Gempa Bumi dan Tsunami di Sumatera Barat

Kamis, 10/03/2016 13:57 WIB

OLEH NURMATIAS (Pemerhati sosial budaya)

Prolog

Belum hilang dari benak kita gempa dahsyat berkekuatan 8,3 Skala Ricter yang menguncang pesisir barat Provinsi Sumatera Barat pada 30 September 2009. Gempa bumi tersebut mengakibat jatuh korban 1.500 jiwa dan merusak dan memporak-porandakan infrastuktur yang ada.

Betapa pilunya kita melihat masyarakat tertimbun tanah di satu nagari di Kaki Gunung Tandikek, Kabupaten Padang Pariaman. Betapa sedihnya kita melihat jeritan anak-anak yang terjepit di antara reruntuhan beton dan gedung di Bimbingan Belajar Prima Gama atau jeritan pilu keluarga korban melihat ambruknya Hotel Ambacang.

Semua tragedi tersebut masih tersimpan dimemori kita dan mengakibat trauma mendalam bagi semua masyarakat yang merasakan. Masih terasa kepedihan yang terjadi di Sumatera Barat.

Kesedihan kita berlanjut. Pada tanggal 11 Januari 2010 terjadi gempa di Haiti dengan kekuatan 7,0 SR yang kedalaman 15 km  serta memakan korban menurut analis gempa dari Amerika Serikat dan Eropa 200.000 jiwa.

Dalam kondisi saat ini gempa sudah harus dipelajari secara sistemik, agar kita dapat mengetahui pola  terjadinya.

Gempa adalah fenomena alam yang dapat terjadi setiap saat dalam kehidupan umat manusia ditinjau dari sudut  ilmu pengetahuan bumi ini terdiri dari lapisan bumi yang mengalami perubahan bagi secara internal maupun eksternal.

Akibat perubahan yang ada mengakibatkan pergeseran-pergeseran lapisan bumi kearah yang stabil. Proses perubahan ini akan berlangsung terus menerus yang mengakibatkan ada siklus 100 tahun, 200 tahun atau sebagainya.

Informasi yang diutarakan oleh John Mc Closkey seorang professor gempa dari Institut riset Sains Lingkungan Hidup di Universitas Ulster, Irlandia Utara, menguraikan bahwa daerah Sumatera bagian barat belum aman dari gempa.

Energi yang masih belum keluar di patahan Sumatera akitbat penumpukan tekanan yang terus-menerus dua abad  di belahan parit Sunda. Menurut  Mc Closkey zona tersebut masuk kawasan pemicu gempa paling mengerikan di dunia yang paralel ke pantai Sumatera bagian barat.

Penumpukan energi yang terjadi dibelahan parit selat Sunda yang langsung bersinggungan dengan patahan dan pantai Sumatera perlu diwaspadai dan jangan ditakuti.

Menurut Peneliti dari Pusat Peneliti Geoteknologi LIPI Dr. Danny Hilman Natawijaya, Lokasi dan waktu yang tepat terjadinya gempa tektonik hingga kini dengan teknologi yang yang ada belum dapat diprediksi, meskipun demikian dengan mengetahui system kegempaan di pantai barat Sumatera dan adanya periode pengulangan sampai sekitar 200 tahun, gempa besar diperkirakan terjadi lagi kurun waktu 50 tahun ke depan.

Menurut Prof Dr. Badrul Kamal Mustafa ahli gempa dari Universitas Andalas menyatakan bahwa kalau satu daerah sudah pernah terjadi gempa berkekuatan besar biasanya tidak akan terjadi  25 tahun ke depan dengan asumsi bahwa gempa di pesisir barat Sumatera Barat ini berkuatan 8, 3 skala ricter menurut laporan negara asing.

Dalam Pandangan Religius

Mengacu pada sudut pandangan agama(religius)  gempa ini merupakan satu peristiwa alam yang mengingatkan manusia terhadap penciptanya atau gempa ini merupakan  kutukan atau murka Allah terhadap umat manusia.

Meskipun umat yang kena musibah ini tidak punya masalah atau berdosa, makanya Allah memberikan tanda-tanda alami supaya manusia bisa intropeksi diri dalam bertindak dan bertingkah laku.

