Dari Maileppet, Sinuruk Mattaoi Hadirkan Festival Sagu, Seni, dan Budaya Mentawai

Minggu, 06/09/2026 08:40 WIB

Maileppet, Kepulauan Mentawai— Dari sebuah desa di selatan Pulau Siberut, masyarakat Maileppet selama enam hari membuka ruang bagi seni, budaya, pangan lokal, dan kreativitas generasi muda melalui Musinuruk Ka Simaeruk #3 – Festival Ka Pusagaikat 2026.

Digagas Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia, festival yang berlangsung pada 24–29 Agustus 2026 tersebut tidak sekadar menjadi perayaan kebudayaan.

Festival ini juga menjadi ruang pertemuan masyarakat sekaligus upaya memperkenalkan kembali pengetahuan dan praktik budaya Mentawai kepada generasi muda.

Mengangkat tema “Ka Pusagaikat” atau bersagu, festival menjadikan sagu sebagai salah satu pintu masuk untuk membicarakan kembali hubungan masyarakat Mentawai dengan pangan lokal, alam, tradisi, dan identitas budaya.

Berbagai kegiatan seni dan budaya dikemas dalam bentuk yang dekat dengan masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda. Selama enam hari pelaksanaan, Musinuruk Ka Simaeruk #3 dikunjungi sekitar 1.400 orang.

Pengunjung tidak hanya berasal dari Desa Maileppet, tetapi juga dari berbagai kalangan yang datang untuk melihat pameran, menyaksikan pertunjukan, mengikuti kegiatan edukasi dan lokakarya, menikmati pertunjukan seni, berdiskusi, serta mengapresiasi karya-karya yang ditampilkan selama festival.

Bagi Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia, jumlah kunjungan tersebut menunjukkan bahwa ruang kebudayaan yang dibangun dari masyarakat dan dilaksanakan di desa dapat menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok. Anak-anak, pelajar, seniman, pelaku UMKM, komunitas, dan masyarakat dapat hadir dalam satu ruang untuk mengenal sekaligus mengapresiasi kekayaan budaya Mentawai.

“Festival ini kami bangun dari desa dan untuk masyarakat. Kami ingin menunjukkan bahwa desa juga memiliki ruang untuk menghadirkan kegiatan seni dan budaya yang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi bisa menjadi ruang belajar, ruang bertemu, dan ruang bagi generasi muda untuk mengenal kebudayaannya sendiri,” ujar Srikandi Putri, penggagas Musinuruk Ka Simaeruk.

Regenerasi melalui Seni dan Pengetahuan Budaya

Regenerasi menjadi salah satu hal penting yang terlihat sepanjang pelaksanaan festival. Anak-anak dan remaja tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi turut menjadi bagian dari proses kebudayaan melalui berbagai kegiatan.

Lomba mewarnai bertema budaya Mentawai, lomba teater cerita asal-usul sagu, lomba tari kreasi Pasidereat Sagaik—kegiatan membuat sagu pada zaman dahulu—serta Turuk Laggai menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan mengekspresikan kembali kebudayaan mereka.

Pengetahuan budaya juga diperkenalkan melalui lokakarya Titi (Tato Mentawai) dan lokakarya membuat gelang Mentawai (Letcu). Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk tidak sekadar melihat kebudayaan sebagai sesuatu yang dipertontonkan, tetapi juga mempelajari proses dan pengetahuan yang berada di balik praktik budaya tersebut.

Sementara itu, tema sagu diterjemahkan melalui berbagai kegiatan yang menghubungkan pangan lokal dengan kreativitas masyarakat. Lomba memasak sagu tradisional dengan menu Sagai Sibogjak dan lomba memasak sagu inovatif memperlihatkan bagaimana pengetahuan kuliner dapat diwariskan sekaligus dikembangkan sesuai dengan kreativitas masyarakat masa kini.

Ruang regenerasi budaya juga hadir melalui pameran yang menampilkan karya dan pengetahuan lokal. Melalui ruang pamer tersebut, masyarakat diajak melihat kebudayaan bukan hanya sebagai tradisi yang diwariskan, melainkan sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi yang dapat terus dikembangkan.

Dari Ruang Budaya ke Ekonomi Lokal

Kehadiran festival turut membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan aktivitas ekonomi selama kegiatan berlangsung. Sejumlah pelaku UMKM hadir menjajakan makanan, minuman, serta berbagai produk dan aksesori yang berkaitan dengan budaya Mentawai.

