Warih Bajawek Buka Panggung PKD-Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumbar

Selasa, 29/09/2026 10:26 WIB

Padang, sumbarsatu.com — Kolaborasi komposisi musik tradisi dan modern Komunitas Parewa Limo Suku melalui karya komposisi Warih Bajawek membuka panggung Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatera Barat—Saraso Fest 2026 di Zona B Lantai Dasar Gedung Kebudayaan Sumatera Barat, Senin malam (28/9/2026).

Komunitas Parewa Limo Suku yang dipimpin Imun Krisman tampil di hadapan sekitar seribuan penonton yang memenuhi kawasan pertunjukan. Komposisi Warih Bajawek berdurasi sekitar 20 menit menghadirkan warna tradisi Minangkabau yang dipadukan dengan eksplorasi musik modern.

Kelompok yang berdiri sejak 1997 tersebut mengolah bunyi-bunyian dan dendang tradisi Minangkabau dalam kemasan pertunjukan yang menempatkan musik sebagai kekuatan utama. 

Kucapi yang dimainkan Imun Krisman serasa (saraso) lain di tengah suasana Zona B Gedung Kebudayaan Sumatera Barat yang belum sepenuhnya difungsikan sebagai gedung pertunjukan itu. Kendati demikian, publik yang hadir tetap menikmati suasana “magis” yang dibangun melalui komposisi musik yang sarat makna tersebut.

 

Setelah penampilan Parewa Limo Suku, panggung beralih pada sastra tutur monologistis Tupai Janjang dari Nagari Tigo Koto Silungkang, Palembayan, Kabupaten Agam.

Kehadiran Tupai Janjang membawa penonton pada ingatan terhadap tradisi sandiwara kampung yang pernah menjadi bagian dari hiburan masyarakat nagari di Sumatera Barat, terutama pada momentum Lebaran.

Panggung Saraso Fest kemudian menghadirkan Talempong Uwaik-uwaik dari Nagari Paninjauan, Kabupaten Agam. Kesenian tersebut menjadi salah satu kesenian tradisi yang ditampilkan dalam rangkaian pembukaan PKD Saraso Fest 2026.

Selain kesenian dari Agam, malam pembukaan juga menampilkan Tari Adok dan Tari Tupai Janjang dari Kabupaten Solok, Komposisi Musik Soundenai karya Fajri Ananda, serta Darak Badarak dari Kota Pariaman.

PKD Sumatera Barat- Saraso Fest 2026 dipusatkan di kawasan Gedung Kebudayaan Sumatera Barat, dibuka Gubernur  Provinsi Sumatera Barat melalui Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Ahmad Zakri.

Ahmad Zakri mengatakan Saraso Fest digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat yang diperingati pada 1 Oktober 2026. Festival tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menghidupkan kembali seni tradisi yang mulai jarang ditampilkan.

“Kegiatan ini digelar dalam rangka memeriahkan hari jadi Sumatera Barat ke-81 yang menghadirkan 10 kabupaten. Kita berharap seni tradisi yang mulai dilupakan kini dihidupkan kembali,” kata Ahmad Zakri saat pembukaan Saraso Fest, Senin (28/9/2026).

Menurut Zakri, Sumatera Barat memiliki kekayaan budaya yang terdapat di masing-masing daerah, baik dalam bentuk seni tradisi, kuliner maupun berbagai ekspresi budaya lainnya. Kekayaan tersebut perlu dilestarikan agar tidak hilang seiring perubahan zaman.

“Bisa kita bayangkan, masing-masing daerah kita memiliki keunikan kebudayaan, baik tradisi, kuliner, dan lainnya. Ini harus kita lestarikan dan kita jaga. Jangan sampai satu per satu menjadi hilang. Dulu kita bisa menyaksikan seni tradisi, namun sekarang mungkin sudah jarang terjadi,” ujarnya.

Ia mengatakan pelestarian kebudayaan tidak semata-mata berkaitan dengan pertunjukan atau hiburan. Tradisi dan budaya juga memiliki fungsi edukasi serta pembentukan karakter bagi generasi muda.

Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, mengatakan Saraso Fest 2026 berlangsung selama enam hari, mulai 28 September hingga 3 Oktober 2026. Sejumlah kegiatan pendukung festival juga telah berlangsung dalam rangkaian program selama September hingga Oktober.

Devid menjelaskan Saraso Fest 2026 menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik BOP Taman Budaya dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Presentasi Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

“Kegiatan ini bertujuan menjadikan UPTD Taman Budaya Sumatera Barat sebagai ‘etalase hidup’ dan ‘bengkel kreatif’ guna menjaga warisan budaya Minangkabau dan etnis lainnya agar tetap relevan dengan zaman,” jelas Devid.

Menurut Devid, terdapat sejumlah tujuan strategis dalam penyelenggaraan Saraso Fest, antara lain pelestarian nilai tradisi dan penguatan identitas budaya daerah di tengah modernisasi, pembinaan bakat seni dan pengembangan kreativitas generasi muda, serta penggerakan ekonomi kreatif melalui keterlibatan UMKM dan bazar kerajinan.

Selain itu, Saraso Fest diarahkan menjadi ruang kolaborasi dan diplomasi budaya lintas daerah hingga tingkat internasional.

“Tujuan dari Saraso Fest ini adalah pelestarian akan nilai-nilai tradisi dan penguatan identitas budaya daerah. Lalu halnya dalam pembinaan bakat seni dan pengembangan kreativitas generasi muda kita,” kata Devid.

Menurutnya, penyelenggaraan Saraso Fest juga memberikan ruang bagi pelaku ekonomi kreatif. Masyarakat yang datang tidak hanya dapat menyaksikan pertunjukan seni, tetapi juga menikmati sajian kuliner dan melihat berbagai produk kerajinan yang ditampilkan UMKM di kawasan kegiatan.

“Dan yang paling terpenting adalah menjadi ruang kolaborasi dan diplomasi budaya nasional dan internasional. Semoga kegiatan ini bermanfaat, dan kebudayaan kita akan terus tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat,” ujarnya.

Rangkaian pertunjukan Saraso Fest 2026 selanjutnya menghadirkan berbagai kesenian tradisi dari sejumlah daerah di Sumatera Barat dan Kepulauan Mentawai.

Talempong Uwaik-uwaik dan Tupai Janjang merupakan seni tradisi dari Agam yang  telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI).

Selain pertunjukan seni, rangkaian Saraso Fest juga memberikan ruang bagi kreativitas generasi muda melalui program komposisi musik dan berbagai kegiatan seni lainnya. Festival ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan kebudayaan dalam menyambut Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat serta Hari Kebudayaan yang diperingati pada 17 Oktober 2026. ssc/mn



BACA JUGA