OLEH Dr. Lismomon Nata, S.Pd., M.Si | Doktor Ilmu Lingkungan | Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Muda, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN
JAUH sebelum algoritma media sosial menentukan apa yang kita lihat setiap hari, jauh sebelum teknologi digital mampu menciptakan citra kehidupan yang tampak sempurna melalui berbagai filter dan kurasi visual, masyarakat Nusantara telah mewariskan sebuah kebijaksanaan, berbagai macam nilai yang menuntun tentang cara memandang kehidupan. Di antaranya adalah masyarakat Jawa. Pada kesempatan ini penulis tertarik mengulik kalimat filosofis, Sawang Sinawang.
Secara harfiah, sawang berarti melihat, sementara sinawang berarti saling dipandang. Dalam ungkapan yang lebih utuh, masyarakat Jawa sering menyebutnya dengan kalimat “urip iku sawang sinawang”, hidup itu saling memandang.
Manusia cenderung melihat apa yang terlihat oleh pandangannya saja, meskipun apa yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan kenyataan yang sebenarnya. Setiap kehidupan memiliki sisi yang tampak di permukaan dan sisi lain yang tersembunyi di baliknya.
Falsafah ini lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam memahami kompleksitas kehidupan manusia. Ketika seseorang memandang kehidupan orang lain, yang sering terlihat hanyalah keberhasilan, kebahagiaan, atau kenyamanan yang tampak dari luar. Namun di balik itu, hampir selalu ada cerita yang tidak terlihat: perjuangan yang panjang, kegelisahan yang tersembunyi, bahkan luka yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun. Dengan kata lain, Sawang Sinawang mengingatkan manusia agar tidak mudah terjebak, terbuai dalam perbandingan yang semu.
Dalam konteks kehidupan modern, falsafah ini justru menemukan relevansi yang semakin kuat. Kehidupan digital hari ini memperlihatkan bagaimana media sosial menghadirkan potret kehidupan yang sering kali telah dipilih dan dipoles sedemikian rupa.
Foto perjalanan yang indah, pasangan yang tampak harmonis, rumah yang mewah, atau anak-anak yang berprestasi, pencapaian-pencapaian, semuanya tampil sebagai fragmen kehidupan yang terlihat sempurna. Padahal, bisa jadi yang ditampilkan sering kali hanyalah potongan kecil dari realitas.
Media sosial pada akhirnya menciptakan semacam panggung tempat setiap orang menampilkan “highlight kehidupan”, bukan keseluruhan cerita hidupnya. Kenyataan yang penuh kerja keras, kegagalan, kelelahan, dan keraguan jarang sekali menjadi bagian dari narasi yang dipublikasikan. Dalam skala tertentu, Sawang Sinawang yang dahulu merupakan fenomena sosial yang alami kini telah berubah menjadi ilusi yang diproduksi secara sistematis oleh teknologi dan budaya digital.
Situasi ini membawa konsekuensi psikologis yang komppleks. Banyak orang tanpa sadar membandingkan kehidupan nyata mereka yang penuh proses, ketidaksempurnaan, dan perjuangan dengan potret kehidupan orang lain yang telah disunting, difilter, dan dipilih secara selektif, yang dilihat dari scrolling tanyangan pada media sosial. Perbandingan yang tidak seimbang ini perlahan melahirkan rasa tidak cukup, kecemasan sosial, bahkan perasaan tertinggal dari orang lain.
Persoalan menjadi semakin bak seperti bola salju ketika masyarakat belum sepenuhnya memiliki kemampuan literasi kritis yang kuat. Sistem pendidikan selama ini sering kali lebih menekankan pada apa yang harus dipikirkan, bukan bagaimana cara berpikir. Akibatnya, ketika masyarakat dihadapkan pada arus informasi yang sangat besar, tidak semua memiliki kemampuan untuk memahami konteks, mengkritisi pesan, serta membedakan antara realitas dan narasi yang dibangun.
Dalam kondisi seperti ini, manusia mudah terpukau oleh gambaran kesuksesan yang tampak instan. Tidak sedikit yang kemudian tergoda oleh berbagai iming-iming, janji jalan pintas menuju keberhasilan, mulai dari pekerjaan, investasi yang tidak jelas hingga berbagai bentuk manipulasi digital lainnya. Pada titik inilah Sawang Sinawang kembali menemukan relevansinya sebagai pengingat bahwa apa yang terlihat di permukaan tidak selalu mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya.
Perkembangan teknologi yang sangat cepat juga melahirkan budaya baru yang serba instan. Pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, barang dapat tiba saban waktu, dan popularitas dapat muncul hanya melalui satu video yang viral. Budaya kecepatan ini secara perlahan membentuk persepsi bahwa keberhasilan pun dapat dicapai secara cepat dan tanpa proses panjang.
