Tanpa Pulau Legenda, Pariwisata Maninjau Kurang ‘Sairih Sabulango’

Rabu, 03/02/2016 16:43 WIB
Pulau Legenda di tengah Danau Maninjau

Pulau Legenda di tengah Danau Maninjau

Agam, sumbarsatu.com—Maninjau sejak dahulu kala sudah menjadi tempat rekreasi. Para petinggi kolonial Belanda, bersama keluarga, dulu menjadikan kawasan Maninjau sebagai tempat bersenang-senang, selain Puncak Lawang.

Bahkan, di sebuah pulau kecil, tidak begitu jauh ari terowongan PLTA Maninjau sekarang, dibangun tempat bersenang-senang bagi para petinggi kolonial belanda,bersama keluarganya, seperti diceritakan para sesepuh Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Rabu (3/2/2016).

“Bahkan di zaman penjajahan jepang, di pulau tersebut juga dibangun rumah tempat para petinggi penjajah Jepang bersenang-senang pada akhir pekan,” ujar pemuka setempat, N. Dt. Palimo.

Kemudian, di era kemerdekaan, pulau tersebut bagai tak tersentuh. Barulah ketika pembangunan PLTA Maninjau, ada pihak yang membangun tempat peristirahatan di pulau, yang kini dikenal sebagai Pulau Lagenda.

Seusai pekerjaan pembangunan PLTA Maninjau, pulau itu kembali merimba. Tidak ada yang tergerak untuk mengelolanya.

Akhirnya, seorang putra daerah Tanjung Raya, Sabri, berniat mengelola pulau tersebut menjadi sebuah objek wisata. Ia menggarap pulau tersebut, di bawah ketidak-setujuan para ninik mamak setempat. Namun ketidaksetujuan para ninik mamak tersebut, tidak mematahkan semangat Sabri. Ia malah semakin bersemangat mengelola pulau itu menjadi sebuah objek wisata laik jual.

Berbagai fasilitas pun dibangun. Sebuah bangunan restoran, dermaga berikut kapal motor, dan fasilitas lainnya,merupakan bukti kuat keseriusan Sabri membangun kampung halamannya.

Dalam perbincangan dengan para wartawan kala itu, Sabri memaparkan rencananya. Dari pulau ke daratan akan dibangun jembatan penghubung. Dua buah pulau, yang berdekatan dengan Pulau Lagenda, akan disatukan dengan bangunan jembatan. Di pulau itu akan dibangun ruang pertemuan, yang mampu menampung acara-acara yang diadakan Pemkab Agam dan pihak lainnya.

Di antara tiga pulau itu akan dijadikan area rekreasi, seperti kolam renang keluarga, dan arena pancing. Sabri nekad menggarap pulau tersebut, walau ninik mamak nagari Koto Malintang keberatan.

Ia berkeyakinan, pada akhirnya pemuka masyarakat, termasuk ninik mamak Nagari Koto Malintang akan menyetujui pekerjaan,yang akan menghabiskan dana miliaran rupiah: Pulau itu pun diberi nama, dengan ‘Pulau Legenda.’

Namun, amat disayangkan, Sabri meninggal dunia sebelum pekerjaannya selesai. Bengkalainya ternyata tidak ada yang melanjutkan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Agam, Hadi Suryadi, SH, kini berniat ‘mambangkik batang tarandam.’ Ia berharap, Pulau Lagenda, tidak hanya tinggal sebagai legenda, tetapi menjadi objek wisata andalan, tandem Taman Muko-Muko.

‘Kami melihat keberadaan Pulau Lagenda bisa saling mendukung dengan Taman Muko-Muko. Makanya kami berniat ‘menghidupkan’ kembali wisata Pulau Lagenda. Kami berharap segenap elemen masyarakat di Nagari Koto Malintang, umumnya Tanjung Raya mendukung niat kami tersebut,” ujarnya, Rabu (3/2/2016).

Langkah awal, Hadi akan memasang plang nama Pulau Lagenda, dengan ukuran 2 x 10 meter, yang terlihat dari pinggir jalan raya Lubuk Basung-Bukittinggi.

“Bila saja pemuka masyarakat pemilik ulayat Pulau Lagenda, mau menyerahkannya kepada Pemkab Agam, maka pembangunan pulau itu akan semakin cepat terwujud,” ujarnya pula.

Ketika dikelola Sabri (alm), jumlah kunjungan wisatawan ke pulau itu, dan Taman Muko-Muko, sangat ramai, terutama pada hari libur, dan paling ramai pada hari raya.

Namun,sepeninggal Sabri, kunjungan wisatawan ke Taman Muko-Muko melorot. Salah satu penyebabnya, Pulau Lagenda tidak lagi berfungsi sebagai objek wisata.

Pengamat Pariwisata, D. St. Mudo bahkan menilai, tanpa Pulau Lagenda, pariwisata Maninjau ‘kurang sairih sabulango.’ (MSM)

 

Lebaran

BACA JUGA