-
Mengusung tema Tribute untuk Sang Maestro Ery Mefri, festival ini menjadi penghormatan terhadap perjalanan artistik koreografer Minangkabau tersebut sekaligus upaya melanjutkan ruang pertemuan seni yang dirintisnya.
Festival yang mendapat dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation itu berlangsung pada 1–2 November 2026, mulai pukul 20.00 hingga selesai. Selain pertunjukan tari, agenda tahun ini juga menghadirkan sesi “Bincang Sang Maestro Ery Mefri”, dengan pemantik Hendra Makmur dan Nasrul Azwar, keduanya jurnalis dan penulis, serta Yeyen Kiram sebagai moderator.
Menurut Angga Mefri, Direktur Festival, rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari perayaan seni yang mempertemukan seniman, gagasan, dan pengalaman kreatif lintas wilayah.
"Program bincang-bincang juga membuka ruang untuk menelusuri perjalanan maestro Ery Mefri dalam membangun Nan Jombang Dance Company dan mengembangkan tari kontemporer yang berakar pada tradisi Minangkabau," kata Angga Mefri, Senin (19/10/2026).
Empat penampil yang dijadwalkan mengisi hari pertama adalah Rio Mefri dari Padang, Kurniadi Ilham dari Paninggahan, Kabupaten Solok, serta Norisham Osman dan Muhd Sharul Mohd dari Singapura. Pertemuan seniman dari Indonesia dan Singapura tersebut memperlihatkan jangkauan KABA Festival yang tidak berhenti pada presentasi karya, tetapi juga membuka ruang dialog melalui bahasa tubuh dan koreografi.
KABA Festival: Panggung dan Ruang Pertukaran Gagasan
KABA Festival memiliki perjalanan panjang dalam ekosistem seni pertunjukan Sumatera Barat. Akar penyelenggaraannya dapat ditelusuri ke Galanggang Tari Sumatera yang dimulai pada 1988, kemudian berganti nama menjadi Padang Bagalanggang pada 2000. Sejak 2014, agenda tersebut dikenal sebagai KABA Festival yang diselenggarakan Nan Jombang Dance Company setiap tahun tanpa jeda.
Perubahan nama itu menandai perkembangan sebuah ruang berkesenian yang dibangun melalui kerja mandiri, konsistensi produksi, dan upaya membuka kesempatan bagi seniman untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik yang lebih luas.
Perjalanan tersebut terlihat jelas dalam penyelenggaraan selama tiga tahun terakhir. Pada 2023, kegiatan di Ladang Tari Nan Jombang tidak hanya berpusat pada pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari peringatan 40 tahun perjalanan kreatif Ery Mefri. Selama 1–3 November 2023, Nan Jombang menyelenggarakan rangkaian acara yang mencakup peresmian Museum Tari Ery Mefri, pemutaran video kilas balik, peluncuran buku 40 Tahun Ery Mefri Berkarya, serta pertunjukan Salam Tubuh pada Bumi.
Pada 2 November 2023, KABA Festival menghadirkan Syaiful Erman, Boby Ari Setiawan, dan Arullsha. Rangkaian kegiatan berlanjut pada 3 November melalui Festival Nan Jombang yang menampilkan randai dan persembahan seniman untuk perjalanan empat dekade Ery Mefri. Rangkaian ini memperlihatkan hubungan antara penciptaan karya, dokumentasi perjalanan seni, dan upaya menjaga kesinambungan pengetahuan antargenerasi. (Forum Sumbar, 30 Oktober 2023).
Memasuki 2024, KABA Festival kembali digelar pada 1–2 November dengan pendekatan lintas disiplin yang mempertemukan musik dan tari kontemporer. Pada malam pembukaan, Aga Alamsyah dari Kawai Music Studio Padang membawakan komposisi piano Beautiful Paradise.
Program berikutnya menghadirkan Ritual Gubang, karya Ruki Daryudi dari Tankcer Dance Studio, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang terinspirasi kesenian tradisi Kabupaten Anambas. Seniman Iing Sayuti dari Indramayu, Jawa Barat, turut tampil melalui karya tari kontemporer Table.
Program KABA Festival 2024 tidak berhenti pada pertunjukan malam. Pada 2 November, penyelenggara mengadakan lokakarya dan diskusi tari di Sanggar Seni Cahayo Bundo, Sawahan, Padang, dengan Ruki Daryudi dan Iing Sayuti sebagai pemateri.
Malam harinya, agenda dilanjutkan dengan Dialog Tari bersama Ery Mefri di Gedung Manti Menuik. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa festival memberi ruang bagi penonton dan seniman untuk tidak hanya menyaksikan karya, tetapi juga membicarakan proses penciptaan dan sumber artistiknya.
Perkembangan lebih luas terlihat pada 2025 ketika KABA Festival X dirancang berlangsung dari Januari hingga Juni yang menjadi program strategis dari Kementerian Kebudayaan. Ery Mefri dan Direktur Festival Angga Mefri menjelaskan bahwa program tahun itu meliputi pertunjukan tari kontemporer, seni tradisi, lokakarya, seminar, diskusi kelompok terarah, serta bedah dan peluncuran buku Retrospeksi: Galanggang Tari Sumatera-Padang Bagalanggang-KABA Festival (1988-2025).
Program tersebut juga memperluas keterlibatan seniman dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat, sekaligus menghadirkan kelompok tari kontemporer dari Taiwan. KABA Festival Nan Balega menjadi salah satu program yang menempatkan seni tradisi daerah sebagai bagian dari agenda festival.