Banyak surat atau ayat Allah yang menasehati kita tentang fenomena alam seperti gempa bumi lihat dan simak surat Al Qoriah dan Surat Al Zalzalah ini sudah menyebutkan akan keberadaan gempa bumi. Jadi kalau kita amati secara arif bahwa gempa ini tidak ada orang yang mengetahui kapan waktunya secara pasti.

Manusia hanya bisa mengabdi dan menerima kenyataan yang ada karena kejadian apa saja yang ada di bumi ini akibat dari ulah manusia dan dijadikan oleh Sang Pencipta manusia.

Untuk lari dari kenyataan yang ada kita tidak bisa karena gempa bumi merupakan pakaian hidup umat manusia maka manusia hanya berusaha menghindar dan memperbaiki tatanan yang sudah ada.

Meskipun orang pintar dan para ahli berteori jangan dijadikan rujukan yang paling sahih. Coba kita amati di Haiti yang dekat dengan Amerika Serikat yang menjadi pusat segala ilmu tidak bisa memberikan informasi yang akurat. Setelah terjadi gempa baru para ahli berteori itu dan ini.

Kita semua bisa meramalkan akan terjadi gempa kuat yang akan menghancurkan bumi dan alam sekitarnya tetapi ilmu itu tidak diberikan oleh sang kuasa kepada manusia.

Manusia zaman sekarang sangat percaya kepada ramalan yang ada.  Peramal dari suku bangsa Aztex mengatakan akan terjadi kiamat pada tahun 28 Desember 2012. Mama Lowrence mengatakan bahwa pada tahun 2010 akan terjadi peristiwa yang lebih dasyat dari tahun kemaren.

Dalam Kalender Cina tahun 2010 adalah sio Harimau yang ganas. Semua itu ramalan manusia yang perlu dibuktikan dan ilmu itu yang tahu hanya Allah penguasa alam.

Gempa dan Tsunami di Sumatera  Barat

Menurut pendapat orang-orang bijak marilah kita melihat dan mempelajari sejarah karena dengan mempelajari sejarah kita dapat membuat prediksi dan langkah-langkah dimasa yang akan datang.

Dalam Al Quran hampir dua pertiga isinya mengutarakan sejarah dan kisah yang terjadi sebelum Al Quran diturunkan dan ini merupakan tuntunan kita melangkah diatas bumi ini.

Banyak teori para ahli sejarah mengatakan sejarah itu akan berulang. Mensitilir  pendapatnya Francis Fukuyaman dalam buku The End of History and the Last Man sebuah peritiwa besar, akan mengubah manusia, mengubah masyarakat ?

Pada perubahan masyarakat yang berlangsung dramatik, terjadi di sejumlah Negara dan rata-rata dalam periode sejarah yang sama A Great DIsruptionn (keterpatahan besar) rasanya lebih  dramatik dan bersifat seketika dibandingkan perubahan peradapan manusia yang disebabkan oleh teknologi trasformasi dari makhluk pemburu ke pertanian, dari pertanian ke industri, dari industri ke informasi.Menurut catatan seismic dunia, yang disimpulkan di united States Geological Survei (USGS).

Berdasarkan data sejarah dan penelitian geologi  berdasarkan siklus seismic gempa berskala 9,0 skala ricter sekitar zona subduksi di lepas pantai barat pulau Sumatera, khususnya Kepulauan Mentawai pada saat ini berada diujung siklus seismik tersebut.

Oleh karena itu perlu dilakukan persiapan, membuat simulasi sehingga kemungkinan gempa bumi kekuatan besar terjadi sudah dapat diminimalisasi korban jiwa.

Dampak gempa pada 30 Septembar 2009 di Sumatera Barat

Pendapat ini diutarakan pakar gempa Dr. Danny Hilman Natawidjaja dalam diskusi Geologi Selat Sunda  di Auditorium Museum Geologi Bandung. 

Dalam kegiatan seminar tersebut pembicara lain Dr. Surono, Kepala Subdirektorat Vulkanologi dan Mitigasi dan Dr. Hamzah Latief, geolog dari Institut Teknologi Bandung. 

Kendala yang dihadapi para ahli adalah minimnya data dan sumber mengenai gempa bumi, tsunami dan gunung meletus yang pernah terjadi di Indonesia.