Akibatnya, ketika seseorang melihat orang lain tampak berada di puncak kesuksesan sementara dirinya masih berada di tengah perjalanan bahkan jauh tertinggal di belakang, tekanan psikologis yang muncul sering kali bukan lagi dorongan untuk bekerja lebih keras, melainkan keinginan untuk menemukan jalan pintas, kena menal hingga stres.
Orang-orang yang tidak bertanggung jawab mengambil kondisi mentalitas seperti itu untuk melakukan tindak perilaku penipuan secara oline (scamming), baik dengan menipu melalui informasi-informasi pencarian kerja, melakukan iming-iming pekerjaan, penghasilan yang besar yang dilakukan secara terstruktur dan canggih. Sementara faktanya, hampir setiap keberhasilan yang sejati selalu dibangun melalui proses yang panjang dan tidak selalu terlihat.
Di tengah derasnya arus informasi dan ilusi kehidupan digital tersebut, keluarga memiliki peran yang sangat fundamental. Keluarga merupakan ruang pertama tempat manusia belajar memahami kehidupan secara utuh. Di dalam keluargalah seorang anak pertama kali mengenal nilai kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, empati, dan kemampuan menerima kenyataan hidup dengan bijaksana. Maka, kedua orang tua mestilah memiliki pengetahuan dan kecakapan dalam menanamkan nilai-nilai tersebut kepada anak-anak mereka.
Dalam tradisi pendidikan klasik maupun modern, kedua orang tua sering disebut sebagai guru pertama dan utama bagi anak. Melalui sikap, perilaku, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, orang tua menanamkan nilai-nilai yang membentuk cara pandang anak terhadap kehidupan. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi penting bagi anak untuk tidak mudah terjebak dalam ilusi perbandingan sosial.
Ketika orang tua mampu menanamkan pemahaman bahwa kehidupan tidak selalu harus dibandingkan dengan orang lain, anak akan tumbuh dengan konsep diri yang lebih kuat. Ia tidak mudah merasa rendah diri ataupun iri dengki ketika melihat keberhasilan orang lain, tetapi justru mampu memaknainya sebagai inspirasi untuk terus berkembang. Sebaliknya, tanpa pendampingan keluarga yang kuat, anak-anak dan remaja sangat rentan menjadikan standar kebahagiaan yang dibentuk oleh media sosial sebagai ukuran kehidupan mereka.
Oleh karena itu, peran orang tua pada masa kini tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga membangun ketahanan mental dan literasi digital mereka. Orang tua perlu hadir sebagai pendamping yang membantu anak memahami bahwa apa yang terlihat di media sosial tidak selalu menggambarkan kenyataan yang utuh. Melalui dialog yang terbuka, keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, serta penanaman nilai kesederhanaan dan penghargaan terhadap proses, keluarga dapat membantu anak membangun perspektif yang lebih sehat tentang keberhasilan dan kebahagiaan.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat, reflektif, dan penuh nilai akan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengelola emosi, menghindari kecemburuan sosial, serta menghargai perjalanan hidupnya sendiri. Di sinilah keluarga menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan mental generasi muda di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.
Pada akhirnya, Sawang Sinawang mengajarkan pelajaran yang sangat sederhana namun mendalam yaitu setiap orang memiliki jalan dan cara hidup mereka sendiri-sendiri. Pujangga Chairil Anwar dalam bai puisinya menyebutkan “Nasib adalah kesunyian masing-masing”. Apa yang terlihat tidak pernah sepenuhnya menggambarkan kenyataan. Setiap manusia memiliki cerita yang berbeda, perjalanan yang berbeda, dan tantangan yang berbeda.
Memahami Sawang Sinawang bukan berarti menutup mata terhadap keberhasilan orang lain, apalagi menolak kemajuan teknologi. Justru sebaliknya, falsafah ini mengajarkan kemampuan untuk melihat kehidupan dengan lebih jernih melihat orang lain dengan empati, melihat diri sendiri dengan kejujuran, dan melihat realitas dengan ketenangan, keseimbangan dan kemampuan menerima kenyataan hidup, meskipun merasakannya lebih berat daripada sekadar mengucapkannya.
Di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, mungkin kita memang perlu sesekali berhenti sejenak. Meletakkan gawai, menarik napas, dan mengingat kembali kebijaksanaan yang diwariskan para leluhur bahwa apa yang tampak di depan mata tidak selalu mencerminkan keseluruhan cerita kehidupan. Kita perlu mengingat satu hal sederhana bahwa seringkali orang hanya melihat halaman depan rumah orang lain. Namun, tidak pernah benar-benar tahu apa yang tersimpan di dalam kamar-kamarnya, sehingga memang kadang rumput tetangga terlihat lebih hijau.*