PDI Perjuangan dan Talago Buni Hidupkan Gagasan Kebangsaan Bung Hatta lewat Orasi Musikal

124 TAHUN BUNG HATTA

Senin, 31/08/2026 09:50 WIB
124 Tahun Bung Hatta.PDI Perjuangan-Komunitas Talago Buni menyajikan pertunjukan ”Naratif Musikal Membaca Bung Hatta Membaca Ulang Perjalanan Kebangsaan Minangkabau” di Halaman Kantor PDI Perjuangan Padang, Minggu (30/8/2-26) lalu. Foto Padek

124 Tahun Bung Hatta.PDI Perjuangan-Komunitas Talago Buni menyajikan pertunjukan ”Naratif Musikal Membaca Bung Hatta Membaca Ulang Perjalanan Kebangsaan Minangkabau” di Halaman Kantor PDI Perjuangan Padang, Minggu (30/8/2-26) lalu. Foto Padek

Padang, sumbarsatu.com — Musik, dendang, narasi, puisi,  dan rekaman sejarah berpadu di halaman Kantor PDI Perjuangan Padang, Minggu (30/8/2026) malam yang ditampilkan oratif. Ratusan masyarakat antusias menikmati rangkaian acara yang penuh sejarah itu.

Malam itu bukan sekadar pertunjukan untuk mengenang seorang Proklamator, suguhan oratif-naratif-musikal Membaca Bung Hatta: Membaca Ulang Perjalanan Kebangsaan Minangkabau mengajak penonton menelusuri kembali gagasan kebangsaan yang tumbuh dari rahim kebudayaan Minangkabau.

Pertunjukan yang digagas Komunitas Talago Buni bersama PDI Perjuangan dan didukung Yayasan Hatta itu menjadi bagian dari peringatan 124 tahun kelahiran Mohammad Hatta atau Bung Hatta. Penyusunan narasi sekaligus penyutradaraan dipercayakan kepada budayawan nasional Edy Utama.

Di tangan Edy, perjalanan hidup Bung Hatta tidak semata-mata diperlakukan sebagai kisah seorang tokoh politik. Sosok Hatta dibaca melalui lingkungan sosial dan kebudayaan yang membentuk cara berpikirnya, terutama nilai-nilai Minangkabau seperti demokrasi, kebersamaan, egalitarianisme, musyawarah, serta tradisi merantau yang melahirkan pengalaman intelektual.

Gagasan itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa pertunjukan. Narasi tidak berdiri sendiri, tetapi diramu bersama orasi musikal dan dendang, sementara layar visual menghadirkan foto, video, dan dokumen sejarah yang mengikuti perkembangan cerita.

Edy Utama mengatakan pertunjukan tersebut berangkat dari upaya memperlihatkan konsep sosial, cara berpikir, dan pandangan orang Minangkabau terhadap dunia, kemudian menempatkan Bung Hatta dalam konteks tersebut.

“Bung Hatta adalah satu tipikal yang paling mewakili konsep intelektual kecendekiawanan Minangkabau itu. Dia adalah seorang tokoh intelektual yang gelisah, yang selalu mencari dan menawarkan perubahan. Tetapi juga sangat kukuh dengan pendirian dan kebenaran yang ia yakini,” tuturnya malam itu.

Karena itu, musik dalam pertunjukan tidak ditempatkan sekadar sebagai pengiring. Dendang dan orasi musikal menjadi bagian dari cara pertunjukan menyampaikan gagasan. Musik menjadi medium untuk membawa penonton dari satu lapisan cerita ke lapisan berikutnya, mulai dari kebudayaan Minangkabau, tradisi merantau, kelahiran para intelektual, perjalanan Bung Hatta, hingga kegelisahan terhadap kondisi kebangsaan hari ini.

Dwitunggal dan Pelajaran Kepemimpinan

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, putri bungsu Bung Hatta sekaligus Ketua Yayasan Hatta, Halida Hatta, turut hadir dan menyampaikan pidato kebudayaan.

Kehadiran Halida mempertemukan ingatan keluarga dengan pembacaan kebudayaan yang dilakukan para seniman. Dalam pidatonya, ia antara lain menyinggung kepemimpinan dwi tunggal Soekarno-Hatta.

