Bukan Sekadar Melahirkan Penulis, Cagak Sastra Dorong Regenerasi Pembaca di Padang

Senin, 28/09/2026 07:42 WIB

Padang, sumbarsatu.com — Regenerasi sastra tidak cukup hanya dengan melahirkan penulis baru. Sastra juga membutuhkan pembaca yang terus tumbuh, ruang untuk mempertemukan karya dengan pembacanya, serta kesempatan bagi generasi muda untuk membaca, menafsirkan, mempertanyakan, dan membicarakan kembali karya sastra.

Gagasan itulah yang menjadi salah satu perhatian utama Cagak Sastra yang digelar Yayasan Cagak Inti Kultura bekerja sama dengan Direktorat Pengembangan Budaya Digital Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia selama dua hari, Sabtu-Minggu, 26–27 September 2026, di Padang, Sumatera Barat.

Mengusung tema “Regenerasi Pembaca Sastra: Pembentukan Komunitas, Pertunjukan, Orasi, serta Diskusi Sastra”, kegiatan tersebut mempertemukan sekitar 180 peserta yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, penulis, sastrawan, pegiat budaya, dan masyarakat umum. Kegiatan berlangsung di Sanggar Kilau Aksara, kawasan Kota Tua, dan Gunung Padang.

Ketua Pendiri Yayasan Cagak Inti Kultura, Yusrizal KW, mengatakan Cagak Sastra tidak dimaksudkan sebagai ruang untuk mempertahankan panggung generasi yang lebih tua, melainkan membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk masuk, berkarya, dan mengambil bagian dalam kehidupan sastra.

“Cagak Sastra adalah upaya untuk tidak berebut panggung dengan anak muda,” kata Yusrizal KW dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, sastra dapat menjadi ruang bersama untuk saling mendukung sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupan literasi. Karena itu, pertemuan antara pembaca, penulis, sastrawan, akademisi, dan komunitas menjadi penting agar sastra tidak berhenti sebagai teks yang tersimpan di rak buku.

Bincang Dua Buku

Rangkaian Cagak Sastra dibuka pada Sabtu (26/9/2026) melalui Bincang Buku yang membahas novel Tersesat Setelah Terlahir Kembali karya Yoga Zen dan buku puisi Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan karya Heru Joni Putra.

Novel Yoga Zen merupakan pemenang pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023 dan diterbitkan Marjin Kiri. Novel setebal 170 halaman itu mengambil latar tanah matrilineal di pedalaman Sumatra dan mengisahkan seorang lelaki asing yang berhadapan dengan tradisi maskulin berburu babi, gegar budaya, mitos, obsesi, serta peristiwa pembantaian masa lalu.

Novel tersebut juga menjadi objek kajian akademik. Penelitian yang terbit pada 2026, misalnya, secara khusus membahas konstruksi maskulinitas dalam novel tersebut melalui perspektif Raewyn Connell dan menemukan sejumlah aspek yang berkaitan dengan tubuh, relasi lembut-kuat, pengetahuan, ruang domestik dan nondomestik, serta relasi gender dan politik. 

Dalam Bincang Buku, Bunga Suci Pertiwi, jurnalis budaya dan naratolog, membahas novel Yoga Zen dengan menyoroti persoalan maskulinitas, budaya Minangkabau, identitas, serta hubungan antartokoh.

Anggi Oktvia, salah seorang peserta yang merespons pembacaan Bunga Suci Pertiwi, mengaku sependapat mengenai isu maskulinitas dalam novel tersebut. Namun, ia melihat ada lapisan lain yang menurutnya justru lebih menonjol, yakni persoalan filsafat dan psikologi, terutama pengalaman eksistensial tokoh Aku.

Anggi menilai pengalaman tokoh "Aku" memperlihatkan unsur absurditas dan persoalan eksistensial yang lebih dominan dibandingkan posisi tokoh Leman yang sebelumnya dibicarakan sebagai salah satu penggerak cerita.

Perbedaan pembacaan itu memperlihatkan bagaimana sebuah novel dapat membuka ruang tafsir yang tidak tunggal. Pembaca tidak hanya menerima cerita, tetapi juga dapat memperdebatkan posisi tokoh, gagasan, latar budaya, hingga cara pengarang membangun pengalaman batin tokoh.

Sementara itu, Dr. Ivan Adilla membahas perubahan warna kepenyairan Heru Joni Putra dalam buku Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan. Pembacaan Ivan mencakup pengalaman spiritual, lingkungan, persoalan sosial, dan renungan diri.

Ivan melihat setidaknya tiga tema utama dalam buku puisi tersebut, yakni persoalan lingkungan dan kepedulian sosial, renungan diri, serta pengalaman spiritual. Puisi-puisi naratif Heru, menurutnya, terasa semakin terbuka karena menghadirkan pengalaman dan kesaksian spiritual tanpa memberikan kesimpulan tunggal kepada pembaca.