Berdasarkan penelitian Danny dapat mengetahui pola-pola gempa di kawasan perairan barat Sumatera.

Penelitian ini dilakukan Danny dari tahun 1995 sampai sekarang bekerjasama dengan Kerry Sieh  Dari Caltech Tektonic Observation. Mereka melakukan penelitian dengan mengamati lempeng bumi dengan  memasang antenna Global Positioning System (GPS) di pulau-pulau sepanjang pesisir barat Sumatera.

Dengan menganalisa dan mengamati tersebut ditahui lewat terumbu karang yang tersebar disepanjang pantai barat Sumatera  pernah terjadi gempa berulang kali di pantai barat Sumatera.

Melihat permukaan dasar laut dan bentuk-bentuk karang mikroatol yang menyerupai topi koboi, diketaui pesisir barat Sumatera Barat pernah mengalami proses naik  turun dalam periode ratusan tahun lalu.  Naik dan turunnya dasar pesisir ini disebabkan oleh desakan lempeng Indo-Australia dan akibat gempa tektonik.  

Dengan meneliti bentuk dan struktur lapisan karang itu dapat diketahui Kepulauan Mentawai pernah dilanda gempa besar pada tahun 300. 1369, 1610 dan 1833.

Penelitian di Kepualauan Mentawai yang terdiri dari Pulau Pagai, Siberut, Sipora dan Kepulauan Batu di Kabupaten Nias Selatan menunjukan periode pengulang gempa masing-masing pulau yang berada di pesisir barat Kota Padang itu berjangka sekitar 200-300 tahun. Periode gempa di pulau-pulau ini diperkirakan tidak berbeda jauh namun kejadian gempanya berbeda.

Menurut Letnan 1 Infanteri Joanis (Johannes ) Cornelis Boelhouwer Ridder van de Militaire Willems Orde Kelas IV dalam Kenang-Kenangan Di Sumatera Barat selama tahun 1831-1834  (Herinneringen van verblijf op Sumatra’s Weskust Geurende de jaren 1831-1834) mengatakan  pada akhir bulan November 1833 terjadi gempa bumi yang begitu dahsyat melanda Padang dan Sumatera Barat. 

Pada malam harinya kami mengalami ketakutan hebat yang membuat kami khawatir akan hidup kami. Bahkan orang tua pribumi yang paling tua tidak pernah mengingatkan hal seperti itu terjadi.

Saya dan orang lain tidak dapat tinggal lebih lama di dalam rumah dan bahkan kami tidak dapat berdiri di halaman. Seluruh alam terasa dalam huru hara, segala sesuatunya terguncang dan jatuh berpecahan. Tidak ada satupun diatas meja atau kursi yang tetap pada posisinya.

Di berberapa tempat tanah terbelah selebar 2 kaki atau lebih. Laut bergolak dan terus bergolak makin dahsyat. Tidak ada satu perahu di Pelabuhan Pariaman yang tetap tertambat di dermaga.

Semuanya terhanyut jauh dan esok paginya kami menemukan perahu-perahu itu terpencar di mana-mana. Beberapa hari kemudian masih terasa gempa lagi, walaupun dengan goncangan yang lebih kecil. 

Di Padang sejumlah rumah batu termasuk gereja rusak berat. Gereja malah tak bisa dipakai lagi. Dalam perjalanan saya ke Padang, saya menemukan  beberapa parit perlindungan yang rusak berat di pantai.

Berita dari Bengkulu juga menyebutkan kedahsyatan gempa tersebut, seluruh dermaga hancur  kecuali kantor bea cukai. Selama mengalami  penekanan oleh lempengan, pulau-pulau kecil itu bergerak mendekat ke Sumatera.

Menurut penelitian Dr. Danny Hilman Natawijaya dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dari catatan sejarah gempa di Kepulauan Mentawai menyebutkan kepulauan ini pada tahun 1833 pernah diguncang gempa berkekuatan 9 pada skala richter.

Periode pengulanagan gempa di wilayah ini menurut penelitian yang dilakukan Selma hampir 10 tahun lalu memiliki periode pengulangan sekitar tahun 200 tahun.