Menurut Halida, kekuatan kepemimpinan keduanya terletak pada kepercayaan terhadap kapasitas masing-masing. Soekarno dan Hatta tidak hadir dengan karakter yang sama, tetapi justru saling melengkapi.

“Yang satu punya kharisma dan satunya lagi punya kedalaman dalam mengatur tata kelola, dan dalam strategi bagaimana supaya tidak berkonflik, tetapi cita-cita tercapai satu demi satu,” tukasnya.

Pesan tersebut menjadi relevan dengan gagasan besar pertunjukan tentang bagaimana perbedaan gagasan tidak selalu harus berakhir pada perpecahan.

Ketua PDI Perjuangan Sumatera Barat Alex Indra Lukman melihat persoalan tersebut penting untuk dibicarakan kembali dalam kehidupan masyarakat sekarang.

Menurutnya, Indonesia saat ini membutuhkan kembali semangat kebersamaan di tengah perbedaan prinsip dan gagasan.

“Mudah-mudahan acara ini bisa jadi pemicu untuk kemudian nilai-nilai demokrasi, nilai-nilai musyawarah, nilai-nilai perbedaan itu bisa tumbuh di Sumbar dan umumnya di seluruh Indonesia,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Sejarah DPP PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, menyoroti peran penting partai politik bagi masyarakat. "Partai politik tidak boleh hanya berfungsi sebagai mesin elektoral lima tahunan. Sebaliknya, partai memiliki tanggung jawab moral sebagai lembaga publik untuk memberikan pendidikan sejarah dan memajukan kebudayaan," tegas Bonnie.

Lebih lanjut, Bonnie menjelaskan bahwa kegiatan yang rutin diperingati oleh PDIP ini berakar dari spirit kedekatan hubungan dwitunggal antara Soekarno dan Hatta. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memahami kembali sejarah kedua tokoh proklamator tersebut secara objektif dan mendalam.

"Kita harus melihat peran Bung Karno dan Bung Hatta secara proporsional sebagai dua tokoh dengan kapasitas berbeda, namun saling melengkapi demi terwujudnya cita-cita kemerdekaan bangsa," ungkap Bonnie merefleksikan kembali makna historis dari semangat dwitunggal tersebut.

Sementara itu, Wali Kota Padang Fadly Amran mengatakan masyarakat Sumatera Barat memiliki kebanggaan tersendiri karena Bung Hatta lahir di daerah tersebut. Menurutnya, lingkungan budaya yang melahirkan Hatta juga merupakan ekosistem yang telah melahirkan banyak pemimpin bangsa.

“Tentu lahir dengan lingkungan budaya dan juga ekosistem yang banyak melahirkan pemimpin-pemimpin hebat. Jadi sudah sepatutnya kita mempelajari, bagaimana dan apa-apa saja yang sudah beliau-beliau lalui sehingga bisa kita implementasikan pada hari ini,” ujarnya.

Memperpanjang Usia Pertunjukan

Peringatan 124 tahun kelahiran Bung Hatta tersebut juga tidak berhenti pada satu malam pertunjukan. Produksi kegiatan diarahkan untuk menghasilkan dokumentasi yang dapat memperpanjang usia gagasan yang dibawa ke panggung.

Rencananya, produksi tersebut menghasilkan satu video dokumenter, 10 video pendek untuk disebarluaskan melalui media sosial, serta katalog pascaacara yang memuat narasi dan dokumentasi foto kegiatan.

Dengan cara itu, pertunjukan tidak hanya meninggalkan pengalaman bagi penonton yang hadir secara langsung. Narasi mengenai Bung Hatta dan perjalanan kebangsaan Minangkabau dapat terus beredar melalui berbagai medium.

Pada akhirnya, Membaca Bung Hatta: Membaca Ulang Perjalanan Kebangsaan Minangkabau bukan sekadar pertunjukan tentang masa lalu. Musik, dendang, narasi dan arsip sejarah digunakan untuk membuka percakapan tentang masa kini.

Di dalamnya ada upaya mengingat kembali bahwa gagasan kebangsaan pernah tumbuh dari tradisi yang menghargai perbedaan, musyawarah, keterbukaan dan perjalanan intelektual.

Dan melalui panggung seni, warisan tersebut kembali diajukan kepada generasi sekarang untuk dipikirkan: apakah nilai-nilai itu masih menjadi bagian dari kehidupan bangsa, atau justru mulai ditinggalkanssc/mn



BACA JUGA