Tagak Gala Marapulai Menjadi Bunyi, Rianda Putra Hadirkan TA_GA di Saraso Fest

Jum'at, 02/10/2026 14:42 WIB

 

Padang, sumbarsatu.com— Pepatah Minangkabau “ketek dibari namo, gadang dibari gala” tidak hanya menjadi ungkapan tentang perubahan status seorang laki-laki ketika dewasa.

Bagi komposer muda Rianda Putra, pepatah itu menjadi titik berangkat untuk menerjemahkan prosesi Tagak Gala Marapulai ke dalam bahasa musik kontemporer.

Gagasan tersebut hadir melalui komposisi musik TA_GA, yang dipentaskan Rianda Putra dalam program Soundenai atau Parade Komposer Muda pada Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatera Barat, Saraso Fest 2026, Kamis (1/10/2026) malam di Taman Budaya Sumatera Barat, Padang.

TA_GA terinspirasi dari tradisi Tagak Gala Marapulai yang berkembang di Pauh, Kota Padang. Karya ini tidak mereproduksi seluruh prosesi adat ke atas panggung, tetapi mengolah suasana, nilai, dan unsur musikal yang melekat pada tradisi tersebut menjadi sebuah komposisi musik.

Rianda Putra merupakan komposer muda yang merupakan alumni SMK 7 Padang dan ISI Padangpanjang. Ketertarikannya pada tradisi lokal kemudian dipertemukan dengan eksplorasi musik digital dalam karya TA_GA.

“Malewakan gala namanya, Bang. Mungkin di tiap daerah ada yang berbeda-beda prosesi dan kebetulan saya sumbernya dari Pauh. Di sana ada pertunjukan tarinya, ada silek, ada tari kain juga,” kata Rianda Putra seusai pementasan.

Menurut Rianda, tradisi Tagak Gala memiliki berbagai bentuk prosesi yang dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Karena itu, sumber penciptaan TA_GA secara khusus berpijak pada pengalaman dan pengamatan terhadap prosesi Tagak Gala Marapulai di Pauh.

Dari Pepatah Menjadi Bunyi

Pemberian gala dalam masyarakat Minangkabau memiliki kaitan dengan perubahan status sosial seorang laki-laki yang telah dewasa. Ungkapan “ketek dibari namo, gadang dibari gala” atau “ketika kecil diberi nama, ketika dewasa diberi gelar” dikenal dalam berbagai konteks adat Minangkabau.

Sejumlah sumber kebudayaan juga mencatat pemberian gelar adat kepada laki-laki dewasa sebagai bagian dari proses memasuki kehidupan berumah tangga.

Dalam konteks Tagak Gala Marapulai, gala tidak sekadar menjadi sebutan baru. Gelar menjadi penanda kedewasaan sekaligus identitas sosial dalam lingkungan adat dan keluarga.

Tradisi itu juga memiliki unsur pertunjukan. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mencatat bahwa Tari Kain berkembang di Pauh dan dipertunjukkan dalam acara Tagak Gala Marapulai. Tarian tersebut menggunakan kain pemberian bako dan berkaitan dengan simbol kedewasaan marapulai. 

Bagi Rianda, berbagai unsur tersebut menjadi sumber gagasan musikal. Suasana prosesi, silek, tari kain, serta bunyi-bunyi tradisi tidak dipindahkan secara utuh, tetapi diolah menjadi materi komposisi.

Ia mengatakan masih banyak anak muda yang tidak mengenal secara detail prosesi adat tersebut. Karena itu, musik menjadi salah satu cara yang digunakannya untuk memperkenalkan kembali tradisi kepada generasi yang lebih muda.

“Ini untuk mengembangkan musik tradisional ke digital. Pasar dan sasarannya kepada musisi, musisi budaya, dan musisi pangkalannya sendiri, bagaimana untuk mengenalkan musik kita sendiri,” katanya.

Ketika Musik Minang Bertemu Teknologi Digital

Kekuatan TA_GA terletak pada pertemuan antara instrumen tradisional Minangkabau dan perangkat musik modern.

Warna etnik Minangkabau hadir melalui saluang dan bansi, petikan kecapi, serta pukulan talempong dan bansi punggul. Instrumen-instrumen tersebut menjadi fondasi bunyi yang merujuk pada lingkungan musikal tradisi.

Di atas fondasi itu, Rianda memasukkan gitar elektrik dan gitar bas. Teknologi bunyi digital kemudian digunakan untuk membentuk lapisan atmosfer dan memperluas kemungkinan tekstur musikal.

Perpaduan tersebut membuat TA_GA tidak berhenti pada reproduksi musik tradisi. Bunyi tradisional ditempatkan dalam ruang musikal baru yang mempertemukan instrumen akustik, elektrik, dan teknologi digital.

Pendekatan tersebut juga terlihat pada cara Rianda memperlakukan narasi Tagak Gala. Syair dan suasana prosesi tidak disampaikan secara literal sebagai sebuah cerita, melainkan diterjemahkan melalui motif melodi, dinamika, ritme, dan tekstur bunyi.