Bila wilayah tersebut sampai terguncang gempa besar lagi, maka daerah yang akan terkena dampak bukan hanya Padang dan Bengkulu tapi juga Singapura dan Jakarta, yang masing-masing berjarak kurang lebih 300 km dan 600 km dari sumber gempa itu.

Dua kota besar ini daratanya terdiri dari tanah alluvial hasil sedimentasi dan reklamasi. Adanya gelombang besar yang merambat sampai dilapisan tanah ini dapat menjadi atau teramplikasi, memberikan dampak yang parah.

Bahaya tsunami juga mengancam Padang dan Bengkulu dimasa mendatan. Gempa yang berpusat di sekitar Kepulauan Mentawai akan menimbulkan tsunami yang bakal menerjang ibukota Sumatera Barat itu dalam kurun waktu 10 menit setelah gempa.

Ancaman gempa besar dan tsunami di pantai barat Sumatera ini menurutnya bukan hanya datang dari pulau-pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan, tapi juga pulau lain di gugusan Kepulauan Mentawai yaitu Pulau Sipora yang terguncang gempa tahun 1600an dan Siberut tahun 1797.

Sejak itu keduanya tertidur panjang untuk mengimpun kekuatan. Saat ini kondisi keduanya sudah cukup matang untuk sewaktu-waktu mengadakan serangan kembang.

Sejarah Gempa dan Mohammad Saleh

Dalam buku biografi Mohammad Saleh yang berjudul Mohammad Saleh Riwayat Hidup dan Perasaaai Saya” dalam perjalanan pulang berdagang dari Sibolga dia melihat daerah di utara Pariaman hancur dan luluhlantak akibat gempa.

Mohammad Saleh adalah saudagar kaya yang memiliki armada dagang yang besar serta memiliki lahan kelapa sampai ke Pulau Simelue. Pedagang Cina dan India (Keling) meminjam modal kepadanya.

Sekarang masyarakat pribumi yang meminjam modal kepada bank-bank yang dimiliki oleh suku Cina dan India. Kekayaan Mohammad Saleh saat ini masih bisa dilihat dan diamati di kota Pariaman. Hampir semua daerah yang dilalui kapal Mohammad Saleh hancur. Dalam biografi beliau mengatakan kejadian ini terjadi pada tahun 1861.

Dalam riwayat hidup beliau mengatakan bahwa di Pulau Telo pada malam hari pukul 8 malam terjadi gempa yang dahsyat, keras dan agak lama Para penduduk Melayu, orang Tionghoa dan orang Nias semuanya ketakutan.

Masyarakat berlarian pergi ke bukit dekat pasar, rumah-rumah dan kedai-kedai ditinggalkan pemiliknya. Barang dagangan dan uang tidak digubris serta ditinggalkan pemiliknya demi menyelamatkan diri naik bukit.

Mayarakat menyelamatkan diri masing-masing, termasuk komandur (gezeghebber) kepala pemerintahan di Pulau Telo berserta isteri menyelamatkan diri naik bukit. Dalam kepanikan orang terhadap gempa di Pulau Telo, itu keluar baba Gadang (Pemimpin Spritual di Pulau Telo) dengan beberapa orang Nias membawa lampu, lentera, berjaga-jaga kemudian berteriak memanggil Mohammad Saleh.

Kata Baba Gadang, Mohammad Saleh (Nahkoda) lekas turun kedaratan, jangan tinggal di perahu, mungkin nanti datang ombak besar (Tsunami). Lihat di sebelah selatan sudah kedenganran bunyi badai, jika gelombang datang kemari perahu anda akan pecah dihempaskannya dan nahkoda tidak sempat melarikan diri.

Perasaan Mohammad Saleh galau kalau ditinggalkan perahu uang f.500 akan hilang diambil atau ditelan ombak, sedangkan bertahan diatas perahu tantangannya nyawa melayang. Setelah ditimbang kemudian dia memutuskan untuk lari sama seperti  orang-orang di pasar lari ke atas gunung.

Dalam hitungan menit tiba-tiba air laut naik secara mendadak. Daratan dekat pelabuhan terendam air. Rumah-rumah dan Pasar Telo terendam air. Tsunami tidak melanda Telo karena letak geografis dan banyak teluk yang mengelilinginya sehingga air bah (Tsunami) ini sudah terpecah kekuatannya sehingga airnya sudah lemah. Tak lama berselang tsunami yang datang air laut sudah normal kembali.