Sementara itu, rangkaian Nan Maurak Alek pada 25–28 April 2025 menghadirkan pertunjukan kontemporer berbasis tradisi dari berbagai daerah di Indonesia dan Singapura.
Karya Asok dari Tungku oleh Nan Jombang Dance Company membuka rangkaian Nan Maurak Alek pada 25 April 2025. Selama empat hari, program tersebut menghadirkan seniman dan kelompok dari Sumatera Barat, Yogyakarta, Solo, Banyumas, serta Singapura.
Pada malam penutupan, 28 April, tampil antara lain Mila Rosinta melalui Rikma, Razan Wirjosandjojo dengan Soft Square, Muhd Sharul Mohd melalui Memento Mori: Apa yang Tertinggal, serta Rianto dengan Sastra Jiwangga. Keberagaman karya tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman personal, tubuh, ingatan, dan sumber tradisi dapat diterjemahkan ke dalam bahasa tari kontemporer yang berbeda-beda.
Rangkaian panjang KABA Festival X ditutup pada 23 Juni 2025 dengan peluncuran dan bedah dua buku, yakni Salam Tubuh pada Bumi: Perjalanan 40 Tahun Karya Ery Mefri, karya Hendra Makmur, dan Retrospeksi: Gelanggang Tari Sumatera–Padang Bagalanggang–KABA Festival (1988–2025), yang dieditori Nasrul Azwar dan Hermawan.
Penutupan tersebut sekaligus menjadi perayaan ulang tahun Ery Mefri yang ke-67. KABA Festival X memperoleh dukungan Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana dan LPDP.
Masih pada 2025, pemberitaan sumbarsatu.com pada 30 Oktober mencatat KABA Festival XI sebagai agenda berikutnya pada 1–2 November. Edisi ini menghadirkan empat tubuh dalam satu panggung melalui karya yang membicarakan hubungan antargenerasi, cinta, warisan, dan ingatan.
Salah satu karya pembukanya, The Next, mempertemukan Rio Mefri dan putrinya, Hawa Mefri, dalam refleksi hubungan ayah dan anak melalui gerak. Program pendampingnya meliputi Art Therapy bersama Dangau Studio, lokakarya tari, serta kegiatan komunitas.
Rangkaian 2023–2025 tersebut menunjukkan bahwa KABA Festival terus berkembang, baik dalam durasi penyelenggaraan maupun ragam program. Festival tidak hanya memberi kesempatan kepada koreografer untuk menampilkan karya, tetapi juga menyediakan ruang bagi lokakarya, diskusi, dokumentasi, penerbitan buku, seni tradisi, dan pertemuan lintas negara.
Perkembangan ini menjadi konteks penting bagi penyelenggaraan 2026, ketika keberlanjutan ruang kreatif tersebut berhadapan dengan kehilangan sosok yang merintisnya.
KABA Festival XII: Tribute untuk Sang Maestro Ery Mefri
Ery Mefri meninggal dunia pada Rabu, 11 Februari 2026, di Padang. Kepergian koreografer yang lahir di Saniangbaka, Kabupaten Solok, pada 23 Juni 1958 itu meninggalkan warisan artistik sekaligus pekerjaan kebudayaan yang belum selesai: menjaga ruang bagi seniman untuk terus mencipta, bertemu, dan mengembangkan pengetahuan pertunjukan.
Ery mulai menekuni seni pertunjukan sejak awal 1980-an dan mendirikan Nan Jombang Dance Company pada 1983. Ia mengolah unsur tari tradisional Minangkabau menjadi karya kontemporer dengan pencarian gerak dan bunyi yang khas. Dalam sejumlah karyanya, bunyi tidak semata-mata bergantung pada instrumen musik, tetapi dibentuk melalui suara, tepukan, hentakan, dan tubuh penari.
Konsistensi tersebut membawa Nan Jombang tampil di berbagai forum seni pertunjukan internasional. Ery juga membangun ruang berkesenian di Padang melalui kegiatan rutin dan festival, dengan keyakinan bahwa kesempatan bagi seniman tidak selalu harus menunggu tersedia dari luar.
KABA Festival menjadi salah satu bentuk nyata dari gagasan tersebut: sebuah panggung yang dibangun untuk mempertemukan seniman, memperlihatkan karya, dan memperluas jaringan pertunjukan.
Pada 2008, Ery menerima penghargaan Tuah Sakato dari Gubernur Sumatera Barat. Pada 2016, ia memperoleh Anugerah Kebudayaan kategori Pencipta, Pelopor, dan Pembaharu dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penghargaan tersebut melengkapi perjalanan panjangnya dalam mengembangkan tari kontemporer yang tetap berpijak pada tradisi Minangkabau.
KABA Festival 2026 menghadirkan penghormatan itu melalui pertunjukan dan percakapan. Kehadiran Rio Mefri dan Kurniadi Ilham dari Sumatera Barat, serta Norisham Osman dan Muhd Sharul Mohd dari Singapura, menempatkan panggung festival dalam pertemuan pengalaman artistik yang beragam.
Sementara itu, sesi Bincang Sang Maestro Ery Mefri membuka kesempatan untuk menelusuri kembali pemikiran, proses kreatif, dan kontribusinya bagi perkembangan seni pertunjukan.
Penghormatan (tribute) terhadap Ery Mefri tidak hanya terletak pada penyebutan namanya dalam tema festival, tetapi juga pada keberlanjutan ruang yang telah dibangunnya.
Riwayat KABA Festival dalam tiga tahun terakhir memperlihatkan bahwa ruang tersebut telah berkembang dari perhelatan pertunjukan menjadi ekosistem yang menghubungkan penciptaan, pendidikan, dokumentasi, diskusi, dan jejaring internasional. ssc/mn