Indra Catri: Palembayan Menyimpan Kekayaaan Luar Biasa

POTENSI NAGARI

Minggu, 26/06/2016 16:42 WIB
-

-

Agam, sumbarsatu.com--Banyak pengamat memprediksi, H. Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah akan mengabaikan pembangunan kecamatan yang “mengalahkannya” dalam pIlkada lalu. Pasalnya, sudah biasa hal seperti itu terjadi pada masa lalu.

Namun, setelah ia dilantik sebagai bupati pada masa jabatan kedua, kecamatan yang pertama kali dipikirkannya adalah Palembayan, tempat ia kalah telak.

Menjawab sumbarsatu.com, Minggu (26/6/2016), ia dengan enteng menjawab, "Pilkada sudah usai, untuk apa memelihara dendam dan sakit hati.”

Benar, pilkada sudah selesai. Kini tinggal bagaimana pimpinan daerah memajukan pembangunan, agar rakyatnya sejahtera. Berbekal pikiran demikian, ia mulai menata kecamatan Palembayan, dengan berbagai program pembangunan.

"Karena potensi yang ada adalah sumber daya alam, berupa lahan pertanian yang luas dan subur, maka pembangunan di arahkan pada bidang pertanian dan perkebunan," katanya.

Program pembangunan memang disesuaikan dengan potensinya. Lahan kering tidak bagus ditanami sawit, apalagi lahan yang berada di kemiringan perbukitan, seperti Palembayan.

Setelah meneliti, kira-kira yang cocok dengan lahan Palembayan, maka dipilihkan bidang perkebunan. Di kecamatan itu akan dikembangkan tanaman manggis. Kemudian disusul jagung dan Pisang.

“Kita akan jadikan Palembayan sebagai pilot project pembangunan perkebunan dan pertanian, untuk tahap awal,” ujarnya.

Obsesinya, Palembayan menjadi penghasil manggis, pisang, dan jagung utama di Sumatera Barat, setidaknya di Kabupaten Agam.

Ia juga melirik Kecamatan Ampek Nagari. Kini kecamatan tetangga Palembayan itu merupakan penghasil jagung utama di Agam. Dulu, Ampek Nagari, khususnya Nagari Bawan, pernah menjadi penghasil pisang utama di daerah itu, menyaingi Baso.

Setiap pekan, belasan truk pengangkut pisang dari Bawan berangkat menuju Jakarta, Pekanbaru,d an Jambi. Pisang bawan kala itu benar-benar mampu menyejahterakan anak nagari. Namun, tidak ada yang tidak berakhir. Dekade tahun 1980-an, pisang terjangkit penyakit, yang tidak terobati. Maka berakhir pulalah kejayaan pisang bawan.

“Kini kita akan mencoba mambangkik batang tarandam. Dengan niat baik, semoga Allah mengabulkan keinginan itu,” ujarnya pula.

Yang menggembirakan, menurut Dt. Malako Nan Putiah, adalah dukungan penuh dari pihak SKPD terkait. SKPD, seperti Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (Dipertahornak), dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun).

Dipertahornak Agam sebelumnya sudah menjadikan Palembayan sebagai sentra pengembangan sapi Bali, dan jagung. Kini, ribuan bibit manggis lokal besertifikat juga sudah mulai dibagikan di Kecamatan Palembayan dan Ampek Nagari.

Sementara Dishutbun sudah mulai dengan langkah pengembangan tanaman tebu, kopi arabika, dan tembakau rendah kalori. (MSM)



BACA JUGA