"Ruang tafsir justru dibiarkan terbuka. Pembaca diberi kesempatan untuk menyusun sendiri pemaknaan berdasarkan pengalaman ketika berhadapan dengan puisi. Narasi yang ringkas, efektif, dan menghadirkan kejutan menjadi bagian dari cara Heru membangun hubungan dengan pembacanya," urai Ivan Adilla, pengajar di Fakultas Iimu Budaya ini.

Pembacaan terhadap buku Heru Joni Putra juga telah mendapat perhatian melalui tulisan-tulisan kritik sastra yang melihat buku tersebut dari persoalan sosial, ideologi, dan keterasingan manusia. Salah satu esai yang terbit pada Agustus 2026, misalnya, membaca buku itu melalui konsep rububiyah dan retakan ideologi. 

Orasi Sastra

Setelah Bincang Buku, Cagak Sastra dilanjutkan dengan Orasi Sastra yang menghadirkan sastrawan Gus tf Sakai. Ia mengangkat persoalan “Disrupsi dan Distraksi dalam Sastra”, terutama perubahan pola konsumsi informasi dan perkembangan sastra di ruang digital.

Perubahan teknologi, menurut Gus tf Sakai, tidak hanya mengubah cara orang memperoleh informasi, tetapi juga memengaruhi cara membaca. Dalam situasi tersebut, kemampuan membaca secara mendalam, membangun kedalaman emosi, dan menggunakan imajinasi menjadi persoalan penting bagi kehidupan sastra.

“Kembalilah menulis dengan benar!” menjadi salah satu seruan Gus tf Sakai dalam orasi tersebut. Ia juga mengingatkan pentingnya mempertahankan aktivitas membaca dan menulis di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial.

Pesan itu menempatkan persoalan regenerasi pembaca dalam konteks yang lebih luas. Tantangan sastra bukan hanya bagaimana karya baru diproduksi, tetapi bagaimana pembaca tetap memiliki waktu, perhatian, dan kemampuan untuk berhadapan secara serius dengan teks di tengah arus informasi digital yang semakin cepat.

Telusur Setting Novel Sitti Nurbaya

Rangkaian kegiatan berlanjut pada Minggu (27/9/2026) melalui program “Menelusuri Setting Novel Sitti Nurbaya”. Sebanyak 56 pelajar dan mahasiswa mengikuti perjalanan literasi dengan mengunjungi sejumlah lokasi yang berkaitan dengan lanskap cerita Sitti Nurbaya, antara lain Alang Laweh, Pasa Mudiak, Pasa Gadang, kawasan Kota Tua, dan Gunung Padang.

Menelusuri Setting Novel Sitti Nurbaya.

Kegiatan tersebut membawa peserta keluar dari ruang diskusi untuk mempertemukan teks dengan ruang yang menjadi bagian dari ingatan sastra Kota Padang. Peserta tidak hanya diajak mendatangi lokasi, tetapi juga membaca kembali bagian-bagian novel yang berhubungan dengan ruang tersebut.

Pilihan Sitti Nurbaya sebagai objek telusur juga memperlihatkan bagaimana sebuah karya fiksi dapat membentuk ingatan kolektif sebuah kota. Novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada 1922. Data Badan Bahasa mencatat novel tersebut telah mencapai cetakan ke-44 hingga 2008. 

Kajian dari Universitas Andalas juga mencatat kuatnya hubungan novel tersebut dengan lanskap Kota Padang. Gunung Padang dan kawasan yang kini dikenal dengan Jembatan Sitti Nurbaya menjadi bagian dari ruang yang terus dikaitkan masyarakat dengan cerita Marah Rusli. 

Dalam perjalanan Cagak Sastra, hubungan antara fiksi dan realitas kota itu menjadi bahan pembicaraan tersendiri. Jembatan dan makam yang kini dikenal dengan nama Sitti Nurbaya merupakan bagian dari perkembangan ingatan dan penamaan ruang di kemudian hari, bukan bukti bahwa tokoh Sitti Nurbaya merupakan tokoh sejarah atau legenda tradisional.

Jembatan Sitti Nurbaya sendiri merupakan jembatan sepanjang sekitar 156 meter yang membentang di atas Batang Arau dan menghubungkan pusat Kota Padang dengan kawasan Seberang Padang. Jembatan tersebut dibangun sejak 1995 dan penggunaannya diresmikan pada 2002. Penamaannya merujuk pada tokoh dalam novel Marah Rusli dan lokasinya menjadi akses menuju kawasan Gunung Padang. 

Fenomena itu memperlihatkan bagaimana karya fiksi dapat bergerak melampaui halaman buku. Cerita yang diciptakan seorang pengarang kemudian memengaruhi cara masyarakat memberi nama ruang, membangun daya tarik wisata, dan membentuk ingatan kultural terhadap sebuah kota.