Dalam buku biografi Mohammad Saleh menyebutkan bahwa masyarakat menyarankan ke Mohammad Saleh untuk tidak berlayar karena gempa masih terasa.  Sesudah gempa reda  perahunya baru berani bertolak Pariaman.

Sebelum berangkat mereka berjumpa sebuah perahu yang mau merapat ke Telo. Perahu ini berasal dari Pulau Simut, perahu ini berlabuh dekat perahu Mohammad Saleh.

Di Dalam perahu bergelimpangan delapan orang sakit yang dibawa dari Natal. Mereka luka-luka, di antaranya ada yang parah, patah lengan dan kaki. Pulau Simuk dilanda Tsunami setelah gempa besar terjadi, sehingga banyaklah orang-orang yang kena tsunami.

Di sebelah barat pulau Simuk 150 orang yang meninggal. Mayat-mayat terserampang dibatang-batang kelapa dan bergelimpangan di mana-mana. Orang hilang juga banyak dan pulau Simuk terkenal tempat pembuat minyak.

Catatan sejarah ini didukung oleh temuan Danny Hilman Natawijaya waktu terjadi gempa di Pulau Simelue tahun 2002, dia mencemaskan guncangan itu akan memicu system kegempaan dipulau-pulau yang berada sisi sebelah selatan Kota Padang dan Pariaman.

Pulau Nias pernah tersapu tsunami dan gempa pada tahun 1861. Munculnya kepulauan Mentawai, Nias, Batu, dan Siberut akibat pertemuan dua lempeng yaitu Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia.

Pulau-pulau yang menyembul ke permukaan laut itu merupakan hasil proses tabrakan atau interaksi dua lempeng yang berlangsung ribuan hingga jutaan tahun lalu. Pelepasan energy terjadi di situ.

Hal itulah yang menyebabkan pulau-pulau tersebut rawan gempa besar. Dalam catatn sejarah kegempaan daerah barat Aceh hingga Bengkulu beberapa kali mengalami gempa besar.

Pada tahun 1833 pusat gempa berada di pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan dengan kekuatan 8,9 Mw (skala ricter). Pada tahun 1861 Pulau Nias mengalami gempa dengan kekuatan 8,9 Mw.

Kedua lokasi gempa mengalami periode 200 sampai 300 tahun pengulangnya. Gempa ini akan memicu gempa-gempa selanjutnya seperti gempa di Pulau Simeuleu awal tahun 2004, kemudian pada tanggal 26 Desember 2004 terjadi gempa dan Tsunami di Aceh yang memakan korban 150.000 jiwa.

Gempa-gempa ini tidak saja berpusat di lautan juga berpusat di darat seperti gempa Liwa, Padang Panjang, Kerinci,Dataran Tinggi Karo, Gunung Rajo Batipuh dan sebagainya.

Danau-danau yang terletak ditengah pulau Sumatera seperti Ranau, Kerinci, Diateh, Dibawah, Singkarak, Maninjau, Toba dan Danau Laut Tawar merupakan akibat bertabrakan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia yang berbentuk kaldera raksasa. Dalam kondisi saat ini masih tenang dan akibat tabrakan lempeng Indo Australia dengan lempeng Eurasia akan menalami aktifitas vulkaniknya.

Epilog

Indonesia dikenal sebagai negeri kaya bencana gempa bumi, tsunami dan letusan gunung berapi ini berdasarkan  cacatan sejarah.

Bencana merupakan hal yang lumrah dalam peradapan umat manusia tapi jangan lari dari kenyataan yang ada. Banyak dalam catatan sejarah terjadi gempa besar di Sumatera Barat dan hal ini sudah diuraikan dengan gambalng pada alinea sebelumnya. 

Semua itu tidak terlepas dari guna sejarah dalam perspektif filosofisnya. Coba kita renungkan dalam-dalam, ketika kita tidak punya masa lalu mungkin kita meraba- meraba segala sesuatu yang akan kita kerjakan untuk masa depan, bahkan secara lebih ekstrimnya akan menjadi orang gila yang lupa ingatan , tak tentu arah.

