Mengusung tema Art, Folklore and Ecology atau seni, folklor, dan ekologi, FKI XIII menghadirkan pertunjukan karya unggulan, pameran, seminar, lokakarya, temu maestro, serta berbagai cabang perlombaan seni. Pertunjukan karya unggulan dijadwalkan berlangsung setiap malam dan terbuka bagi masyarakat umum secara gratis.
Direktur FKI XIII, Dr. Yusril, S.S., M.Sn., mengatakan festival tersebut merupakan agenda Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI) yang diselenggarakan secara bergiliran oleh perguruan tinggi seni di Indonesia.
“ISI Padang Panjang semula dijadwalkan menjadi tuan rumah pada 2025. Namun, pelaksanaannya diundur menjadi 2026 menyusul kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat,” kata Yusril, Senin (19/10/2026).
Menurut Yusril, pertunjukan karya unggulan menjadi salah satu agenda utama yang menampilkan karya-karya pilihan dari perguruan tinggi seni peserta. Melalui agenda tersebut, masyarakat dapat menyaksikan perkembangan penciptaan seni di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia.
Sementara itu, Rektor ISI Padang Panjang, Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum., mengatakan FKI XIII menjadi ruang pertemuan seniman, akademisi, mahasiswa, dan pencinta seni dari berbagai daerah di Indonesia serta sejumlah negara lain.
“Tahun ini, festival tersebut diikuti 332 peserta dari sembilan perguruan tinggi seni di Indonesia. Partisipasi internasional juga melibatkan kontingen dari Malaysia, Singapura, Korea, Amerika Serikat, dan Australia,” jelas Febri Yulika.
Keterlibatan peserta lintas kampus dan negara tersebut diharapkan memperluas pertukaran gagasan, mempertemukan pendekatan artistik yang beragam, serta membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan seni kontemporer yang berakar pada tradisi dan merespons persoalan lingkungan.
Melanjutkan Tradisi FKI
FKI merupakan forum nasional yang mempertemukan perguruan tinggi seni melalui pertunjukan, pameran, konferensi, perlombaan, dan pertukaran pengetahuan. Festival ini diselenggarakan secara berkala dua tahunan oleh perguruan tinggi seni yang tergabung dalam BKS-PTSI.
Pada 2018, FKI X diselenggarakan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya pada 7–9 Juli dengan tema Seni, Identitas, dan Realitas. Kegiatannya berlangsung di kampus STKW Surabaya, Amfiteater Taman Candrawilwatikta Pasuruan, Taman Budaya Jawa Timur, serta sejumlah galeri di Surabaya.
Tema tersebut menekankan pentingnya identitas budaya dalam pendidikan dan penciptaan seni, sekaligus mendorong seniman merespons realitas sosial dan budaya kontemporer.
Pada 2021, FKI XI diselenggarakan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung di tengah pandemi Covid-19. Berlangsung secara virtual pada 20–25 Oktober 2021, festival ini mengusung tema Indonesian Art Spirit: Culture Ecosystem & Diversity.
FKI XI melibatkan sembilan perguruan tinggi seni dengan program yang mencakup 16 konferensi, 500 karya eksibisi, 20 karya seni pertunjukan, 20 film dokumenter, dan sekitar 200 seniman. Format virtual menjadi bentuk penyesuaian terhadap pembatasan aktivitas selama pandemi sekaligus menjaga ruang presentasi karya dan pertukaran pengetahuan antarkampus seni.
Dua tahun kemudian, FKI XII berlangsung di ISI Denpasar, Bali, pada 24–27 Oktober 2023. Festival tersebut mengangkat tema Samudra-Rakta-Samasta (Bahari Daya Cipta Seni Kini) dan melibatkan sembilan perguruan tinggi seni Indonesia.
Selain pertunjukan kolaboratif, penyelenggara menghadirkan 11 cabang perlombaan, di antaranya tari kontemporer, musik kontemporer, film pendek, fotografi, poster, monolog, seni lukis, dan art fashion. Pada penutupan festival, bendera BKS-PTSI diserahkan kepada ISI Padang Panjang sebagai simbol penetapan tuan rumah berikutnya.
Rangkaian penyelenggaraan FKI tersebut memperlihatkan keberlanjutan forum kolaborasi perguruan tinggi seni sekaligus perkembangan format presentasi karya, mulai dari pertunjukan langsung hingga penyelenggaraan virtual. Di Padang Panjang, tema folklor dan ekologi menjadi pijakan untuk mempertemukan penciptaan seni dengan tradisi budaya dan persoalan keberlanjutan lingkungan.
Pendanaan dan Antisipasi Kabut Asap
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan ISI Padang Panjang Dr. Susas Rita Loravianti, S.Sn., M.Sn., mengatakan pendanaan kegiatan didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesia Raya.
"Sanggar Sikambang Manih menjadi mitra penyelenggara FKI XIII melalui skema pendanaan tersebut," jelas Susas Rita Loravianti.
Di tengah persiapan festival, panitia mengantisipasi kondisi kabut asap yang berpotensi mengganggu aktivitas peserta dan pengunjung. Susas Rita mengimbau masyarakat dan mahasiswa yang mengikuti kegiatan agar menggunakan masker serta menjaga kesehatan selama festival berlangsung.
Panitia juga menyiapkan sejumlah ruangan sebagai langkah antisipasi apabila kabut asap semakin tebal. Sementara itu, kegiatan arak-arakan yang sebelumnya direncanakan sebagai bagian dari festival dibatalkan untuk mengurangi risiko akibat kondisi udara.
Antisipasi tersebut menjadi bagian penting dari persiapan penyelenggaraan, mengingat FKI XIII melibatkan ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi seni serta kontingen internasional.
"Kondisi lingkungan perlu diperhitungkan agar kegiatan dapat berlangsung dengan tetap memperhatikan kesehatan peserta dan masyarakat," tambah Yusril.
FKI XIII di Padang Panjang diharapkan menjadi ruang apresiasi dan pertukaran gagasan bagi seniman, akademisi, mahasiswa, serta komunitas seni lintas daerah dan negara. ssc/rel