Diskusi Sastra Zaman Perang

Dari Sitti Nurbaya, Cagak Sastra kemudian bergerak menuju sejarah sastra melalui “Diskusi Sastra Zaman Perang”. Sejarawan Deddy Arsya menjelaskan bahwa sastra zaman perang yang dibicarakan dalam forum tersebut terutama merujuk pada karya-karya yang berkembang pada periode Angkatan 45, sekitar masa revolusi kemerdekaan.

Menurut Deddy, periode tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan sastra Indonesia modern. Angkatan 45 memperlihatkan perubahan dari tradisi kepengarangan sebelumnya sekaligus melahirkan karya-karya yang berhubungan dengan pengalaman sosial, psikologis, dan suasana zaman kemerdekaan.

Deddy juga menyoroti satu hal yang menarik dalam karya sastra periode tersebut. Puisi yang lahir pada masa perang tidak selalu berbicara secara langsung mengenai peperangan. Sejumlah karya justru lebih banyak menghadirkan kondisi mental, pikiran, pengalaman personal, cinta, dan pergulatan batin.

Chairil Anwar, misalnya, tidak selalu berbicara tentang perang secara langsung dalam puisinya. Pengalaman personal dan pergulatan batin justru menjadi bagian penting dari kepenyairannya. Pembacaan terhadap karya-karya Angkatan 45 karena itu tidak cukup hanya ditempatkan dalam konteks sejarah perang, tetapi juga perlu melihat bagaimana penyair merespons situasi tersebut melalui pengalaman individual.

Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin merupakan tiga tokoh penting dalam lingkungan Gelanggang Seniman Merdeka yang berdiri di Jakarta pada 1946. Ensiklopedia Sastra Indonesia Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat ketiganya sebagai penggagas perkumpulan tersebut. Ruang “Gelanggang” menjadi tempat para seniman menyampaikan gagasan dan cita-cita kebudayaan, sementara Surat Kepercayaan Gelanggang kemudian menjadi salah satu pernyataan penting dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. 

Dengan demikian, pembicaraan mengenai sastra zaman perang dalam Cagak Sastra tidak berhenti pada daftar pengarang atau karya. Diskusi diarahkan pada pertanyaan mengenai bagaimana sastra merekam perubahan zaman, bagaimana pengalaman perang masuk ke dalam kesadaran pengarang, dan bagaimana karya yang lahir dalam periode tertentu tetap dibaca oleh generasi berikutnya.

Rangkaian apresiasi Cagak Sastra juga dilengkapi pertunjukan seni berupa pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan monolog yang mengangkat tokoh perjuangan Khatib Sulaiman. Pertunjukan ditempatkan di antara sesi kegiatan sebagai bagian dari pengalaman apresiasi sastra, bukan sekadar hiburan.

Posisi pertunjukan tersebut sekaligus memperluas cara peserta mengalami sastra. Teks tidak hanya dibaca dan didiskusikan, tetapi juga diperdengarkan, dipentaskan, dan dihadirkan melalui tubuh serta suara. Dengan cara itu, sastra ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman budaya yang dapat berlangsung di ruang kelas, ruang komunitas, ruang kota, maupun ruang pertunjukan.

Cagak Sastra kemudian diarahkan pada pembentukan komunitas muda pembaca sastra. Komunitas tersebut diharapkan menjadi ruang berkelanjutan bagi pelajar, mahasiswa, penulis, pegiat sastra, dan masyarakat untuk membaca, berdiskusi, bertukar gagasan, serta mengembangkan kegiatan literasi.

Ketua Pelaksana Cagak Sastra, Ria Febrina, mengatakan regenerasi sastra tidak hanya berkaitan dengan munculnya penulis baru, tetapi juga dengan keberadaan pembaca.

“Sastra membutuhkan pembaca agar karya terus dibaca, ditafsirkan, dibicarakan, dan diwariskan,” kata Ria.

Karena itu, Cagak Sastra tidak ditempatkan sebagai kegiatan yang selesai setelah dua hari pelaksanaan. Pembentukan komunitas pembaca menjadi bagian penting dari rangkaian tersebut, dengan harapan ruang perjumpaan antara pembaca, penulis, sastrawan, dan masyarakat dapat terus berkembang di Kota Padang.

Bagi Cagak Inti Kultura, persoalan regenerasi sastra pada akhirnya bukan semata-mata tentang siapa yang akan menjadi sastrawan berikutnya. Persoalannya juga menyangkut siapa yang akan membaca karya mereka, ruang apa yang tersedia untuk membicarakannya, dan bagaimana sastra tetap memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat.

Cagak Sastra mencoba membuka ruang itu melalui pertemuan antara buku, orasi, sejarah, perjalanan kota, pertunjukan, dan pembentukan komunitas. Sastra tidak hanya diposisikan sebagai teks yang dibaca, tetapi sebagai pengalaman yang dapat mempertemukan generasi, ruang, ingatan, dan gagasan. ssc/rel



BACA JUGA