Perubahan status dari bujang menuju marapulai yang telah memiliki gala kemudian dibaca melalui perubahan karakter musik. Suasana yang lebih lirih dan khusyuk bergerak menuju bunyi yang lebih tegak dan kuat.

Musik dalam TA_GA, karena itu, tidak hanya berfungsi sebagai pengiring sebuah cerita adat. Musik menjadi medium untuk membaca kembali sebuah pengalaman budaya.

Soundenai dan Ruang bagi Komposer Muda

Pementasan TA_GA menjadi bagian dari program Soundenai atau Parade Komposer Muda dalam Saraso Fest 2026. Program tersebut memberikan ruang bagi komposer muda untuk mengolah sumber-sumber tradisi ke dalam bentuk musik yang lebih kontemporer.

Dalam rangkaian Soundenai, setiap hari festival menghadirkan satu karya. Pada 28 September, tampil Musik Tari Piriang Buah Dama karya Fajri Ananda yang memadukan talempong pacik dengan efek suara dan elemen elektronik. Sehari berikutnya,

Dimas Hidayatullah menghadirkan Pauh in Resonance yang mengolah repertoar Saluang Pauh “Pado-Pado” melalui sampling, looping, delay, reverb, dan filtering.

Pada 30 September, Rofi Rahmatullah melalui karya RASA membawa refleksi musikal terhadap bencana alam Sumatera Barat pada Desember 2025. Setelah TA_GA karya Rianda Putra pada 1 Oktober, rangkaian Soundenai dilanjutkan dengan Jajak Limpapeh karya Fadhil Asy’ari pada 2 Oktober.

Posisi TA_GA dalam rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa tradisi tidak hanya hadir dalam bentuk pertunjukan yang diwariskan, tetapi juga menjadi bahan penciptaan bagi komposer generasi muda.

Tradisi di Tengah Saraso Fest

TA_GA dipentaskan dalam rangkaian PKD Saraso Fest 2026 yang berlangsung di Taman Budaya Sumatera Barat pada 28 September hingga 3 Oktober 2026. Festival tersebut menghadirkan kesenian dari 10 kabupaten/kota di Sumatera Barat dan menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat yang diperingati pada 1 Oktober.

Saraso Fest 2026 mengangkat tema “Menghidupkan Rasa, Menajamkan Makna, Mengasah Talenta Muda.” Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat Ahmad Zakri menyebut festival tersebut dirancang sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengenal, merawat, dan mengembangkan kebudayaan daerah.

Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat M. Devid mengatakan kegiatan tersebut berlangsung selama enam hari dan diarahkan untuk menjadikan Taman Budaya sebagai “etalase hidup” sekaligus “bengkel kreatif” bagi kebudayaan Minangkabau dan etnis lainnya. Festival juga diarahkan untuk memperkuat pelestarian tradisi, pengembangan talenta muda, ekonomi kreatif, serta kolaborasi budaya.

Konteks tersebut membuat TA_GA tidak berdiri sendiri. Karya Rianda berada dalam satu rangkaian festival yang mempertemukan kesenian tradisi dari berbagai daerah dengan karya-karya baru yang diciptakan generasi muda.

Jika pertunjukan tradisi memperlihatkan bagaimana sebuah warisan budaya terus dipraktikkan, karya seperti TA_GA memperlihatkan kemungkinan lain: tradisi dapat menjadi bahan untuk menciptakan bentuk musikal baru.

Tagak Gala dalam Bunyi Baru

TA_GA digarap melalui proses latihan sekitar satu bulan bersama para pemain. Waktu tersebut digunakan Rianda untuk mengolah sumber tradisi sekaligus menemukan bentuk musikal yang sesuai dengan gagasan karya.

Hasilnya bukan sebuah pertunjukan Tagak Gala dalam pengertian prosesi adat yang dipindahkan ke atas panggung. TA_GA merupakan tafsir musikal atas pengalaman budaya yang berada di balik prosesi tersebut.

Silek, tari kain, bunyi instrumen tradisional, pepatah adat, dan suasana pemberian gala menjadi sumber yang kemudian dipertemukan dengan gitar elektrik serta teknologi digital.

Cara itu membuat Tagak Gala tidak hanya hadir sebagai ingatan tentang sebuah upacara adat. Ia masuk ke ruang musik kontemporer dan menjadi bahan eksplorasi bagi komposer muda.

Di panggung Saraso Fest 2026, ketek dibari namo, gadang dibari gala akhirnya tidak hanya terdengar sebagai pepatah. Rianda Putra mencoba mengubahnya menjadi bunyi—sebuah komposisi yang membaca kedewasaan, identitas, dan tanggung jawab sosial melalui bahasa musik yang bergerak antara tradisi Minangkabau dan teknologi digital. ssc/mn

 



BACA JUGA