Narny (dosen sejarah FIB Unand), Sondri BS (budayawan), Yetti AKA (cerpenis), Asril Koto (penyair), Ganda Cipta (penyair), Syuhendri (aktivis Ruang Baca Tanah Ombak), Yeyen Kiram (aktivis sosial-budaya), Helma Tuti (aktivis PAUD), Fahmi Akbar dan Robby W Riyodi (keduanya aktivis lkeiterasi), Tomy Iskandar (Komunitas TDA Padang), dan lainnya. (SSC)



BACA JUGA