Opera Sitti Nurbaya dipentaskan Komunitas Seni Payung Sumatera dalam tafsir pertunjukan yang sarat emosi pada Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026 di Zona B Gedung Kebudayaan Sumatera Barat, Padang, Rabu (30/9/2026).
Padang, sumbarsatu.com — “Meskipun ragaku hidup, tapi aku akan mati setiap hari, karena kematian adalah ujung dari derita ini.”
Kalimat getir itu menjadi salah satu penanda kuat dalam opera teatrikal Siti Nurbaya yang membelah sunyi panggung, merajut emosi, serta menghidupkan kembali kisah klasik yang tak pernah usai.
Perpaduan seni peran, tarian, dan musik membawa kisah Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli hadir dalam tafsir pertunjukan yang sarat emosi pada Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026 di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat, Padang, Rabu (30/9/2026).
Penonton kemudian dibuat riuh ketika Dendi Chairi yang memerankan Datuak Maringgi tampil dengan karakter keras dan licik. Adegan ketika Datuak Maringgi hendak menyunting Siti Nurbaya sebagai istri keempatnya menjadi salah satu bagian yang mengundang respons kuat dari penonton.
Datuak Maringgi tampil bersama tiga istrinya sebelum konflik cerita bergerak menuju tekanan yang dialami Siti Nurbaya. Karakter tersebut menjadi salah satu pusat konflik dalam pertunjukan yang diproduksi Komunitas Seni Payung Sumatra.
Opera teatrikal tersebut disutradarai Fabio Yuda dengan Venny Rosalina sebagai koreografer dan Robby Ferdian sebagai komposer. Vinna Aulya bertindak sebagai produser, sedangkan Ditta Putri menjadi manajer pertunjukan.
Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat M. Devid mengapresiasi antusiasme penonton terhadap pertunjukan tersebut. Menurutnya, respons penonton memperlihatkan bahwa kisah klasik seperti Siti Nurbaya masih memiliki ruang untuk dihadirkan kembali melalui bentuk seni pertunjukan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
“Reaksi dan histeria penonton malam ini membuktikan bahwa kisah klasik Siti Nurbaya tetap memiliki daya tarik yang sangat kuat jika dikemas secara apik dan emosional,” kata M. Devid di Padang.
Ia mengatakan pertunjukan teatrikal tersebut tidak hanya menghadirkan konflik antartokoh, tetapi juga menyampaikan pesan moral melalui permainan seni peran, koreografi, musik, serta pengolahan suasana panggung.
“Taman Budaya Sumbar akan terus berkomitmen menyediakan ruang kreatif bagi para seniman daerah untuk mengemas karya sastra legendaris Minangkabau ke dalam bentuk pertunjukan modern yang komunikatif dengan generasi muda,” ujarnya.
Sementara itu, sutradara Fabio Yuda mengatakan pertunjukan yang dibawakan Komunitas Seni Payung Sumatra tetap berpijak pada alur cerita Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli. Namun, kisah tersebut dikemas kembali melalui estetika gerak teater modern.
Menurut Fabio, pendekatan tersebut memungkinkan konflik dan penderitaan tokoh tidak hanya dibangun melalui dialog, tetapi juga melalui gerak tubuh, ekspresi, koreografi, musik, dan interaksi antarpemain.
Dalam pertunjukan itu, Putri Monika memerankan Siti Nurbaya, sedangkan Leryano Wardana memainkan Samsul Bahri. Dendi Chairi tampil sebagai Datuak Maringgi, Denny Setiandi sebagai Sulaiman, dan Maharani Laila sebagai Ibu Siti.
Tiga istri Datuak Maringgi masing-masing diperankan Indri Handayani sebagai Istri 1, Oca Eri sebagai Istri 2, dan Dwi Meiditta sebagai Istri 3.
Pertemuan Siti Nurbaya dengan Datuak Maringgi menjadi titik penting dalam perkembangan konflik. Hasrat Datuak Maringgi untuk menjadikan Siti Nurbaya sebagai istrinya berhadapan dengan hubungan Siti Nurbaya dan Samsul Bahri.
Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi pergulatan batin Siti Nurbaya. Penderitaan, tekanan, cinta, dan kehendak kekuasaan dipertemukan melalui permainan para pemeran dan bahasa tubuh yang menjadi bagian penting dari pertunjukan.
Koreografi Venny Rosalina dan musik Robby Ferdian memperkuat perubahan suasana dalam setiap adegan. Gerak tubuh dan musik tidak sekadar menjadi unsur pendukung, tetapi ikut membangun ketegangan dan emosi yang mengiringi perjalanan tokoh-tokohnya.
Pementasan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana karya sastra yang telah berusia lebih dari satu abad dapat dibaca kembali melalui medium teater. Sitti Nurbaya tidak sekadar dipindahkan dari halaman novel ke panggung, tetapi ditafsirkan melalui tubuh pemain, musik, gerak, dan komposisi visual pertunjukan.
Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai merupakan novel karya Marah Rusli yang pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada 1922. Kisah Siti Nurbaya, Samsul Bahri, dan Datuak Maringgi kemudian menjadi salah satu karya sastra yang terus hadir dalam ingatan masyarakat Indonesia dan mendapat berbagai tafsir dalam medium seni.
Lebih dari seabad setelah pertama kali diterbitkan, konflik dalam novel tersebut masih menawarkan persoalan yang dapat dibaca melalui konteks pertunjukan masa kini. Relasi cinta, keluarga, kehendak, dan tekanan sosial menjadi sumber dramatik yang kembali diolah dalam opera teatrikal tersebut.
Penampilan opera Siti Nurbaya menjadi salah satu pertunjukan pada hari ketiga PKD Saraso Fest 2026. Rangkaian pertunjukan hari itu juga menghadirkan Tari Indang Tigo Sandiang dari Sanggar Bisati, Padang Pariaman, gamad dari Perkumpulan Gamad Melayu Kumbang Janti, Turuk Lagai dari Maileppet Mentawai, komposisi musik Soundenai karya Rofi Rahmatullah, Tari Piring Balenggek dari Sanggar Patah Tumbuah Hilang Baganti, Sawahlunto, dan penampilan Sofie Anastasya.
PKD Saraso Fest 2026 berlangsung di Taman Budaya Sumatera Barat pada 28 September hingga 3 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan kesenian dari 10 kabupaten dan kota di Sumatera Barat sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat.
Saraso Fest 2026 mengusung tema “Menghidupkan Rasa, Menajamkan Makna, Mengasah Talenta Muda”. Selain pertunjukan seni, kegiatan tersebut juga menghadirkan ruang bagi pelaku seni, komunitas, dan generasi muda untuk menampilkan karya serta mengembangkan kreativitas kebudayaan. ssc/mn