Selama enam hari pelaksanaan, transaksi penjualan UMKM tercatat lebih dari Rp2 juta. Produk yang dijual juga relatif terjangkau bagi pengunjung. Makanan rata-rata dijual mulai dari Rp1.000, minuman sekitar Rp5.000, sedangkan aksesori Mentawai ditawarkan mulai dari Rp5.000.

Meskipun nilai transaksi tersebut masih berada dalam skala komunitas, bagi penyelenggara angka itu menunjukkan bahwa kegiatan kebudayaan juga dapat membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.

Festival menjadi tempat bertemunya produk lokal dengan pengunjung sekaligus memberikan pengalaman kepada pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk mereka kepada khalayak yang lebih luas.

Selain produk UMKM, karya-karya seniman yang dipamerkan selama festival juga mendapat apresiasi melalui penjualan karya. Beberapa karya terjual dengan harga yang disepakati antara seniman dan pembeli.

Hal tersebut menunjukkan bahwa ruang kebudayaan dapat menjadi ruang apresiasi sekaligus membuka peluang bagi seniman untuk memperoleh nilai ekonomi dari karya yang mereka hasilkan.

Bagi komunitas penyelenggara, keberadaan UMKM dan penjualan karya seniman merupakan bagian penting dari ekosistem festival. Seni dan budaya tidak berdiri sendiri, tetapi dapat berhubungan dengan pendidikan, kreativitas, ekonomi lokal, dan pemberdayaan masyarakat.

Festival yang Tumbuh dari Desa

Musinuruk Ka Simaeruk #3 lahir dari semangat komunitas untuk membangun ruang kebudayaan di tengah masyarakat. Pelaksanaannya melibatkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat Desa Maileppet, anak-anak dan pelajar, seniman, komunitas, pelaku UMKM, hingga mitra dan berbagai pihak yang memberikan dukungan.

Kehadiran masyarakat selama enam hari menunjukkan bahwa ruang kebudayaan dapat tumbuh ketika masyarakat diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari proses tersebut. Festival tidak hanya menghadirkan seniman untuk tampil atau masyarakat untuk menonton, tetapi membuka kesempatan bagi berbagai pihak untuk terlibat sesuai dengan perannya masing-masing.

“Yang paling penting dari festival ini bukan hanya berapa banyak kegiatan yang terlaksana, tetapi bagaimana masyarakat ikut merasa memiliki ruang ini. Anak-anak bisa belajar, seniman bisa berkarya, UMKM bisa berjualan, dan masyarakat bisa berkumpul. Dari situ kami berharap kebudayaan tidak hanya dibicarakan, tetapi benar-benar hidup di tengah masyarakat,” ujar Srikandi.

Semangat tersebut menjadi penting di tengah perubahan zaman yang turut memengaruhi cara generasi muda mengenal kebudayaan. Regenerasi tidak cukup hanya dengan menyampaikan pengetahuan tentang budaya, tetapi membutuhkan ruang bagi anak-anak dan generasi muda untuk mengalami, mempraktikkan, mengekspresikan, dan menciptakan sesuatu berdasarkan kebudayaan yang mereka miliki.

Musinuruk Ka Simaeruk #3 mencoba menghadirkan ruang tersebut. Sagu menjadi pintu masuk, seni menjadi medium ekspresi, sedangkan desa menjadi ruang pertemuan.

Dari Maileppet, festival ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari ruang yang dekat dengan masyarakat. Ketika pangan lokal, seni, pengetahuan tradisional, kreativitas anak muda, dan ekonomi masyarakat bertemu dalam satu ruang, festival tidak lagi sekadar menjadi agenda tahunan.

Festival dapat menjadi bagian dari proses regenerasi budaya Mentawai yang tumbuh dari masyarakat sendiri.

Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Musinuruk Ka Simaeruk #3 – Festival Ka Pusagaikat 2026, khususnya masyarakat Desa Maileppet, Indigenous Education Foundation (IEF), Kandui Foundation, Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Radio Republik Indonesia (RRI) Padang, Gurui Kabei (Tato Mentawai), IndonesiAsia (Sablon Baju), Uggla.id (Liputan Suara Rakyat), Komunitas Seni Nan Tumpah, Moile-Moile Travel Mentawai, Ekspedisi Hitam Putih Mentawai, Abang Adek (Convesia Percetakan), Cerita Mentawai (Media Sosial Mentawai), Tatoga Tourism, SINURUK.ID (Media Sosial Mentawai), serta seluruh dinas dan instansi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan.

Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menghadirkan ruang bersama bagi masyarakat untuk merayakan, mengenali, dan menghidupkan kembali kekayaan budaya, pangan lokal, kreativitas, serta potensi ekonomi masyarakat Mentawai.ssc



BACA JUGA