Begitu permasalahan telah muncul baik pada skala individu maupun berbangsa dan bernegara, kita tidak punya tempat berpijak untuk memutuskan sesuatu karena tidak punya suatu pedoman yakni pengalaman, pengalaman yang semestinya merujuk kepada masa lalu kita sebagai bahan pertimbangan untuk memutuskan suatu kebijakan atau keputusan.

Sejarah mengenai bencana sudah seharusnya kita pelajari sehingga kita dapat meminimalisasi kondisi yang ada dalam mengatasi peristiwa gempa atau bencana.

Sebaliknya kenyataan objektif juga menunjukkan bahwa sejarah berisi pula lembaran-lembaran yang diliputi dengan tantangan, kelemahan, dan mungkin juga kegagalan.

Kita juga sadar bahwa bencana akan selalu membayangi kita tetapi kita sudah dibekali kearifan local dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami yang ada.

Kearifan lokal yang ada perlu kita sosialisasikan kemasyarakat seperti kalau ada gempa secepat mungkin keluar ruangan, kemudian mencari tempat yang tinggi atau pribahasa minang sudah memberikan suatu pedoman pada kita tentang kalo takuik dilamun ombak jan barumah ditapi pantai (kalo takuk di hantam ombak, jangan berumah di tepi pantai). Dalam pepatah petitih di masyarakat Minang sudah membuat kualifikasi kegunaan lahan seperti ,.

  • Nan lunak ditanam baniah (nan lunak untuk sawah)
  • Nan kareh di buek ladang  (Tanah yang keras untuk ladang)
  • Nan bancah palapeh itiak (daerah rawa-rawa untuk ke tempat bermain itik)
  • Ganangan katabek ikan (Daerah genangan air untuk beternak ikan)
  • Bukik batu katambang ameh (Bukit batu ke tempat mencari emas)
  • Padang lapang bakeh taranak. (Padang hilalang untuk tempat beternak)

Bangsa yang kokoh adalah bangsa yang dapat keluar dari pergumulan melawan kesulitannya sendiri.

Perspektif psikomotorik, cognitive strukture pelestarian nilai-nilai budaya bagi masyarakat khususnya generasi muda memiliki peranan yang sangat vital, terutama dalam membangkitkan kesadaran dalam menghadapi tantangan hidup dan menyamakan persepsi di kalangan masyarakat untuk bisa menghindar dari bencana yang  ada.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aboen Nain, Sjafnir, Tuanku Imam Bonjol : Sejarah Intelektual Islam di Minangkabau 1784-1832. Padang: BPSNT, 2008

Adishakti, Laretna T, , Teknik Konservasi Kawasan Pusaka, Jurusan Arsitektur, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2003.

Amran, Rusli, Sumatra Barat hingga Plakat Panjang. Jakarta:Sinar Harapan, 1985

Asnam, Gusti, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatra, Yogyakarta:Ombak 1999

Ballot.J.H, ”Sumatra’s Westkust en Tapanuli” dalam De Bevolking rubbercultuur in Nederlands-Indië. Weltevreden :     Landskrukkij, 1930.

Boelhouwer, J.C Kenang-Kenangan di Sumatera Barat Selama tahun-tahun 1831-1834, Padang, Lembaga Kajian Gerakan Padri (1803-1838), 2009

Cahanar, P (edi,) Bencana Gempa dan Tsunami Nanggroe Aceh Darussalam & Sumatera Utara, Jakarta, Kompas, 2005

Latief S.M. Mohammad Saleh Riwayat Hidup dan  Perasaian Saya, Jakarta, Diterbit S.M. Latief, 1975

Sidharta, Eko Budihardjo, , Konservasi Lingkungan dan Bangunan Bersejarah di Surakarta, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1989.

Zed, Mestika, Melayu kopi daun : Eksploitasi kolonial dalam Sistem Tanaman Paksa Kopi di Minangkabau Sumatera Barat (1847-1908)”. Thesis. Jakarta : Pascasarjana Bidang Studi Ilmu Sejarah Indonesia Pengkhususan Sejarah Indonesia Universitas Indonesia, 1981.



BACA JUGA